Oleh: Malika Dwi Ana
PBNU, sang penjaga marwah Nahdlatul Ulama yang dulu digadang-gadang sebagai benteng kultural umat, kini seolah jadi pabrik skandal politik yang tak pernah tutup. Bukan hanya dugaan korupsi kuota haji ala Yaqut Cholil Qoumas yang bikin nahdiyin akar rumput geleng-geleng kepala, tapi deretan kasus lain yang membuat Khittah 1926 terasa seperti dongeng lama yang utopis. Umat melihat NU sebagai gerakan sederhana, sarungan, dan berjiwa sosial; tapi elit PBNU? Mereka melihatnya sebagai ladang basah untuk politik praktis, infiltrasi ideologi asing, dan aliran dana misterius. Tak ada asap tanpa api, tapi di sini, asapnya dari vape elitis yang terus menghembuskan aroma cuan. Skandal-skandal politik PBNU lainnya, yang bikin mendiang Gus Dur muak di alam sana:
- Dugaan Infiltrasi Zionisme: Penyusupan “Musuh” yang Bikin Kiai Gerah
Bayangkan, organisasi Islam terbesar di Indonesia dituduh disusupi zionisme – bukan dari luar, tapi dari dalam tubuh PBNU sendiri! Pada September 2025, Kiai Asyhari Abdullah Tamrin, tokoh NU Yogyakarta, secara terbuka menuding adanya “skandal penyusupan zionis” yang meresahkan hingga ke kampung-kampung nahdiyin. Menurutnya, ini bukan isu baru; infiltrasi diduga sudah merayap sejak lama, dengan oknum elit PBNU yang katanya memanfaatkan posisi untuk agenda asing. “Skandal ini tak seharusnya terjadi, bisa diredam karena banyak kiai di PBNU yang semestinya beri warning dari awal,” tegas Kiai Asyhari. Hasilnya? Tekanan untuk Gus Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, mundur semakin kencang. Bahkan, ada desakan muktamar luar biasa untuk ganti kepemimpinan, karena isu ini dicurigai sebagai upaya hancurkan NU dari dalam – mirip bagaimana zionisme katanya main belakang layar untuk pecah umat. Ironis, ya? Saat umat NU sibuk dakwah toleransi, elitnya malah dituduh kolaborasi dengan “musuh” ideologis. Ini politik praktis level tinggi: bukan lagi soal kekuasaan, tapi soal pengkhianatan marwah yang bikin warga nahdiyin bertanya-tanya, “Ini NU atau klub lobi internasional?” Aliran Dana Haram dari PT GAG Nikel: Tambang Raja Ampat Jadi Sumber Cuan Elit
Tak cukup dengan haji, PBNU kini terseret dugaan aliran dana dari PT GAG Nikel, pengelola tambang di Raja Ampat yang kontroversial. Pada September 2025, ramai dibahas bahwa salah satu petinggi PBNU menjabat sebagai komisaris perusahaan ini, dan duitnya diduga mengalir ke organisasi – nyaris tembus Rp1.000 triliun kerugian negara jika kasusnya meledak seperti Pertamina. Tokoh NU seperti Islah Bahrawi bahkan menyebut ini potensi “skandal korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia,” di mana elit PBNU katanya sibuk lempar proposal ke mana-mana untuk dapetin cuan dari proyek tambang yang merusak lingkungan. Bayangkan: saat nahdiyin di pesantren pelosok masih berjuang ekonomi sulit, petinggi PBNU asyik hitung untung dari nikel – alih-alih jaga alam sebagai amanah agama, malah jadi agen kapitalis liar. Ini bukan lagi politik praktis; ini cuanologi yang mengorbankan citra NU demi kantong pribadi. Dan ironinya, kasus ini muncul bersamaan dengan skandal korupsi kuota haji, seolah PBNU punya “paket combo” skandal untuk bikin umatnya pusing.Skandal Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang: Dari SDSB hingga Korupsi Khofifah di Jatim
Jangan kira skandal PBNU baru lahir di era digital. Mundur ke era Gus Dur, PBNU pernah tersangkut aliran dana dari SDSB (judi offline yang dulu legal), di mana sekjen organisasi dikorbankan dan dipecat untuk tutup mulut. Saat itu, duit panas dari judi mengalir ke muktamar NU, tapi akhirnya “diselesaikan” secara internal – klasik ala PBNU: korban kecil yang dikorbankan, sementara elit aman. Lalu, ada kasus Imam Nahrawi yang alirannya ke muktamar NU Jombang, dan rektor UNILA yang duitnya nyemplung ke muktamar NU Lampung. Belum lagi skandal Khofifah Indar Parawansa di Jatim: dukungan terselubung NU Jatim ke dia malah bikin umat NU malu karena Khofifah terseret korupsi, tapi beritanya “hilang” begitu saja – jualan agama demi suara politik, sambil umat dibodohi pengajian kecil-kecilan. Di X (dulu Twitter), warga NU ramai mengeluh: “Rusaknya NU dimulai dari dalam, anak kyai pesantren justru titik awal hancurnya nama NU di mata negara maupun agama.” Perilaku anak-anak petinggi NU yang hedon dan cocodnya semaunya. Kasus si Miftah itu contohnya juga bikin NU pecah. Ini bukti, cuanologi sudah jadi DNA PBNU sejak lama – dari judi offline ke tambang modern, selalu ada oknum yang manfaatkan kebesaran NU untuk kepentingan pribadi.Kontroversi Pansus Haji dan Kolaborasi Politik: Dari Anies-Imin hingga Tuduhan Anti-Pancasila
Tak ketinggalan, PBNU juga terseret politik pilkada dan pilpres. Pada 2023-2024, dukungan NU ke Anies-Imin malah bikin malu karena Imin (Muhaimin Iskandar) dituduh kolaborasi dengan ormas terlarang yang suka “bar-bar” – bahkan Gus Dur dulu dibully mereka. Lalu, kontroversi Pansus Haji DPR yang didorong Cak Imin: Gus Yahya menuduh ini serangan pribadi lewat adiknya Yaqut, tapi kenyataannya malah mengungkap kejanggalan kuota yang bikin PBNU tercoreng. Di tingkat daerah, seperti di Jatim, NU dituduh main tuding ormas Islam lain sebagai “radikal, anti-Pancasila, anti-NKRI” agar dibubarkan – tujuannya? Ya monopoli peran di pemerintahan, tapi begitu dapat jabatan, skandal korupsi meledak. Ini politik praktis banget yang tengah dimainkan, jualan agama untuk suara, tapi akhirnya umat yang kena getahnya.
Sementara komunitas Gusdurian terseok-seok berjuang mengembalikan NU ke akar kulturalnya, PBNU sibuk dengan drama ini. Kyai-kyai seperti Gus Muid dan Imam Baihaqi sudah gerah, minta PBNU tegas dukung KPK usut tuntas – bukan cuma main bantah “hanya oknum,” tapi reformasi total. Jangan sampai Ideologi kalah sama cuanologi. Sudah saatnya nahdiyin bangun: tuntut muktamar luar biasa, ganti elit yang serakah, dan kembalikan NU ke Khittah 1926. Kalau tidak, monyet bisa terbang pun, PBNU tetap jadi pabrik skandal – dan umat yang menderita.(MDA)
Ngawi, 17092025

Oleh: Malika Dwi Ana




















