Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Betapa cerdiknya, kalau tak boleh dibilang licik, Joko Widodo mengadu domba para tersangka kasus tudingan ijazah palsu S1 UGM miliknya. Ibarat sekawanan domba, Presiden ke-7 RI itu melemparkan sejumput rumput yang kemudian diperebutkan. Domba-domba itu pun saling seruduk.
Sejumput rumput itu adalah pengampunan Jokowi kepada Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, yang kemudian “dikunyah” kedua tersangka itu dengan “restorative justice”, sehingga terbitlah Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari Polda Metro Jaya, dan gugurlah status tersangka Eggi dan Damai. Eggi sudah tidak “sujana” (curiga) lagi kepada Jokowi, dan Damai pun sudah berdamai dengan wong Solo itu.
Sebenarnya ada delapan tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi. Selain Eggi dan Damai, ada pula Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr Tifa. Dengan diampuninya Eggi dan Damai, kini tinggal ada enam orang tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi.
Sejak awal memang Eggi dan Damai berada di klaster yang berbeda dengan Roy, Rismon dan Tifa atau RRT. Klaster RTT inilah yang tidak bakal diampuni Jokowi, seandainya pun mereka minta maaf atau sowan seperti Eggi dan Damai.
SP3 Eggi dan Damai pun menjadi bahan olok-olok dan tertawaan kubu Roy Suryo. Merasa difitnah dan dicemarkan nama baiknya, Eggi dan Damai kemudian melaporkan Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin ke Polda Metro Jaya. Khozinudin adalah pengacara Roy Suryo.
Roy Suryo pun tertawa merespons pelaporan dirinya itu. Roy kemudian meminta dua tuyul, yang kemungkinan besar ditujukan kepada Eggi dan Damai, agar diperiksa Polda Metro Jaya.
Pendek kata, ibarat sekawanan domba yang semula akur, kini Roy Suryo saling seruduk dengan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis.
Jokowi pun dalam hati tertawa. Strateginya mengadopsi politik adu domba atau devide et impera yang pernah diterapkan Belanda saat menjajah Indonesia ternyata berhasil.
Devide et impera! Pecah dan kuasailah! Ketika Roy Suryo dkk sudah terpecah dengan Eggi dan Damai, “domba-domba” itu kini dalam penguasaan penuh Jokowi.
Ada yang bilang Eggi yang mau berdamai mendapatkan kompensasi dari Jokowi, meskipun praduga semacam ini belum tentu benar. Keberadaan Eggi di Malaysia yang kedapatan menggunakan mobil mewah akhirnya dikait-kaitkan dengan “sowan”-nya Eggi bersama Damai kepada Jokowi di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Terlepas dari apakah benar Eggi menerima sesuatu dari Jokowi atau tidak, demikian pula Damai, yang jelas reputasi kedua sosok itu sebagai aktivis kini jatuh terjerembab ke titik nadir.
Apalagi Eggi sempat menjadi Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) yang semula berupaya mengadvokasi Roy Suryo dkk melawan Jokowi.
Pun Damai yang kerap menyebut dirinya sebagai Mujahid 212, di mana 212 merujuk pada aksi demonstrasi anti-Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 2 Desember 2016 yang berhasil menumbangkan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta bahkan memenjarakannya dalam kasus penistaan agama.
Lebih parah lagi, Eggi yang semula selalu mencaci-maki Jokowi kini berbalik 180 derajat dengan memuji-muji bekas Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Solo itu.
Itu semua terjadi karena adu domba ala Jokowi.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

















