Oleh : Ali Syarief
Sinyalemen bahwa Megawati mengambil keputusan Ganjar Pranowo sebagai Capres 24 dari PDIP, adalah karena hasil survey, adalah tidak benar!. Sampai detik-detik terakhir, pilihan Mega jatuh pada Ganjar, Ia tidak peduli oleh tekanan hasil Survey. Catatan; “Survey Sayeful Mujani”, selalu mengunggulkan Ganjar sebagai Capres yang paling atas, tak pernah menjadi perhatiannya.
Bahkan sebaliknya, saat Syaeful Mujani sempat mengancam PDIP pun, dengan hasil survey tertutupnya itu, bahwa Ganjar dan Puan jika di pasangkan, akan kalah!. Malah dilawan dengan penetapan Ganjar Pranowo oleh Mega.
Direktur SMRC Syaeful Mujani, yang getol membuat survey-survey tekininya, dan Ganjar Pranowo adalah Capres 24 yang kerapakali menduduki tempat teratas, hasil survey lain, tumben, yang pernah diumumkan prediksinya, bahwa nasib PDIP sekalipun mengusung Capres Ganjar Pranowo dan Cawapresnya Puan Maharani. Dijelaskan, dalam survei tertutup itu, empat pasangan tentang siapa yang dipilih sebagai presiden dan wapres, pasangan dari PDIP hanya menempati urutan ketiga. Pasangan itu yakni Ganjar dengan Puan Maharani
Jadi yang menarik dipertanyakan adalah, atas dasar apa Magawati memilih Ganjar Pranowo? Terkesan diawal, baik yang keluar dari pernyaaan Hasto sebagai Sekjen, bahkan kader lain seperti Trymedia dan Masington, yang diametral menentang Ganjar sebagai Capres 24 PDIP, kini bungkam seribu basa, tak ada pesan yang menggaris bawahi, apakah pro atau kontra, atas keputusan Ketumnya itu.
Awal percakapan Ganjar Pranowo sebagai Capres PDIP 24, ada nampak siluet kelompok pendukung yang ada di PDIP, yang kemudian menjadi pressure group kepada Ketua Umum Megawati, untuk menggoalkan Ganjar Pranowo itu.
Lantas issue apa yang menyebabkan Megawati luluh pada pesan kelompok penekan siluet Ganjarist itu? Yang sudah pasti, soal elektabalitas hasil survey, telah terbukti, tidak membuatnya Sang Penentu Capres 24 PDIP itu menjadi dasar desisi keputusan. Sudah dapat dipastikan bahwa Peran Jokowi juga inherent, tidak sedikit. Telanjang sekali bahwa Ganjar adalah suksesinya. Bahkan Prabowo, yang sempat dinyatakan Pilpres 24 adalah gilirannya, terang-terangan, Jokowi sempat melontarkan Prabowo sebagai Cawapres Ganjar Pranowo!.
Ilustrasi diatas, menjelasakan benang merah sikap terjang Jokowi, untuk menggoalkan Ganjar Pranowo. Pakar Hukum Tata Negara, Denny Indrayana, menulis kritiknya secara serius, meminta Jokowi tidak mendukung salah satu kandidat Presiden 24. Benanr merah itu terkoneksi kepada peran dan kepentingan Oligarki.
Oligarki itu, tentu akan berusaha keras bagaimana kemudian bisa memenangkan Ganjar. Berpengalaman seperti saat bagaimana memenangkan Jokowi. Intinya Bu Mega, disinalir ditekan oleh tiga orang dekatnya, bila tidak menetapkan Ganjar sebagai Capres 24, maka Mbak Puan akan dihadang menjadi Ketum PDIP.
Jadi “deal” nya Mbak Puan Jadi Ketum PDIP? Yap! “Ibu mau pencalonan Mbak Puan sebagai Ketum PDIP mulus seperti saat SBY mewariskan partainya ke AHY”. Asumsi ini saya kutip dari tulisan seseorang, tapi maaf namanya tidak diungkapkan disini.
Selanjutnya, penulis itu juga menyampaikan begini; “Jadi di PDIP sendiri, memang terbelah dua, yaitu barisan pendukung Ganjar dan barisan pendukung Mbak Puan. Barisan pendukung Ganjar lebih solid karena dimotori orang dekat Bu Mega sendiri dan sangat berpengaruh.
Ada skenario baru dari para oligarki. Ganjar tidak jadi dipasangkan dengan Erick Thohir, karena disadari oleh para konglomerat, suara umat Islam masih jadi penentu. Bila pasangannya Ganjar-Erick maka tidak akan memicu dukungan suara Islam. Pilihannya kepada Sandi Uno. Tepat. Sandi dianggap bisa mendulang suara Prabowo dan Anies. Itu sebabnya diatur oleh para oligarki dan King Maker, agar Sandi meninggalkan Gerindra dan bergabung ke Partai Islam. Apalagi Sandi selama ini memang sudah besar di antara para oligarki. Erick separuh darahnya China? Kenapa nggak kalian pertimbangkan? “Politik itu aslinya gak ada urusan ras, tapi bagaiman kami bisa tetap menguasai seperti selama ini” jawabnya singkat, itu kata mereka.
Bagaimana dengan Pak Prabowo? Prabowo itu buat kami orang Chinese masih menakutkan. Kartu mati, katanya. Dia darahnya terlanjur merah putih susah diubah. Dia akan pura-pura baik kepada kami, tapi nanti kami akan dilibas, saat jiwa patriotismenya muncul, katanya sambil menyebut yang saya juga tidak bisa tulis di medsos karena sensitif.
Intinya oligarki tidak mau sampai kapanpun Prabowo jadi presiden, kepentingan politik besar mereka dan kepentingan bisnis mereka akan berantakan kalau sampai Prabowo menjadi presiden. Mereka juga tidak suka dengan keluarga Pak Prabowo yg dianggap akan “merepotkan” bisnis mereka, karena lebih berkawan dengan Barat, Amerika tepatnya.
Lalu Anies? Sebetulnya tidak terlalu bermasalah buat mereka, karena buktinya Anies bisa bermain dengan para pemilik proyek reklamasi, dimana reklamasi itu sekarang menjadi lambang kebanggaan para oligarki, karena sdh bisa membuat kawasan pecinan baru yg lebih luas. Hanya mereka tidak suka dengan Islam garis keras yg mendukung Anies, dan juga kroni JK dan Surya Paloh.
Lalu bagaimana untuk bisa memenangkan Ganjar-Sandi? Maka akan dibuat hanya dua pasang saja yg masuk arena pertarungan Pilpres, yaitu Ganjar-Sandi vs Prabowo-Airlangga. Mengapa bukan Prabowo vs Imin? karena Cak Imin masih terlalu kuat utk menarik massa NU, jadi Prabowo harus dipasangkan dengan yg paling lemah yaitu Airlangga Hartarto. Cak Imin akan ditekan pakai kardus durian (kasus korupsi di KPK).
Dengan Ganjar-Sandi vs Prabowo-Airlangga, nanti akan dibuat kampanye orang-orang muda melawan orang-orang tua. “Dah selesai itu Mbak, 70 persen pemilih kita orang muda,” katanya enteng.
Wallahu alam bishawabi

























