• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Toleransi Mazhab Negara

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
December 21, 2022
in Feature
0
Sandera Politik Hakim Konstitusi

Presiden Joko Widodo memberikan selamat setelah melantik Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi (MK) Guntur Hamzah sebagai hakim konstitusi menggantikan Aswanto di Istana Negara, Rabu (23/11/2022). (Kompas.com/ Dian Erika)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: M Hasibullah Satrawi

Jakarta – Pada tahap tertentu, perkembangan toleransi di Indonesia bisa dikatakan mengalami perbaikan (tentu dengan catatan-catatan yang harus diperhatikan). Hasil Jajak Pendapat Litbang Kompas mutakhir terkait toleransi di Indonesia merekam kecenderungan positif toleransi di satu sisi, tapi sarat dengan kewaspadaan di sisi yang lain (Kompas, 14/11).

Terkait pertanyaan apakah masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai toleransi, contohnya, mayoritas responden menjawabnya secara positif (62.2%). Tapi ketika ditanya dalam hal apakah sikap tenggang rasa harus ditingkatkan, mayoritas responden menyebut perbedaan agama (47.6%).

Hasil jajak pendapat ini bisa dipahami bahwa sebagai hal positif, masyarakat cenderung mengakui perkembangan positif dari toleransi. Tapi ketika terkait pertanyaan praktik toleransi, perbedaan mulai mengemuka di kalangan masyarakat; apakah toleransi harus “membiarkan” umat agama lain? Apakah toleransi harus membiarkan keburukan (untuk tidak mengatakan kemaksiatan)? Dan perbedaan lebih tajam akan terjadi ketika ditanya siapa yang toleran dan siapa yang intoleran?

Di sinilah letak kompleksitas toleransi. Pada tahap pelaku seperti ini, seorang teroris pun tidak mau disebut sebagai teroris. Bahkan Imam Samudra pun mengaku sebagai pejuang melawan teroris. Pada masa seperti sekarang, kompleksitas ini menjadi bertambah runyam karena masih ada sisa-sisa polarisasi dari Pemilu 2019 antara yang pro dan anti terhadap Jokowi.

Dari sisi aksi yang bersifat pelanggaran hukum, catatan terkait toleransi dan kerukunan beragama belakangan ini memang mengalami perbaikan, khususnya bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Disebut demikian, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya pemerintah acap dianggap tidak bersikap tegas terhadap praktik intoleransi bahkan radikalisme dan terorisme. Bahkan tak jarang sikap aparat justru dianggap berpihak kepada pelaku intoleransi.

Oleh karenanya, perbaikan iklim toleransi dalam beberapa tahun terakhir bisa disebut sebagai hasil dari catatan toleransi dan intoleransi beberapa tahun sebelumnya. Bila dahulu pelaku intoleransi cenderung dibiarkan, kali ini pelaku intoleransi justru kerap berhadapan dengan penegakan hukum. Bila waktu-waktu sebelum ini pemerintah dianggap membiarkan kelompok radikal, kali ini pemerintah justru acap memberangus kaum radikal. Bahkan pemerintah secara aktif mengeluarkan sejumlah kegiatan yang diharapkan bisa menyemai kehidupan masyarakat yang toleran dan menjaga kerukunan seperti moderasi beragama, pendidikan Pancasila dan yang lainnya.

Kewajiban vs Kesadaran

Pertanyaannya, apakah dengan demikian persoalan intoleransi dan radikalisme menjadi terselesaikan? Apakah menara-menara toleransi yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan juga kebebasan berkeyakinan menjadi tegak di pelosok-pelosok Bumi Pertiwi.

Ternyata jawabannya belum. Sebaliknya, ancaman intoleransi dan radikalisme terus datang dari waktu ke waktu. Pada tahap tertentu, hasil jajak pendapat Litbang Kompas di atas juga mengkonfirmasi ini. Di mana ada 47.6% responden yang menjawab perbedaan agama sebagai wilayah yang harus ditingkatkan untuk meningkatkan sikap tenggang rasa. Dengan kata lain, perbedaan agama masih dianggap sebagai sesuatu yang rawan dalam konteks toleransi di tengah-tengah masyarakat.

Pun demikian dengan ancaman radikalisme dan terorisme yang belakangan justru semakin nekat bahkan acap melibatkan kaum perempuan dan juga anak-anak. Penangkapan perempuan muda yang mencoba menerobos Istana Merdeka beberapa waktu lalu bisa dijadikan sebagai contoh terbaru dari ancaman radikalisme dan terorisme yang jauh dari kata selesai.

