Oleh: Entang Sastratmadja
Setelah publik heboh dengan kasus keracunan MBG, kini rakyat kembali diingatkan pada ironi pangan nasional. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menegaskan beras Perum Bulog yang dibagikan tetap “bagus”. Namun, sidak Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), ke Gudang Bulog Tabahawa, Maluku Utara, menemukan 1.200 ton beras tidak layak konsumsi.
Arief menyebut stok Bulog terdiri dari beras lama dan baru. Ia menegaskan, distribusi beras ke masyarakat harus berkualitas. Tapi masyarakat sudah lama mengenal beras Bulog sebagai beras “kelas dua”: pegawai negeri pun lebih senang menukar jatah Bulog dengan uang dan membeli beras lain di pasar atau ritel modern.
Beberapa penyebab citra buruk beras Bulog:
- Sejarah Beras Miskin: Bulog identik dengan Raskin dan Rastra, dianggap hanya untuk kalangan miskin.
- Kualitas Diragukan: Ada laporan beras berkutu, berwarna abu-abu, atau patah-patah.
- Penyimpanan Buruk: Gudang lembab dan sirkulasi udara kurang, menurunkan kualitas beras.
Bulog berusaha memperbaiki citra melalui inovasi produk, pemeriksaan rutin, pengendalian suhu dan kelembaban, serta prinsip “first in, first out” agar stok lama didistribusikan terlebih dahulu.
Program Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pun digencarkan pemerintah untuk menjaga harga dan ketersediaan beras:
- Tujuan: Stabilitas harga, pasokan beras nasional, perlindungan daya beli masyarakat.
- Sumber: Cadangan Beras Pemerintah Bulog dari petani lokal dan impor bila perlu.
- Distribusi: Pasar tradisional, ritel modern, warung Bulog, e-commerce, koperasi desa/kelurahan.
- Harga: HET zona 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, Sulawesi) Agustus 2025: Rp10.900/kg.
- Kualitas dan Kemasan: Medium, patahan maksimal 15%, kemasan 5 kg dengan label resmi Bulog.
- Pengawasan: Maksimal 10 kg per orang, prioritas rumah tangga.
Ironisnya, sidak Komisi IV DPR menemukan beras SPHP berwarna abu-abu dan tidak layak konsumsi, kemungkinan karena:
- Penyimpanan Terlalu Lama: Disimpan sejak Mei 2024.
- Kualitas Awal Rendah: Beras rentan berubah warna dan tekstur.
- Gudang Kurang Terjaga: Paparan kelembaban, suhu tinggi, atau hama.
- Proses Pengolahan Salah: Menurunkan kelayakan konsumsi.
Tindakan Bulog: pengecekan dan konfirmasi oleh Dirut Ahmad Rizal Rhamdani, serta pengolahan ulang agar beras layak konsumsi.
Langkah pencegahan:
- Pengelolaan gudang lebih baik.
- Pengawasan kualitas ketat.
- Distribusi stok lama agar kualitas tetap terjaga.
Ironi terus berlanjut: setelah keracunan MBG, rakyat kini harus waspada dengan beras Bulog. Semoga tindakan ini cukup untuk menjamin pangan rakyat layak konsumsi, bukan sekadar janji di atas kertas.
(Penulis, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastratmadja






















