Oleh : Jimmy Jeniarto | Dosen
PERALIHAN ke kendaraan listrik yang diupayakan pemerintah Indonesia dikatakan sebagai bagian dari usaha beralih ke teknologi ramah lingkungan, selain mengantisipasi kenaikan harga energi fosil dan peluang bisnis. Termasuk kompor listrik. Manusia (homo sapiens) telah mendiami planet bumi selama sekitar 250.000 tahun, dan hanya butuh sekitar 200 tahun terakhir untuk mengakibatkan perubahan ekosistem bumi secara signifikan. Revolusi industri yang dimulai sekitar 200 tahun lalu, dengan perkembangan sains dan teknologi, telah membawa perubahan besar terkait cara manusia mengolah alam, berpindah tempat, berkomunikasi, dan menghibur diri. Juga berperang, merawat kesehatan, dan menggandakan keturunan. Pertambahan penduduk berarti pula peningkatan aktivitas ekonomi. Pertambahan kebutuhan pangan dan pemukiman.
Juga alih guna lahan untuk penyediaan pangan (pertanian, perkebunan, peternakan) dan penyediaan papan (pemukiman penduduk). Namun, pertumbuhan ekonomi sering berhadapan dengan pelestarian lingkungan. Pembukaan lahan untuk perluasan pemukiman manusia ataupun perluasan lahan pertanian dan perkebunan, selain mengakibatkan hilangnya ekosistem bagi banyak hewan dan tanaman, juga hilangnya banyak pohon penyerap karbon dioksida dan produsen oksigen. Industri peternakan sapi dan kambing, juga pembukaan lahan pertanian, telah melepaskan gas metana ke angkasa, sebagai salah satu Gas Rumah Kaca yang mengurangi kadar oksigen di atmosfer bumi. Sebagai gantinya, daging sintesis (lab-grown meat) disebut-sebut bisa menjadi pangan alternatif ramah lingkungan. Jikapun ada peningkatan konsumsi hewan air laut, maka perburuan besar-besaran untuk keperluan pasar juga berpotensi mengurangi populasi hewan-hewan laut, terutama ikan-ikan besar.
Cara hidup dan gaya hidup, terutama kelas atas dan menengah di perkotaan, yang semakin terotomatisasi dan terelektrifikasi menyebabkan peningkatan kebutuhan energi untuk menggerakkan alat-alat otomatis dan elektris. Alat-alat rumah tangga ataupun perkantoran, semisal kendaraan, televisi, air conditioner, kompor, kulkas, handphone, komputer, dll. Peningkatan kemampuan baca-tulis masyarakat pernah menaikkan kebutuhan kertas, sehingga penebangan pohon-pohon di hutan untuk bahan pembuat kertas juga bertambah. Hari ini, peningkatan literasi digital telah menaikkan kebutuhan listrik. Oleh karena itu, alat-alat elektronik hemat energi terus dikembangkan agar bisa menekan penggunaan energi listrik, misal lampu LED. Selama 200 tahun terakhir ini, revolusi indutri, dengan mesin-mesin produksi dan alat-alat transportasi, digerakkan terutama oleh bahan bakar fosil. Termasuk pembangkit-pembangkit listrik. Selama itu pula, aktivitas manusia telah banyak mengubah ekosistem bumi. Suhu bumi naik, terjadi perubahan iklim. Istilah “perubahan iklim” mengacu pada peristiwa yang disebabkan oleh manusia, bukan oleh sebab-sebab “natural”.
Dampak lingkungan dan dampak sosial menyertai perubahan iklim dan pemanasan global. Naiknya permukaan air laut, sebagai akibat mencairnya es di kutub, mengancam hilangnya pemukiman penduduk dan lahan pertanian di daerah-daerah pesisir. Siklus musim yang tidak menentu berdampak pada terganggunya musim tanam dan panen. Gagal panen di banyak tempat. Kelaparan mengancam terutama penduduk negara-negara miskin dan berkembang. Peristiwa-peristiwa alam, seperti angin besar atau kemarau panjang, menjadi bencana alam ketika mengakibatkan korban manusia. Hujan badai merendam lahan pertanian dan pemukiman penduduk. Memunculkan penyakit-penyakit tropis yang mengganggu kesehatan manusia. Banyak spesies hewan dan tanaman telah punah diakibatkan oleh aktivitas manusia. Namun, pemanasan global dan perubahan iklim dianggap akan mempercepat lebih banyak kepunahan berbagai spesies hewan dan tanaman. Revolusi industri beserta kemajuan sains dan teknologi juga pernah mengintesifikasi kolonialisme. Setelah era kolonial usai, perdagangan internasional didominasi oleh negara-negara maju, melanggengkan ketimpangan global.
