oleh : Dr. Susilawati Sisi, SE, MM,. MA, M.han
Orientasi pembangunan nasional di era pemerintahan hari ini baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dirasakan cenderung berlomba pada pembangunan infrastruktur yang masif dengan tujuan menghadirkan sumber ekonomi baru bagi kemajuan dan kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.
Namun ada hal yang tidak disadari, sejatinya setiap kebijakan yang diambil dalam perencanaan pembangunan nasional harus melihat bagaimana karakter bangsa dan negara Indonesia. Dilihat dari geografi, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang beriklim tropis serta terletak di sepanjang ring of fire tentu riskan terjadi gempa bumi, sejatinya pembangunan nasional tidak berorientasi pada pembangunan infrastruktur masif karena bisa menjadi sia-sia bahkan rugi karena pada akhirnya rubuh dan menelan korban jiwa manusia akibat gempa bumi. Selain tipikal masyarakat Indonesia memiliki ciri sebagai masyarakat religi/spiritual yang berfokus tidak semata pada pikir tetapi juga hati (akal budi) agar dapat mengendalikan pikir yang berorientasi pada ketenangan dan kedamaian hidup daripada materi kebendaan.
Proses penyelenggaraan negara pada lembaga legislatif, pemerintah dan yudikatif (trias politika) sejatinya berorientasi pada hal-hal mendasar yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia seperti kesehatan, pendidikan/hukum, tempat ibadah dan keamanan. Pembangunan sarana dan prasarana yang tertata apik dan baik terhadap kebutuhan mendasar tersebut dengan memberikan pelayanan ramah dan adil serta menjamin kualitas baik dari produk yang diberikan agar masyarakat Indonesia dapat menikmati kinerja pemerintah sesuai nilai kesetaraan sebagai hak azasi manusia. Penataan yang lebih apik dan bertanggung jawab harapannya dapat memberi kemudahan dan kenyamanan hidup bagi setiap warga negara otomatis membentuk karakter sebagai bangsa beradab.
Dari sisi masyarakat juga harus bisa memberi kontribusi terbaik bagi kehidupan sosial di ruang bersama sebagai gerakan sosial sederhana yang menjadi tanggung jawab bersama. Dengan berpikir rasional, ucap terkendali dan perilaku santun seperti tidak membuang sampah sembarangan berdampak lingkungan kotor serta menimbulkan banjir dan menyulitkan masyarakat dalam beraktivitas yang berakibat negatif pada psikologi masyarakat. Tidak merokok sembarangan yang mengakibatkan kesehatan diri dan kesehatan lingkungan ikut terganggu, tidak berbicara sembarangan dengan cara merendahkan orang lain serta masuk ke dalam urusan orang lain kecuali ada kaitannya dengan diri kita dan berfokus pada solusi daripada membenturkan perbedaan. Memunculkan kesadaran tinggi untuk membangun lingkungan masing-masing dengan menanam tanaman hijau atau tanaman obat yang dibutuhkan di halaman rumah maupun lingkungan sekitar.
Lingkungan hijau selain menghasilkan oksigen juga terlihat indah dan sejuk dirasakan. Apalagi bagi yang tinggal di daerah perkotaan sebagai sumber polusi udara, polusi bising dan polusi pemandangan diharapkan dapat berkomitmen untuk menciptakan dan menjaga lingkungan asri sehingga pembangunan gedung pencakar langit dapat diimbangi dengan hijaunya dedaunan bahkan jika perlu bisa diupayakan antara hutan beton dan hutan pepohonan menjadi satu kesatuan kehidupan perkotaan. Upaya-upaya tersebut secara signifikan juga telah turut serta membantu mewujudkan pembangunan negeri ke arah lebih sehat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan.
Demikianlah sejatinya orientasi pembangunan nasional yang menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi bangsa Indonesia utama bagi para pemimpin negeri, agar perjalanan kehidupan berbangsa tidak terus ricuh akibat tensi politik yang selalu tinggi karena berebut sebagai yang paling benar.
Kebijakan pembangunan infrastruktur harus secara perlahan dijalankan, perencanaan yang sangat hati-hati dengan mempertimbangkan seluruh sektor kehidupan agar selain dalam proses pembangunan tidak menimbulkan kegaduhan karena ada tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat oleh setiap warga negara sementara kemampuan pendidikan dan ekonomi masyarakat secara umum belum merata baik berdampak stabilitas kehidupan nasional terganggu. Oleh karena itu pentingnya akal budi dalam menjalankan kehidupan berbangsa bernegara, penekanan pada pemenuhan kebutuhan dasar dengan pengaturan dan penataan yang lebih jelas dan tegas untuk kehidupan lebih tenang karena percaya bahwa kehidupannya dijamin oleh negara.
Jakarta, 23 November 2022.
























