Semarang – Fusilatnews ‐ Dari Januari hingga Oktober 2024, tercatat sebanyak 12.489 pekerja dari berbagai industri mengalami PHK.di berbagai industri di Jawa Tengah
Hal ini mendorong Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, menyoroti tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di provinsi tersebut.
Terkait masalah PHK sedang menjadi sorotan karena PHK di Jateng paling tinggi. Saat ini angka PHK kita 12.489 ini cukup tinggi,” ujar Nana dalam Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Kantor BPSDMD Jateng, Jumat (15/11/2024).
Nana mengungkapkan bahwa sektor yang paling terdampak adalah garmen dan tekstil, yang menyumbang 34 persen dari total PHK, atau sebanyak 4.268 buruh.
Sektor lainnya yang juga mengalami PHK signifikan adalah:
Industri pengolahan lainnya (bulu mata, rambut palsu, dan kecantikan) sebesar 29 persen atau 3.931 pekerja. Industri manufaktur dengan persentase 26 persen atau 3.292 karyawan.
PT Dupantex yang tutup permanen. Kusuma Hadi Grup Tekstil yang tidak operasional karena tidak ada order, dengan 1.505 pekerja dirumahkan tanpa upah.
“Saya minta para bupati dan wali kota untuk mengambil langkah konkrit di lapangan agar PHK dapat kita kurangi.
Butuh kemauan untuk mencegah supaya tidak terjadi PHK,” tegas Nana.
Dia juga menambahkan bahwa penanganan masalah di PT Sritex berjalan relatif baik, berkat dukungan dari pemerintah pusat.
“Kita contohkan Sritex saat ini, langkah kita sudah baik karena cukup banyak pekerja di Sritex yang tidak di-PHK secara langsung, mereka saat ini masih bekerja di Sritex.
Saya minta kerja sama antara kabupaten, provinsi, dan pusat,” lanjutnya.
Nana mengungkapkan bahwa langkah-langkah pencegahan telah dilakukan, namun ia masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat untuk langkah selanjutnya.
“Kebijakan-kebijakan kita masih menunggu dari pusat. Yang penting, kita pun sudah memberikan masukan ke pusat dan menunggu perkembangan dari pusat,” tandasnya.


























