Oleh Victoria Lindsay
TOKYO – Selamat datang kembali di rubrik bulanan “Tanya Ahli Gizi Tokyo,” sajian khusus bagi Anda yang ingin menyelami dunia gizi dan pola makan sehat, disesuaikan dengan kehidupan modern di Jepang. Dari menyeimbangkan kuliner tradisional Jepang dengan kebutuhan nutrisi masa kini, hingga menafsirkan label makanan lokal—ahli gizi bersertifikat kami siap memberi jawaban.
Setiap bulan, kami akan mengupas pertanyaan-pertanyaan umum, meluruskan mitos, serta menyuguhkan saran praktis demi mendukung perjalanan hidup sehat Anda.
Punya pertanyaan? Kirimkan email ke: [email protected] dan pertanyaan Anda mungkin akan dibahas di edisi selanjutnya.
Pertanyaan:
Saya seorang guru bahasa Inggris di Tokyo dan karena jadwal yang padat, saya jarang sempat memasak untuk diri sendiri. Apa ada kiat makan sehat dan seimbang di Jepang meski saya nyaris tak pernah masak?
Jawaban Ahli Gizi Tokyo:
Pada bagian pertama, kita telah membahas dampak konsumsi makanan di luar secara terus-menerus terhadap kesehatan, serta bagaimana memanfaatkan makanan siap saji yang tetap bergizi. Kini, mari kita fokus pada cara menghemat waktu di dapur—tanpa perlu jadi koki rumahan.
Jurus Hemat Waktu di Dapur bagi Anda yang Jarang Memasak
Saat membayangkan proses memasak yang menyita waktu dan tenaga, biasanya tiga hal ini jadi biangnya:
- Belanja bahan makanan
- Menyiapkan bahan (mencuci, memotong, dsb.)
- Proses memasak (menumis, memanggang, dsb.)
Berikut kiat-kiat praktis agar setiap tahap tersebut lebih ringan dijalani.
Belanja Online dan Layanan Paket Masak
Bagi Anda yang tinggal di kota besar seperti Tokyo, layanan pengantaran bahan makanan semacam Amazon Fresh atau Green Beans patut dicoba. Cukup pilih bahan secara daring, lalu tunggu kiriman sehat tiba di depan pintu.
Ingin lebih praktis lagi? Layanan meal kit seperti Yoshikei menyajikan paket makanan lengkap, dirancang oleh ahli gizi Jepang. Cocok bagi Anda yang tak sempat menyusun menu.
Manfaatkan Bahan Beku dan Siap Pakai
Khawatir ayam atau bayam yang Anda beli akan layu sebelum sempat dimasak? Solusinya: beralihlah ke bahan makanan beku. Jangan remehkan—penelitian menunjukkan kandungan nutrisi dalam sayur dan buah beku bisa menyamai, bahkan melampaui, bahan segar karena proses pembekuan yang menjaga kandungan gizinya.
Saya sendiri rutin menyetok brokoli, asparagus, dan buncis beku untuk menu cepat saji, juga beri beku untuk sarapan atau smoothie. Sisa makanan pun bisa dibekukan untuk dikonsumsi kemudian.
Tak suka repot memotong? Pilih bahan yang sudah dipotong, seperti wortel serut atau campuran sayuran untuk tumisan. Tomat ceri tinggal cuci dan santap. Buah seperti pisang, anggur, dan apel (kulitnya jangan dikupas—penuh serat dan vitamin!) siap disantap tanpa banyak persiapan.
Alat Masak Penghemat Waktu
Dapur kecil bukan alasan untuk menolak bantuan teknologi. Penanak nasi, Instant Pot, atau air fryer bisa jadi penyelamat. Prinsipnya sederhana: masukkan bahan, atur waktu, lalu biarkan alat bekerja—tanpa perlu berjaga di dapur.
Masak Sekali, Makan Dua Kali
Seorang pasien saya yang juga koki pernah berujar: memasak sekali dengan porsi dua atau tiga kali makan tak butuh waktu jauh lebih lama. Prinsip “masak sekali, makan berkali-kali” jadi strategi jitu untuk menghemat tenaga. Sisanya bisa langsung disimpan di kulkas atau dibekukan untuk keesokan hari.
Tunggu Edisi Berikutnya
Pada edisi selanjutnya, kami akan mengulas kiat makan sehat saat menyantap hidangan di luar rumah di Jepang. Dengan perencanaan dan trik sederhana, Anda tetap bisa menikmati sajian luar tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Victoria Lindsay, MS, RD, adalah ahli gizi bersertifikat yang praktik di Tokyo Medical & Surgical Clinic serta membuka praktik pribadi di Tokyo. Kunjungi www.victorialindsayrd.com atau ikuti Instagram @dietitianintokyo.
© Japan Today | Alih bahasa: Fusilatnews
























