Jakarta – Fusilatnews – Terkait penembakan di Rest Area Tol Tangerang-Merak.menciptakàn kebingungan di Masyarakat lantaran ada dua kronologi Kasus Penembakan Boss Rental Mobil di rest area Tol Tangerang- Merak KM 45
Perbedaan kronologi antara versi polisi dan TNI AL menambah teka-teki terkait apa yang sebenarnya terjadi dalam penembakan di Rest Area Tol Tangerang-Merak itu.
Berikut penjelasan dari kedua pihak, ditambah keterangan dari keluarga korban terkait penembakan di Rest Area Tol Tangerang-Merak.
Kronologi Penembakan Versi Polisi
Menurut keterangan polisi, insiden penembakan ini berawal dari dugaan penggelapan mobil rental milik korban, Ilyas Abdurrahman.
Mobil Honda Brio dengan nomor polisi B 2694 KZO itu awalnya disewakan Ilyas kepada warga Pandeglang bernama Ajat Sudrajat
Ajat kemudian menyewakan mobil lagi kepada seseorang berinisial IH, yang ternyata menggunakan identitas palsu.
Kapolda Banten Irjen Pol Suyudi Ario Seto menjelaskan bahwa mobil tersebut kemudian dijual ke beberapa pihak hingga akhirnya dikuasai oleh seorang oknum TNI AL berinisial Sertu AA.
Di lokasi inilah terjadi tarik-menarik antara pihak korban dan pelaku, yang berujung pada penembakan.
Kronologi versi TNI AL
Panglima Koarmada RI Laksdya TNI Denih Hendrata mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut bermula dari adanya permasalahan pembelian mobil. Ia juga menyebutkan bahwa tiga anggotanya, yakni Sertu AA, Sertu RH, dan KLK BA, dikeroyok sekitar 15 orang di lokasi kejadian.
Kronologi Berdasarkan Kesaksian Keluarga Dari pihak keluarga korban, kronologi kejadian memberikan perspektif yang berbeda. Anak korban, Agam, menjelaskan bahwa keluarganya melacak keberadaan mobil tersebut secara mandiri setelah dua dari tiga GPS yang terpasang di mobil mati.
hukum dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujar Denih.Kronologi Berdasarkan Kesaksian Keluarga
Dari pihak keluarga korban, kronologi kejadian memberikan perspektif yang berbeda. Anak korban, Agam, menjelaskan bahwa keluarganya melacak keberadaan mobil tersebut secara mandiri setelah dua dari tiga GPS yang terpasang di mobil mati.
Dengan bermodal satu GPS yang masih aktif, mereka menemukan mobil tersebut berada di Rest Area Kilometer 45.
“Kami melacak mobil itu sampai ke Rest Area Kilometer 45, dan di sana kami bertemu dengan pelaku. Saat mencoba mengambil kembali mobil, kami malah ditodong pistol,” ujar Agam.
Agam juga menyebutkan bahwa sebelum kejadian, ia sempat melapor ke Polsek Cinangka terkait dugaan penggelapan mobil, tetapi tidak mendapat respons yang memadai.
“Pelaku adalah oknum anggota TNI. Kami berharap dia dipecat dan diproses hukum sesuai perbuatannya,” tambah Agam.




















