Prinsip utama dan yang paling penting bagi sebuah Parpol adalah, mencapai esensi tujuan-tujuan partai itu. Ia adalah kekuasaan. Melalui kekuasaan, maka cita-cita ideal (visi dan Program Partai), bisa mulai dilegitimasikan menjadi program negara supaya dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Anies Baswedan menawarkan “Perubahan”. Ini teramat penting, karena menjadi prinsip dasar parallel dengan dilaksanakan Pemilu dan Pipres. Dari Pemilu ke Pemilu adalah kesinambungan yang baik-baiknya, adalah koreksi yang keliru-kelirunya dan sekaligus loncatan-loncatan untuk persoalan-persoalan yang krusial, seperti kemiskinan, stunting, atau ketidak adilan hukum, dst.
Presiden SBY, setuju dengan pikiran-pikiran ideal diatas tersebut. Hal tersebut seperti apa yang beliau tegaskan pada live streaming beberpa waktu yang silam. Tetapi yang beliau keluhkan adalah merasa di telikung, merasa dikhianati dan merasa tertipu, dengan penetapan Cak Imin sebagai wakil presiden Anies Baswedan. Cara-cara Anies Baswedan menetapkan Cak Imin sebagai Bacawapresnya, dinilai tidak terpuji dan bahkan disebut sebagai “penghianatan”.
Dari situasional seperti itu, maka kita bisa melihat dan menilai sikap SBY seperti apa. Terlepas beliau sebagai intelektual, politikus senior, tapi hubungan emosional antara Bapak kepada anak (AHY), larut dalam tutur uraian katanya dengan mengemukakan alasan-alasan yang kemudian dinilai sebagai emosional kekeluargaan tersebut.
Coba kita tengok, bila landasan ideal tersebut diatas (political endeavor), diposisikan sebagai elemen prinsip, lalu Bacawapres adalah elemen teknis saja. Jadi posisi Bacawapres bisa oleh siapa saja, dengan pertimbangan menjadi pemenang. Hanya oleh the winnerlah untuk meraih cita-cita ideal tersebut, akan menjadi program kongkrit.
Seperti yang disinyalir oleh hampir semua elit politik yang sedang berlaga saat ini (regime Jokowi) sudah terterawang, ketika politik kekuasaan itu berubah ke tangan opisisi (PD, PKS dan Nasdem), ada kehawatiran mereka akan masuk kepenjara semua. Ini disampaikan oleh Relawan Jokowi, yang kini menjadi Menteri Kominfo. Tentu saja, untuk meyakini hal tersebut tidak terlalu sulit, ketika kita menyaksikan banyak berbagai penyelewengan-penyelewengan konstitusional dan kriminal (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), yang dilkukan oleh regime Jokowi ini.
Jadi Pemilu dan PilPres adalah ajang perang bubat. Total combat. Antara mati atau hidup. Bagi elit politikus aktif adalah seperti prajurit yang ditugaskan ke medan tempur. Point of no return.
Kalkulasi-kalkulasi bagaimana memenangkan pertempuran Pilpres itu, ada hal yang menarik untuk kita renungkan, yaitu hasil survey yeng menjelaskan bahwa Anies Baswedan unggul di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sementara Ganjar menang telak di jateng. Sementara di Jatim unggul sedikit dari Abies Baswedan.
Kehadiran Cak Imin, tentu saja harus dilihat sebagai upaya perhitungan memenangkan pertarungan itu. Ia memiliki konstituen PKB dan kelompok Nahdiyin yang besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi kalkulasi inilah yang harus disadari oleh AHY yang hanya diunggulkan dalam posisi sebagai Cawapres. Posisi AHY itu tidak identik sebagai funsgi vote getter di grass roots.
Fenomena itulah, yang terjadi juga pada Capres Prabowo dan Capres Ganjar Pranowo, bahwa posisi Cawapres, bukan seperti di Amerika yang hanya sebagai ban serep saja. Tetapi ia lebih diperhitungkab sebagai sumber perolehan/peraih suara dari publik-publiknya yang besar itu. Jadi pertimbangannya disitu. Persis seperti saat SBY merangkul JK, atau saat Jokowi mendepak Mahfud MD dan kemudian menggaet KH Ma’ruf Amin, karena pertimbangan ketokohan dan umatnya yang banyak itu.
Jadi pertanyaan kepada SBY, apakah AHY ingin ditampilkan sebagai Cawapres mendampingi Anies tersebut, akan menjadi Pemenang, atau akan turun dan kalah tanpa Kehormatan?. Atau membiarkan Cak Imin bergerak merangkul dukungan kaum Nahdiyin di Jateng dan Jatim lalu keluar sebagai Pemenang!.
























