Di republik ini, ada satu gejala yang semakin menular: Sindrom Bar Eskrim. Bukan karena orang mendadak ingin mendinginkan kepala dengan cemilan manis, melainkan karena banyak mulut kini bisu beku, hanya bisa mengutuk “hoaks” tapi tak mampu—atau tak mau—menyajikan kebenaran yang sesungguhnya. Dalam ruang publik yang makin sesak oleh opini berseragam, mereka lebih suka menuduh ketimbang menjelaskan.
Bar Eskrim—begitulah kami menyebutnya. Julukan itu berasal dari laku para pengguna media sosial, para penggiat politik, dan para komentator instan yang hanya bisa melontarkan satu kalimat sakti: “Itu hoaks!” Lalu berhenti di situ. Seolah ucapan itu sudah cukup untuk membungkam diskusi. Mereka seperti es krim dalam bar, tampak manis tapi cepat lumer ketika disorot lampu panas kebenaran.
Sialnya, sindrom ini menjalar bak epidemi. Media arus utama pun kadang ikut-ikutan. Berita dibantah sepihak, tapi bantahan itu sendiri tidak diverifikasi. “Klarifikasi” dari pihak berkuasa ditelan mentah-mentah, lalu diedarkan sebagai “narasi resmi”.
Celakanya, dalam ekosistem buzzerisasi, publik dipaksa tunduk pada logika satu arah: yang tak sejalan disebut hoaks; yang pro-penguasa dianggap sahih, meski datanya bolong-bolong. Kita hidup dalam zaman “kebenaran menurut yang berkuasa”—dan siapa pun yang menyodorkan fakta alternatif akan langsung diberi label: “disinformasi”, “fitnah”, “provokatif”, bahkan “radikal”.
Fenomena ini menunjukkan hilangnya nyali intelektual. Di masa silam, ketika Soe Hok Gie menulis kritiknya, ketika Arief Budiman menggugat ketidakadilan, mereka tak hanya menyebut yang salah, tapi juga menyodorkan data dan nalar. Sekarang? Kita kedodoran oleh para peniru suara yang hanya berani menyensor kenyataan dengan kata-kata busuk, bukan menyanggah dengan isi kepala.
Mereka yang ketularan sindrom Bar Eskrim sesungguhnya adalah korban dari rezim ketakutan dan kenyamanan. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan akses. Takut disebut pembangkang. Maka yang dipilih adalah jalan termudah: membekukan mulut dengan tuduhan hoaks, tanpa pernah menghidangkan yang bukan hoaks.
Akhirnya, publik dibanjiri narasi sepihak, tanpa perbandingan. Orang lebih percaya pada “persepsi resmi” ketimbang kebenaran yang disusun dengan hati-hati dan verifikasi silang. Maka kita pun hidup dalam zaman kebenaran substitusi: hoaks atau tidak bukan lagi soal fakta, tapi soal siapa yang bicara.
Inilah tantangan zaman kita: membebaskan ruang publik dari beku mulut para Bar Eskrim. Sebab demokrasi hanya hidup jika suara berbeda bisa diperdebatkan, bukan dibekukan. Dan kebenaran, sebagaimana kata penyair, adalah apa yang tak bisa dibungkam—meski oleh berjuta buzzer sekalipun.
























