FusilatNews– Presiden Rusia Vladimir Putin menantang negara-negara Barat untuk mengalahkannya di medan perang. Hal tersebut disampaikan Putin di depan pemimpin parlemen.
“jika negara-negara Barat ingin mengalahkan Rusia di medan perang, mereka dapat mencobanya sekaligus mengingatkan mereka bahwa tekad untuk berperang sampai Ukraina terakhir hanya merugikan warga sipil”ungkapnya
Putin menegaskan Rusia baru saja memulai di Ukraina, sementara prospek untuk negosiasi apa pun akan meredup semakin lama konflik berlarut-larut.
“Hari ini kami mendengar bahwa mereka ingin mengalahkan kami di medan perang. Apa yang bisa Anda katakan, biarkan mereka mencoba,” kata Presiden Putin dalam pidato yang disiarkan televisi kepada para pemimpin parlemen, dikutip Reuters 08 Juli 2022.
“Pada saat yang sama, kami tidak menolak pembicaraan damai. Tetapi mereka yang menolaknya harus tahu bahwa semakin jauh, semakin sulit bagi mereka untuk bernegosiasi dengan kami,” tegas Presiden Putin.
Sebelumnya, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan upaya Barat untuk menghukum kekuatan nuklir seperti Rusia atas perang di Ukraina berisiko membahayakan umat manusia, karena hampir lima bulan konflik telah menyebabkan kota-kota hancur dan ribuan kehilangan tempat tinggal.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari memicu krisis paling serius dalam hubungan antara Rusia dan Barat sejak Krisis Rudal Kuba 1962, ketika banyak yang khawatir dunia berada di ambang perang nuklir.
Presiden AS Joe Biden mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin adalah penjahat perang, memimpin Barat dalam mempersenjatai Ukraina dan menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan pada Rusia.
“Gagasan untuk menghukum negara yang memiliki salah satu potensi nuklir terbesar adalah tidak masuk akal. Dan itu merupakan ancaman potensial bagi keberadaan umat manusia,” kata Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia di Telegram.
Rusia dan Amerika Serikat mengendalikan sekitar 90 persen hulu ledak nuklir dunia, dengan masing-masing sekitar 4.000 hulu ledak dalam inventaris militer mereka, menurut Federasi Ilmuwan Amerika.
Medvedev menyebut Amerika Serikat sebuah kerajaan yang telah menumpahkan darah ke seluruh dunia, mengutip pembunuhan penduduk asli Amerika, serangan nuklir AS di Jepang dan perang mulai dari Vietnam hingga Afghanistan.























