FusilatNews – Setiap tahun, menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia dihadapkan pada masalah klasik yang terus berulang tanpa solusi nyata: kenaikan harga kebutuhan pokok, kemacetan parah selama arus mudik dan balik, serta ketidakpastian dalam penentuan awal bulan puasa dan hari raya. Ini bukan hanya masalah teknis semata, tetapi mencerminkan ketidakmampuan rezim demi rezim dalam mengelola isu-isu fundamental yang seharusnya bisa diprediksi dan diantisipasi sejak dini.
Harga Melambung, Janji Kosong
Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, daging, dan gula mengalami kenaikan drastis. Pemerintah kerap berjanji akan mengendalikan harga dengan operasi pasar, subsidi, dan regulasi ketat. Namun, hasilnya tetap sama: masyarakat menjerit, sementara para spekulan meraup untung besar.
Kenaikan harga ini bukan sekadar akibat hukum ekonomi soal permintaan dan penawaran, tetapi juga menunjukkan lemahnya sistem pengawasan dan distribusi barang oleh pemerintah. Alih-alih membuat kebijakan yang benar-benar pro-rakyat, pejabat hanya sibuk menggelar rapat koordinasi, sidak pasar yang sifatnya seremonial, serta melempar pernyataan normatif yang sama dari tahun ke tahun.
Mudik: Ritual Kemacetan Tanpa Solusi
Fenomena kemacetan saat arus mudik dan balik juga menjadi tradisi tahunan yang seakan tak pernah bisa diatasi. Setiap tahun, rencana besar diumumkan: penambahan jalur tol, pengaturan jadwal mudik, hingga rekayasa lalu lintas. Namun, realitasnya tetap sama: kemacetan parah dari H-7 hingga H+7, antrean kendaraan yang mengular di pintu tol, kecelakaan lalu lintas yang meningkat, serta perjalanan yang seharusnya hanya beberapa jam berubah menjadi belasan hingga puluhan jam.
Yang lebih ironis, pemerintah sering kali sibuk menanggulangi kemacetan ini secara reaktif, bukan preventif. Infrastruktur memang dibangun, tetapi tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan dan peningkatan jumlah pemudik setiap tahunnya. Lebih parah lagi, strategi seperti one way atau ganjil-genap sering kali justru menciptakan masalah baru, bukannya memberikan solusi efektif.
Sidang Isbat: Antara Ilmu dan Drama Tahunan
Sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, Indonesia masih sering terjebak dalam perdebatan panjang mengenai penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri. Sidang isbat yang dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama seharusnya menjadi solusi untuk menyatukan umat. Namun, kenyataannya, hasil sidang ini terkadang justru menciptakan kebingungan, bahkan perpecahan, ketika ada perbedaan dalam metode rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).
Ketidakpastian ini sering kali menimbulkan polemik di tengah masyarakat, di mana sebagian kelompok mengikuti keputusan pemerintah, sementara lainnya memilih mengikuti ormas tertentu yang memiliki metode perhitungan sendiri. Padahal, di era modern dengan teknologi yang semakin maju, seharusnya ketidakpastian ini bisa diminimalisir dengan sistem yang lebih transparan dan terkoordinasi.
Sibuk Tanpa Hasil
Jika ditelaah lebih jauh, kegagalan dalam menangani kenaikan harga, kemacetan mudik, dan ketidakpastian penentuan awal puasa dan lebaran bukanlah sekadar kelalaian teknis. Ini adalah cerminan dari kelemahan manajemen negara yang tidak belajar dari pengalaman. Setiap rezim seolah hanya sibuk mencari solusi instan tanpa membangun sistem yang kuat dan berkelanjutan.
Dari tahun ke tahun, masyarakat selalu disuguhi retorika dan janji-janji pemerintah yang terdengar meyakinkan, tetapi realitas di lapangan tetap sama: harga bahan pokok melambung tinggi, kemacetan semakin parah, dan umat Islam masih saja dibuat bingung dengan sidang isbat yang hasilnya terkadang berbeda dengan ormas lain. Ini bukan lagi persoalan tahunan, tetapi kegagalan struktural yang terus berulang tanpa ada itikad serius untuk memperbaikinya.
Sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Selama pemerintah hanya sibuk berbicara tanpa tindakan nyata yang benar-benar solutif, maka masyarakat harus siap menghadapi siklus yang sama setiap tahun. Ramadan dan Idul Fitri bukan hanya momen ibadah, tetapi juga ujian bagi pemerintah: apakah mereka benar-benar mampu mengelola negara ini dengan baik, atau sekadar beretorika tanpa solusi?





