Negara-negara maju telah melakukan industrialisasi terlebih dahulu dibanding negara-negara miskin dan berkembang. Mengeksploitasi alam dan memproduksi komoditas untuk pasar. Negara-negara miskin dan berkembang, yang banyak bergantung pada sektor pertanian, berusaha menyusul ketertinggalan, mengejar “kemajuan”. Industrialisasi dilakukan dengan alat-alat yang tidak lebih mutakhir dibanding negara-negara maju. Alat-alat dengan harga yang relatif lebih murah, namun dianggap tidak ramah lingkungan. Menghentikan beroperasinya mesin-mesin industri dan alat-alat transportasi yang dianggap sumber “pencemar” yang dimiliki negara-negara miskin dan berkembang saat ini berarti pula menghentikan ekonomi berbasis industri di negara-negara tersebut. Sementara, perluasan lahan perkebunan dan pertanian sebagai sumber keuangan negara dan ketahanan pangan, juga berhadapan dengan masalah ekologis lainnya: deforestasi, monokultur, gas metana, erosi tanah, dll. Menyumbang pemanasan global dan perubahan iklim. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan peristiwa nyata. Hanya saja, peristiwa nyata ini bisa digunakan oleh para aktor ekonomi untuk memukul kompetitor dengan isu-isu lingkungan. Membangun atmosfer ketakutan sambil mencipta pasar dengan menjajakan dagangan yang diklaim lebih ramah lingkungan. Para aktor ekonomi tersebut bisa berbentuk perusahaan swasta ataupun negara (sebagaimana dalam konsep negara neoliberal).
Persoalan lingkungan juga dianggap memiliki sisi paradigma filosofis dalam kerangka etika lingkungan. Antroposentrisme memandang bahwa manusia terpisah dari alam dan hanya manusia yang memiliki nilai. Alam dianggap sebagai alat bagi manusia. Kritik bagi antroposentrisme menyatakan bahwa justru cara pandang antroposentrisme tersebut memberi justifikasi moral bagi manusia untuk mengeksploitasi alam hingga tanpa batas. Berakibat kerusakan alam. Biosentrisme memperluas subjek moral pada organisme hidup di luar manusia. Sedangkan ekosentrisme memperluas pada seluruh komunitas ekologis hidup ataupun tidak hidup. Akan tetapi, biosentrisme dan ekosentrisme — yang menganggap alam merupakan komunitas moral yang memiliki nilai pada dirinya — bisa terseret ke dalam hipertrofi hak. Ketika hak disematkan pada apa saja di luar manusia, teori hak kemudian bisa kehilangan makna. Ekofeminisme memandang ada dominasi antroposentrisme terhadap alam sebagaimana dominasi androsentrisme terhadap perempuan. Kedua cara pandang tersebut harus didobrak. Namun, ada bahaya ekofeminisme bisa terperosok ke bentuk dominasi lain atas dasar seksisme.
Di dalam satu bumi, apa yang dilakukan di tingkat lokal bisa memengaruhi lingkungan global. Meminjam istilah Henry Shue tentang luxury emission dan subsistence emission, dampak lingkungan dari luxury emission yang dihasilkan oleh gaya hidup masyarakat kelas atas dan negara-negara kaya, juga menerpa kelas bawah dan negara-negara miskin. Sebaliknya, subsistence emission dari kelas bawah dan negara-negara miskin juga menerpa kelas atas dan negara-negara kaya. Namun, dampak sosial dari semua kerusakan lingkungan tersebut memukul kelas bawah dan negara-negara miskin secara lebih keras. Spesies bisa punah, hal biasa. Banyak spesies hewan dan tumbuhan yang pernah ada, saat ini telah punah. Sebagai spesies “sapiens”, manusia tidak luput dari kemungkinan kepunahan tersebut. Untuk menghindari kepunahan, manusia perlu saling bekerja sama. Mempertahankan keberadaannya, dalam etika global yang berkeadilan. Beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, atau merekayasa lingkungan agar bisa dihuni. Atau mungkin meluaskan tempat, melakukan koloni di luar bumi.
Jimmy Jeniarto | Dosen freelance pada mata kuliah Logika dan Etika
Dikutip Kompas.com Sabtu 08 Oktober 2022


























