Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, Fusilatnews – Kehidupan bak roda pedati yang terus berputar. Dalam terminologi Jawa disebut Cakra Manggilingan. Kadang posisi kita di atas, kadang di bawah. Yang “abadi” adalah posisi di as atau sumbu roda. Dan as itu adalah hati nurani.
Demikianlah prinsip hidup yang diyakini I Gusti Agung Rai Wirajaya SE MM, sehingga anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini tetap santai dan “enjoy” kendati masa pensiun sudah membayang di depan mata.
Bersama 574 anggota DPR RI lainnya, per 1 Oktober 2024 nanti Agung Rai harus hengkang dari Senayan karena masa bakti DPR RI periode 2019-2024 telah paripurna atau habis.
Kecuali bagi yang mencalonkan diri lagi di Pemilu 2024 dan terpilih, mereka akan lanjut lagi berkantor di Kompleks DPR/DPD/MPR RI di Senayan, Jakarta Pusat.
Agung Rai yang sudah empat periode menjadi wakil rakyat dari Bali, yakni periode 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024 memilih tidak maju lagi di Pemilu 2024. Lalu apa alasannya?
“Supaya ada regenerasi. Kita beri kesempatan kader-kader muda untuk membawa bendera estafet di Senayan,” kata Agung Rai di Jakarta, Selasa (20/8/2024).
Ataukah mengapa ia tidak melanjutkan pengabdian di Senayan dengan maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Pemilu 2024 lalu jika memang bermaksud memberikan kesempatan kepada kader-kader muda partainya?
“Saya orang partai, dan saya kira sudah cukup pengabdian saya di Senayan. Mengabdi bisa di mana saja. Di partai, di masyarakat, atau di mana saja. Ibaratnya dari rakyat kembali ke rakyat,” cetus politikus “low profile” kelahiran Bali 16 Desember 1965 ini, meskipun berasal dari kasta tertinggi di struktur sosial agama Hindu, sehingga nama depannya menggunakan I Gusti.
“Apalagi periode sebelumnya saya juga sudah di DPRD Provinsi Bali,” cetusnya.
Dengan kembali menjadi rakyat biasa, bukan anggota Dewan atau wakil rakyat, maka Agung Rai serasa kembali ke habitatnya, yakni rakyat. Tak ada “post power syndrome”.
“Jabatan itu kan amanah dan sementara. Yang tidak sementara adalah menjadi rakyat. Kalau amanah sudah harus dikembalikan, ya kita kembalikan. Saya akan terus membersamai rakyat, bukan sekadar wakil rakyat. ‘No post power syndrome’,” tukasnya.
Bersyukurnya, kata Agung, selama menjadi wakil rakyat baik di DPRD Provinsi Bali maupun DPR RI, dirinya bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, baik tugas dari partai yakni menyuarakan kepentingan PDIP, maupun tugas dari rakyat, yakni menyuarakan aspirasi rakyat atau konstituen yang diwakilinya di parlemen.
Dengan empat periode berturut-turut terpilih menjadi anggota DPR RI, hal itu menjadi bukti bahwa Agung Rai dapat menjalankan tugas dari partai dan konstiruennya dengan sebaik-baiknya. “Saya juga bersyukur karena bisa mengakhiri pengabdian di Senayan dengan akhir yang baik (husnul khatimah, red),” ungkapnya.
Karena sadar kehidupan ini bak roda pedati yang terus berputar, atau Cakra Manggilingan, maka ketika berada di atas Agung Rai tidak merasa di atas angin atau jemawa. Begitu pun ketika berada di bawah, menjadi rakyat biasa, ia tidak akan minder atau berkecil hati.
“Itu karena kita selalu menempatkan diri pada as, dan as itu adalah hati nurani. Kalau kita senantiasa menggunakan hati nurani, mudah-mudahan kita akan selamat di mana pun,” terangnya.
Apalagi berkiprah di dunia politik yang menurut Agung Rai bak hutan belantara, tidak jelas siapa kawan dan siapa lawan, suatu saat bisa saling menjatuhkan, dengan prinsip “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya), sehingga yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang.
“Nah, untuk menghadapi dan menyiasati itu semua, kuncinya adalah tetap berpegang teguh pada hati nurani, karena suara hati nurani adalah suara Tuhan, tak seorang pun bisa mengalahkannya,” tandasnya.





















