Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Ah, seandainya bukan Suswono yang mengucapkan, mungkin calon wakil gubernur di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024 ini sudah didemo berjilid-jilid. Tapi karena Suswono, yang antara lain didukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengucapkan, maka aman-aman saja.
Memang, ada ormas yang melaporkan Suswono ke Polda Metro Jaya dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jakarta. Tapi karena tidak ada tekanan publik, polisi dan bawaslu mungkin berpikir tidak perlu “gercep” (gerak cepat).
Berbeda dengan ada tekanan publik, baik melalui media sosial sehingga viral, atau pun lewat aksi demonstrasi berjilid-jilid seperti terhadap Basuki Tjahaja Purnama saat sosok yang akrab disapa Ahok itu menjadi calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2017 yang didemo berjilid-jilid, terutama oleh massa yang terafiliasi dengan PKS.
Apalagi, sudah ada semacam “legitimasi” dari Habib Rizieq Syihab bahwa apa yang diucapkan Suswono itu bukan penistaan agama, melainkan hanya terpeleset lidah.
Pun, kata HRS, begitu menyadari salah ucap, Suswono langsung minta maaf. Berbeda dengan Ahok yang tidak langsung minta maaf, dan juga bukan hanya sekali Ahok mengucapkan ihwal Surat Al Maidah ayat (51) yang digunakan elite politik untuk membodohi rakyat.
Suswono adalah cawagub Jakarta yang didukung Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang antara lain berisi PKS.
Akhir Oktober lalu, dalam sosialisasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, bekas Menteri Pertanian itu menyarankan janda-janda kaya untuk menikahi pemuda pengangguran.
Politikus PKS itu kemudian memberikan contoh Siti Khadijah, janda kaya berumur 40 tahun yang menikahi Muhammad yang saat itu baru berusia 25 tahun dan belum diangkat Allah SWT menjadi Nabi.
Sontak, pernyataan kontroversial itu menuai reaksi publik. Suswono dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW yang disebutnya sebagai pengangguran. Padahal saat berusia 25 tahun, Muhammad yang kelak menjadi Nabi dan Rasul sudah berniaga.
Mungkin karena melihat Suswono aman-aman saja, Ridwan Kamil, calon gubernur Jakarta yang berpasangan dengan Suswono di Pilkada 2024, yang kemudian disebut dengan RIDO, merasa tergoda untuk juga mengeksplorasi, kalau tak boleh disebut mengeksploitasi, janda. Ada apa dengan RIDO?
Saat menggelar kampanye di Jakarta Timur, Sabtu (16/11/2024), seperti dalam rekaman video yang beredar, Kang Emil panggilan akrab Ridwan Kamil, melontarkan pernyataan mengenai status janda.
Cuplikan video yang beredar di media sosial merekam pernyataan Kang Emil terkait mengurus janda di Tanah Air.
Dalam video yang dibagikan oleh akun X @BosPurwa pada 21 November 2024, seperti dilansir sebuah media, nampak Kang Emil berdiri di atas panggung dan berbicara di depan para pendukungnya.
“Nanti janda-janda akan disantuni oleh Pak Habiburohman, akan diurus lahir batin oleh Bang Ali Lubis, akan diberi sembako oleh Bang Adnan. Dan kalau cocok akan dinikahin oleh Bang Rian. Tepuk tangan untuk wakil-wakil kita,” ucap Kang Emil.
Ihwal janda yang dilontarkan Kang Emil pun menuai polemik. Bekas Gubernur Jawa Barat itu dinilai melecehkan janda.
Peyoratif
Entah apa yang berkecamuk dalam benak Suswono, dan kemudian Kang Emil, sehingga saat berhadapan dengan para pendukungnya yang terlontar adalah kata janda. Mungkin dalam benak mereka berkeliaran janda-janda muda, cantik pula. Mungkin. Sebab ucapan adalah cerminan pikiran atau hati.
Janda, kata banyak orang, lebih menggoda. Apakah Suswono dan Kang Emil memang sedang tergoda oleh janda?
Ataukah hanya tergoda menggunakan kata janda untuk materi sosialisasi atau kampanye mereka? Lalu, di mana sisi menariknya, apa justru tidak melecehkan janda?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, ihwal janda yang dilontarkan Suswono dan Kang Emil sudah terlanjur menuai polemik.
Suswono, misalnya, dikaitkan dengan dugaan penistaan agama karena ia mengambil contoh pernikahan Siti Khadijah dengan Nabi Muhammad SAW yang dianalogikan dengan janda kaya menikahi pemuda pengangguran.
Adapun Kang Emil dikaitkan dengan pelecehan status janda, karena faktanya tak sedikit janda yang mandiri bahkan berkecukupan.
Susi Pudjiastuti, misalnya. Bekas Menteri Kelautan dan Perikanan ini mengkritik pernyataan Kang Emil karena sebagai janda, pemilik maskapai penerbangan Susi Air itu justru merasa “happy” (bahagia) dan mandiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), janda berarti wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai atau pun karena ditinggal mati suaminya.
Janda, seperti kosa kata pada umumnya, bersifat netral. Namun kian lama kemudian kosa kata janda makin mengalami peyorasi.
Peyorasi adalah kata atau bentuk tata bahasa yang mengungkapkan pandangan rendah terkait seseorang atau sesuatu.
Dikutip dari Wikipedia, Sabtu (23/11/2024), peyorasi adalah unsur bahasa yang memberikan makna menghina, merendahkan dan sebagainya, yang digunakan untuk menyatakan penghinaan atau ketidaksukaan seorang pembicara.
Kadang kala, sebuah kata lahir sebagai sebuah kata peyoratif, tetapi lama-kelamaan digunakan sebagai kata yang tidak bersifat peyoratif atau netral.
Dalam linguistik, fenomena ini dikenal sebagai meliorasi, atau ameliorasi, atau perubahan semantik.
Namun berbeda dengan kosa kata lainnya, kata janda dari waktu ke waktu tetap mengalami peyorasi. Sampai kemudian muncul kata dalam bahasa Inggris untuk menggantikan kata janda, yakni “single parent” atau orangtua tunggal.
Tapi istilah “single parent” juga kurang tepat untuk menggantikan kata janda, karena orangtua itu bisa perempuan atau laki-laki. Sebab itu, kata “single parent” juga bisa digunakan untuk menggantikan kata duda.
Alhasil, kata apa yang tepat untuk menggantikan kata janda? Barangkali ini menjadi PR (pekerjaan rumah) Kang Emil dan Suswono untuk menemukannya.
Yang jelas, untuk sementara pasangan RIDO aman dari jeratan hukum. Tak tahu nanti di bilik suara saat pencoblosan Pilkada Jakarta 2024 pada 27 November mendatang, apakah suara RIDO juga akan aman?