Dalam hemat saya, bisa jadi, perbaikan iklim toleransi yang terjadi belakangan ini lebih sebagai kewajiban daripada sebuah kesadaran. Yaitu kewajiban akibat sejumlah ketentuan dan peraturan yang diterapkan oleh pemerintah ataupun negara. Hingga semua pihak berbicara tentang toleransi, moderasi beragama, pendidikan Pancasila dan yang lainnya. Inilah yang saya maksud dengan istilah toleransi mazhab negara.

Hal yang mungkin luput dari perhatian selama ini adalah bahwa kehadiran pemerintah atau penegak hukum atau negara yang mewajibkan toleransi justru mengisap sumsum toleransi. Hingga toleransi yang tersaji tak lagi menyajikan kenyamanan dan kenikmatan persaudaraan dan kerukunan yang menyehatkan bagi bangsa ini.

Inilah catatan penting dari pengalaman toleransi belakangan yang belum tercatat dalam pengalaman toleransi sebelumnya yang bahkan mengharapkan pemerintah/negara menjadi penegak atau bahkan mengharuskan toleransi. Padahal toleransi mazhab pemerintah justru mengeringkan substansi utama toleransi itu sendiri.

Penghormatan

Pada akhirnya, toleransi adalah penghormatan yang murni dari komponen masyarakat terhadap komponen masyarakat lainnya. Penghormatan ini tidak akan berkembang secara optimal dari ketentuan atau peraturan yang bersifat memaksa. Sebab tak ada penghormatan dalam sebuah paksaan, terlebih lagi dalam keterpaksaan.

Dalam hemat saya, penghormatan inilah yang ada di balik teori-teori besar terkait dengan toleransi maupun pluralisme, walaupun mungkin tidak dinyatakan secara eksplisit. Sebab semua tingkatan toleransi maupun pluralisme akan mudah ambruk bila tidak dibangun di atas fondasi penghormatan ini.

Oleh karenanya, negara maupun aparat penegak hukum sejatinya menjadi fasilitator yang tanpa lelah bergerak untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menghormati kelompok atau pihak lain. Dikatakan tanpa lelah, karena upaya menumbuhkan toleransi sebagai sebuah kesadaran tidak akan mudah secepat membangun hal-hal yang bersifat fisik.

Toleransi sebagai penghormatan mensyaratkan adanya keadaban yang tinggi dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan keadaban tidak akan terwujud tanpa adanya pendidikan yang mumpuni. Maka keadaban dan pendidikan merupakan tangga utama untuk mencapai langit toleransi.

Inilah kelemahan paling mendasar dari perkembangan toleransi dalam beberapa tahun terakhir. Upaya-upaya untuk mewujudkan toleransi dan/atau memerangi radikalisme acap dikelola (baik langsung atau tidak) oleh unsur pemerintah atau negara. Hingga yang acap terjadi justru resistensi, termasuk terhadap aparat penegak hukum yang tak jarang dianggap bekerja demi pemerintah daripada demi tegaknya keadilan. Bahkan tak jarang upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat dianggap sebagai praktik diskriminasi, arogansi, bahkan juga konspirasi.

Menurut hemat saya, di luar jalur pendidikan sebagaimana di atas, pemerintah bisa melibatkan pihak ketiga dalam upaya membangun toleransi sekaligus melawan radikalisme maupun terorisme. Pihak ketiga dimaksud bisa dari kalangan ormas, organisasi adat, organisasi kampus maupun komunitas masyarakat sipil. Hingga secara perlahan bisa timbul kesadaran penghormatan terhadap yang lain. Bahkan bisa terbentuk kesadaran untuk bersama-sama menyelamatkan masa depan dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Hasibullah Satrawi, alumnus Al-Azhar, Kairo; pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam.

Dikutip dari detikom, Rabu 21 Desember 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemprov. DKI Jakarta : 7 Wilayah Menjadi Pusat Perayaan Malam Tahun Baru 2023

Next Post

Globalisasi Laskar Pelangi Lewat Sepak Bola

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Messi dan Mbappe

Globalisasi Laskar Pelangi Lewat Sepak Bola

Iran Ratakan Sarang Teroris Binaan AS di Irak dengan 73 Rudal Balistik dan 10 Drone Kamikaze

Jalan Negosiasi Mengakhiri Gerakan Teror

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist