Jakarta – Hanya orang-orang yang mentalnya bermasalah yang bangga menjadi seorang menjilat. Apalagi yang bangga karena punya kompetensi menjilat.
Menjilat, dikutip dari sebuah sumber, memiliki dua makna: makna harfiah, yakni menggerakkan lidah untuk merasakan atau mengumpulkan cairan/makanan; dan makna kiasan, yakni berbuat sesuatu untuk mendapatkan pujian atau keuntungan, sering kali dengan cara yang tidak tulus, seperti mengagungkan atasan.
Dalam arti harfiah, menjilat identik dengan perilaku binatang. Bukan perilaku manusia normal.
Ironisnya, yang bangga menjadi penjilat, bahkan punya kompetensi menjilat adalah bekas juru bicara Presiden Prabowo Subianto yang kini Komisaris Pertamina: Hasan Nasbi!
San, menjilat kok bangga. Situ waras?
Hari-hari ini ucapan Hasan Nasbi yang kontroversial itu memang sedang viral. Katanya, “Yang saya jilat menang dan berkuasa. Yang Anda jilat kalah dan enggak berkuasa. Sekadar jadi penjilat pun Anda kurang konpeten.”
Artinya, pendiri lembaga survei Cyrus Network ini mengakui dirinya merupakan seorang penjilat. Bahkan ia bangga punya kompetensi sebagai penjilat.
Bagaimana bisa seorang pendiri lembaga survei merasa bangga menjadi penjilat? Bukankah itu merupakan pengkhianatan terhadap intelektualisme dan kejujuran yang merupakan nilai-nilai dasar sebuah survei?
Baca : https://fusilatnews.com/hasan-nasbi-jilat-menjilat-reduksi-nilai-moral/
Bagaimana bisa seorang bekas juru bicara Presiden merasa bangga menjadi penjilat? Pantasan saja dia terkena reshuffle. Sebab saat menjadi jubir pun dia banyak melakukan blunder.
Bahkan sebenarnya dia telah dipermalukan Prabowo. Ketika mau mundur, Prabowo menolak. Namun akhirnya dia justru dipecat. Artinya, Prabowo yang memutuskan, bukan Hasan, dan oleh karena itu bekas Komandan Jenderal Kopassus tersebut menang secara moral.
Hasan akhirnya “dibuang” ke Pertamina, sekadar hadiah atau semacam gula-gula supaya tidak merengek apalagi merajuk. Hasan sedang dininabobokkan Prabowo supaya tidak “berontak” usai dipecat. Ada atau tidak ada Hasan Nasbi di Pertamina, tak akan membawa dampak signifikan.
Bagaimana bisa seorang Komisaris Pertamina bangga menjadi penjilat? Komisaris tugasnya adalah mengawasi direksi. Bagaimana dia bisa melakukan pengawasan kalau kompetensinya cuma menjilat?
Sekali lagi, kursi Komisaris Pertamina cuma sekadar hadiah semacam gula-gula bagi anak kecil supaya dia tidak merengek apalagi merajuk atau bahkan mengamuk.
Hal lain juga terbukti: tujuan ia melakukan survei adalah masuk ke lingkaran kekuasaan. Dia seperti makan bubur panas dengan mengambil jalan melingkar. Tidak lewat partai politik. Tapi lembaga surveinya seperti lembaga politik yang tendensius dan pragmatis.
Di barisan ini ada Muhammad Qodari, pendiri lembaga survei Indo Barometer yang kini dipercaya menjadi Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) berkat dukungannya kepada Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden-wakil presiden di Pemilihan Presiden 2024.
Menjelang Pilpres 2024, Qodari memang menggaungkan Prabowo-Jokowi sebagai pasangan capres-cawapres di Pilpres 2024. Namun, Jokowi lebih memilih mengajukan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapresnya Prabowo, daripada dirinya yang memang feodal ini.
Seperti politikus, tujuan akhir kaum intelektual seperti Hasan Nasbi dan M Qodari ternyata juga masuk ke lingkaran kekuasaan. Pragmatis.
Bedanya, jika politikus itu to the point atau langsung, sementara Hasan Nasbi dan M Qodari ibarat makan bubur panas yang dimulai dari tepi dan melingkar, sehingga lama-lama ke tengah piring ketika bubur sudah tidak terlalu panas lagi.
Kue kekuasaan memang menggiurkan, Bro. Wajar bila kemudian ada yang suka menjilat. Bahkan bangga menjadi seorang penjilat. Contohnya: Hasan Nasbi!
Dengan demikian, survei-survei yang selama ini mereka lakukan adalah tendensius dan tidak independen. Dan ini yang tak kalah penting: mengkhianati intelektualisme!
























