FusilatNews – Angin malam Rangkasbitung membawa suara-suara yang bukan sekadar kata. Ada yang lebih sunyi namun lebih keras dari pidato pejabat atau gemuruh kendaraan dinas: suara langkah kaki warga Baduy yang menempuh puluhan kilometer dari tanah suci adatnya. Bukan demi panggung, bukan pula untuk tuntutan pragmatis. Mereka datang membawa pesan. Wasiat. Bukan dari masa kini, tapi dari masa yang tak tercatat dalam kurikulum sejarah: titah leluhur.
Ritual Seba Baduy kembali dilangsungkan, seperti aliran sungai yang tak pernah ingkar pada muaranya. Namun tahun ini, ritus tahunan itu tak sekadar ekspresi syukur atas panen dan keberlangsungan tradisi. Ia menjadi seruan darurat. Sebuah alarm ekologis yang disampaikan tanpa jargon akademik, tanpa istilah teknokratis. Pemangku adat Saidi Putra menyebutnya dengan bahasa sederhana namun bernas: “Gunung-gunung itu jangan dikotori.”

Ada 53 gunung yang disebut, dari Lebak hingga Pandeglang—bukan sekadar gundukan tanah tinggi, tapi poros kehidupan, sumber air, dan penjaga keseimbangan semesta. Gunung, bagi warga Baduy, bukan hanya topografi. Ia adalah tubuh alam. Bila satu luka, yang lain akan demam. Bila semua rusak, manusia akan mati dalam diam. Itulah yang disuarakan Saidi: bahwa alam sedang demam tinggi.
Namun, bagaimana tanggapan pemerintah? Seperti biasa, birokrasi menjawab dengan langkah awal yang normatif: “kami akan inventarisasi dulu.” Sebuah jawaban yang terasa seperti menyeka peluh dengan selimut. Tidak salah, tapi tidak cukup. Gunung-gunung yang dimaksud sebagian besar telah disusupi kepentingan: tambang, perkebunan besar, proyek jalan, dan wacana “pembangunan” yang entah untuk siapa. Bahkan di Ujung Kulon yang masuk kawasan konservasi, kabar soal abrasi, illegal logging, hingga proyek wisata eksklusif terus terdengar lirih tapi tak terbantahkan.
Seba Baduy adalah manifestasi dari cara lain memandang bumi. Mereka tak bicara soal climate change, carbon offset, atau mitigasi bencana—istilah-istilah yang berseliweran dalam forum-forum global namun kerap kehilangan konteks lokal. Warga Baduy berbicara lewat tubuh mereka yang berjalan, lewat simpul ikat kepala mereka yang menyerap peluh leluhur, lewat titah adat yang dibawa dalam diam.
Dari Bayah yang kini menganga karena tambang, hingga kaki-kaki Gunung Halimun yang mulai dicecar oleh eksploitasi, pesan itu mengendap: “Jangan sampai muncul penyakit yang tak bisa diobati dokter.” Ini bukan sekadar metafora. Ini peringatan akan bencana ekologis yang tak bisa diselesaikan dengan anggaran atau penanggulangan darurat. Ini soal iman manusia pada tatanan alam.
Pemerintah barangkali akan mencatat, menyusun dokumen, atau membuat tim kecil untuk membahasnya. Tapi warga Baduy tak menunggu. Mereka sudah lebih dulu berbuat: menjaga, menghidupi, dan menghormati gunung-gunung itu dengan cara yang tak ditulis dalam undang-undang, tapi diwariskan dalam napas.
Dalam dunia yang semakin bisu terhadap peringatan alam, suara Baduy adalah nyanyian langka. Sebuah ingatan bahwa tak semua yang diam itu menyerah, dan tak semua yang bersuara itu benar. Di antara 53 gunung, ada 53 pesan. Dan semuanya bermuara pada satu hal: selamatkan kehidupan sebelum kehidupan pergi diam-diam, seperti aliran sungai yang tercemar, seperti puncak gunung yang kehilangan hutan.
Seba bukan sekadar ritual. Ia adalah surat cinta dari bumi kepada manusia.






















