Jakarta, Fusilatnews. – Paranormal Permadi SH berpendapat, bencana alam yang terus terjadi di Indonesia belakangan ini pertanda Tuhan murka melalui alam semesta karena manusia telah kehilangan jati dirinya sehingga menjadi serakah. Namun, katanya, bencana itu akan melahirkan “Satria Piningit” yang kemudian menjadi “Ratu Adil” yang akan membawa kejayaan Nusantara.
“Tuhan murka melalui alam semesta, karena manusia Indonesia telah kehilangan jati dirinya sehingga menjadi serakah. Bencana demi bencana pun terjadi dan akan terus terjadi sampai manusia sadar dan menghentikan keserakahannya. Setelah ini akan muncul ‘Satria Piningit’ yang kemudian menjadi ‘Ratu Adil’,” kata Permadi SH saat dihubungi, Rabu (7/12/2022).
Menurut Permadi, jati diri manusia Indonesia adalah berbudi luhur atau berakhlak mulia, berjiwa Pancasila, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tuhan, manusia dan alam semesta, kata Permadi, “samat-sinamatan” atau saling mengamati. “Ketika Tuhan melihat manusia serakah, Dia akan murka dan menumpahkan kemurkaannya itu melalui alam semesta dengan bencana,” jelas Permadi yang juga mantan anggota DPR RI.
Bencana tersebut, katanya, bisa berupa gempa bumi, tsunami, banjir bandang, angin puting beliung, tanah longsor, kebakaran hutan, dan erupsi gunung berapi atau gunung meletus seperti Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, baru-baru ini, dan sebagainya. “Jadi ada empat unsur alam yang menimbukan bencana, yakni tanah, air, api dan angin,” cetusnya.
Ia lalu merujuk contoh keserakahan manusia. Antara lain maraknya “illegal logging” atau pembabatan hutan ilegal, maraknya “illegal minning” atau tambang ilegal seperti di Kalimantan Timur yang sekarang sedang heboh karena diduga melibatkan pejabat-pejabat Polri, maraknya “illegal fishing” atau pencurian ikan, dan maraknya kasus korupsi di Indonesia yang bukan hanya dalam bilangan miliaran, melainkan sudah triliunan bahkan puluhan triliun rupiah seperti kasus Jiwasraya dan Asabri.
“Begitu pun rekening gendut para petinggi negeri, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Termasuk Polri yang sekarang sedang ‘goro-goro’ atau gonjang-ganjing,” jelas Permadi.
Di legislatif, kata Permadi, banyak anggota DPR RI dan DPRD yang terlibat korupsi. Bahkan ia merujuk contoh top pimpinan legislatif yang terlibat korupsi, yakni mantan Ketua DPR RI Setya Novanto dan mantan Ketua DPD RI Irman Gusman.
Di eksekutif pun menurut Permadi demikian, yakni sudah puluhan menteri terlibat korupsi dan masuk penjara.
Adapun di yudikatif, Permadi merujuk contoh top pimpinan lembaga yudikatif yang terlibat korupsi, yakni Akil Mochtar yang saat itu menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).
Demikian pula di lembaga yudikatif lainnya, yakni Mahkamah Agung (MA) di mana ada mantan Sekretaris MA Nurhadi dan belakangan dua hakim agung terlibat korupsi, yakni Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh. “Korupsi sudah meliputi semua lini dan menjangkau semua trias politika, yakni legislatif, eksekutif dan yudikatif,” sesal Permadi.
“Ada dua faktor penyebab korupsi, yakni ‘need’ (kebutuhan) dan ‘greed’ (keserakahan). Korupsi di Indonesia kebanyakan faktornya adalah keserakahan. Inilah yang membuat Tuhan murka melalui alam semesta,” lanjutnya.
Ketika dengan keserakahannya manusia merusak alam semesta melalui “illegal logging”, “illegal minning” dan “illegal fishing”, kata Permadi, maka alam semesta pun terluka. “Nah bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor, tsunami, kebakaran hutan, dan gempa bumi itulah cara alam menyembuhkan diri dari luka-lukanya. Dengan itu alam melenyapkan sebagian manusia durhaka. Sepanjang manusia tidak bersahabat dengan alam, maka alam pun tidak akan bersahabat dengan manusia. Jadi bencana demi bencana itu terjadi bukan karena fenomena alam semata, karena alam dan manusia selalu ‘samat-sinamatan’. Apa yang dilakukan manusia terhadap alam akan dikembalikan oleh alam kepada manusia,” terang Permadi.
Lahir “Satria Piningit”
Apakah bencana yang terjadi di Indonesia akan berakhir? Menurut Permadi, justru akan berlanjut dengan skala yang lebih besar dan luas. “Ini sudah Kehendak Tuhan melalui alam semesta. Tak seorang pun bisa menghentikan. Sampai terjadi ‘goro-goro’ (kekacauan),” tukas Permadi.
“Goro-goro” itulah yang menurut Permadi, mengutip “jangka” atau ramalan Jayabaya, akan melahirkan “Satria Piningit” yang kemudian menjadi “Ratu Adil” (raja, pemimpin atau presiden yang adil, arif dan bijaksana) yang akan menghentikan angkara murka manusia dan kekacauan di Bumi Pertiwi ini. “Bencana akan berhenti setelah muncul ‘Satria Piningit’,” tegasnya.
Ditanya tentang siapa sosok “Satria Piningit” itu, apakah mereka yang elektabilitasnya tinggi sebagai kandidat calon presiden untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 seperti Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan, secara diplomatis Permadi menepis, “Saya tidak tahu. Namanya saja ‘Satria Piningit’ (satria yang terselubung). Kalau sudah ada yang tahu, namanya bukan ‘piningit’ lagi, dong.”
Permadi diminta komentar soal bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia belakangan ini seperti tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus atau erupsi, dan gempa bumi, dan mengapa hal itu bisa terjadi.
Seperti diberitakan, gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 5,6 terjadi di Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022). Sedikitnya 331 orang menjadi korban meninggal dunia.
Pada Minggu (3/12/2022), gempa bumi Magnitudo 6,1 mengguncang Garut, Jabar. Berselang sehari, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 2,9 juga terjadi di wilayah Kota Tasikmalaya, Jabar.
Lalu, gempa bumi juga mengguncang Jember, Jawa Timur, dengan Magnitudo 6,0, Selasa (6/12/2022) pukul 13.07 WIB. (F-2)





















