Oleh: Entang Sastratmadja
Swasembada beras berkelanjutan hanya mungkin terwujud bila sawah tetap sehat. Sawah yang sehat berarti lahan yang optimal untuk pertumbuhan padi dan menghasilkan beras berkualitas. Ada beberapa indikator utama:
- Kesuburan tanah dengan kandungan nutrisi cukup.
- Kualitas air yang memadai dan bebas polusi.
- Kondisi fisik tanah yang stabil, tidak terlalu padat atau gembur.
- Biodiversitas yang kaya, ditandai hadirnya tanaman, hewan, dan mikroorganisme.
- Produktivitas yang tinggi dan berkesinambungan.
Sawah yang sehat adalah jaminan produksi beras, ketersediaan pangan nasional, sekaligus kesejahteraan petani dan masyarakat. Bagi bangsa ini, sawah bukan sekadar lahan: ia adalah investasi kehidupan generasi mendatang.
Bom Waktu dari Pupuk Kimia
Namun, sejak revolusi hijau, sawah kita terus dibombardir pupuk kimia. Produksi memang naik, tapi kesehatan sawah memburuk. Petani enggan beralih ke pupuk organik karena dianggap lambat meningkatkan hasil.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pupuk bersubsidi. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022 menetapkan subsidi hanya untuk Urea dan NPK, dengan komoditas penerima turun dari 70 menjadi 9: padi, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, kakao, tebu, dan kopi.
Tiga di antaranya—kedelai, bawang putih, dan tebu—justru defisit sehingga masih harus diimpor. Pemerintah beralasan subsidi pupuk kimia mutlak diperlukan untuk mendongkrak produksi. Tapi, jika pupuk organik terus diabaikan, kesehatan sawah akan kian rapuh.
Presiden Jokowi akhirnya menugaskan Menteri Pertanian agar pupuk organik juga masuk dalam skema subsidi. Sebuah pengakuan bahwa sawah yang dihantam pupuk kimia tanpa jeda hanya akan menyisakan beban berat bagi generasi penerus.
Ancaman Alih Fungsi Lahan
Selain kesehatan sawah yang kian menurun, ancaman lain adalah alih fungsi lahan. Sawah demi sawah berubah menjadi bandara, pelabuhan, rel kereta cepat, jalan tol, kawasan industri, bahkan perumahan. Banyak pula sawah berpindah dari tangan petani kecil ke “petani berdasi”.
Jika dibiarkan, ruang pertanian makin menyempit. Padahal, menjaga lahan pertanian sama artinya menjaga hidup bangsa. Alih fungsi lahan semestinya diputuskan dengan pertimbangan matang: apakah benar membawa keberkahan, atau justru melahirkan tragedi berkepanjangan?
Butuh Penjaga yang Berintegritas
Karena itu, kita memerlukan “penjaga ruang pertanian” yang berintegritas, tahan godaan, dan berpihak pada petani. Tanpa mereka, ruang pertanian akan terus terkikis oleh kepentingan jangka pendek, dan pangan nasional pun terancam.
Sawah Kita Sedang Sakit
Kini, fakta berbicara: sawah petani sedang sakit. Dulu, untuk 5–6 ton padi per hektar, cukup dengan 250 kg Urea. Sekarang, dosis sama hanya menghasilkan sekitar 3 ton. Artinya, untuk hasil yang sama, petani harus menabur 500 kg Urea per hektar.
Sawah yang makin rakus pupuk adalah sawah yang kehilangan kesehatannya. Jika gejala ini terus dibiarkan, swasembada beras hanya akan jadi ilusi, sementara bangsa ini menghadapi krisis pangan yang nyata.
Sawah adalah napas bangsa. Jika sawah sakit, masa depan kita ikut terengah-engah.
(Penulis, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastratmadja




















