Fusilatnews – Dalam sejarah peradaban manusia, para nabi datang membawa risalah yang membumi. Ajaran-ajaran mereka, dari Ibrahim hingga Muhammad SAW, tidak berdiri di atas mantra dan keajaiban instan. Mereka mengajarkan kerja keras, pengorbanan, perjuangan, bahkan peperangan yang penuh risiko. Namun, ajaran yang dibawa Yusuf Mansur justru seolah berasal dari dunia yang belum pernah dikenal sejarah kenabian: dunia penuh janji keajaiban tanpa usaha, doa-doa ajaib tanpa perubahan perilaku, dan keyakinan pada kekuatan sedekah yang terdistorsi.
Yusuf Mansur menjual gagasan bahwa doa dan sedekah bisa menjadi semacam “jalan pintas spiritual” untuk meraih sukses dunia. Ia menjajakan konsep yang menggiurkan: sedekah satu, kembali seribu; berdoa sepenuh hati, lalu rezeki datang bertubi-tubi. Gaya dakwahnya tak ubahnya motivator spiritual yang menyulap spiritualitas menjadi investasi. Ia menciptakan narasi bahwa hidup bisa berubah hanya dengan mengucap mantra-mantra ajaib yang dibungkus dengan dalil-dalil tafsir personal.
Padahal, dalam Al-Qur’an sendiri, Tuhan telah menetapkan satu prinsip dasar dalam perubahan hidup: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’d:11). Artinya, perubahan adalah hasil dari tindakan, bukan sekadar permohonan. Doa adalah bagian dari ikhtiar, bukan pengganti usaha.
Rasulullah SAW pun tak pernah mengajarkan umatnya untuk bersandar hanya pada doa. Dalam perang Badar, Uhud, hingga Khandaq, beliau mempersiapkan strategi, mengatur pasukan, bahkan menggali parit dengan tangannya sendiri. Rasul tidak pernah mengandalkan keajaiban sebagai cara utama. Ia menang dan juga kalah. Ia berkeringat dan berdarah, sebagai bentuk nyata perjuangan di jalan Allah.
Namun, ajaran Yusuf Mansur justru berlawanan dengan semangat ini. Ia berlebihan dalam mengajarkan doa, seolah-olah Tuhan bisa dibujuk dengan pujian dan sedekah semata. Ia mempopulerkan kisah-kisah ajaib tentang orang yang tiba-tiba kaya karena sedekah, tanpa mengajarkan bahwa sistem ekonomi juga menuntut kerja, tanggung jawab, dan perencanaan. Ajarannya lebih mirip mistisisme pasar bebas daripada dakwah Islam.
Lebih dari itu, ajaran yang ia sebarkan tidak berdampak pada nasib dirinya sendiri. Paytren, aplikasi digital yang ia promosikan sebagai jalan ekonomi umat, akhirnya bangkrut. Jamaah yang diharapkan menjadi pemodal keajaiban, justru menjadi korban. Utang-utang kepada mereka belum terbayar. Kontraktor masjid pun tak menerima haknya. Semua ini menunjukkan bahwa keajaiban yang ia tawarkan hanya berlaku dalam retorika, bukan kenyataan. Seperti menjual mimpi, lalu kabur saat mimpi itu berubah menjadi beban nyata.
Ironisnya, kerja utama Yusuf Mansur hari ini bukanlah berdakwah dalam arti membawa umat menuju kesadaran, tapi mengelilingi Indonesia meminta sedekah. Ia menyampaikan “projek-projek akhirat” yang membutuhkan dana umat, tanpa transparansi dan akuntabilitas yang jelas. Gaya seperti ini nyaris menyerempet pada praktik penipuan. Ia mengambil kepercayaan jamaah, dan menukarnya dengan harapan-harapan kosong.
Dengan demikian, ajaran Yusuf Mansur bukan hanya tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah, tapi juga membahayakan nalar umat. Ia membius umat agar malas berpikir dan enggan berusaha, karena terlalu percaya pada keajaiban. Padahal Islam adalah agama yang menuntut kerja, ikhtiar, dan pertanggungjawaban.
Dalam dunia di mana akal dan iman seharusnya berjalan beriringan, Yusuf Mansur justru menyeret kita ke dunia di mana doa dijadikan bisnis, sedekah dijadikan komoditas, dan keajaiban dijadikan produk unggulan. Sebuah ajaran yang lahir jauh sebelum para nabi turun ke bumi—karena para nabi, tidak pernah menjanjikan surga dunia melalui mantera. Mereka justru menuntun kita menempuh jalan panjang penuh perjuangan, agar kita bisa memahami makna hidup secara utuh dan bertanggung jawab.






















