Jakarta, Fusilatnews – PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) kini menghadapi tantangan serius dalam regenerasi kader. Keduanya kesulitan menambah kader baru, yang menjadi sumber utama bagi organisasi mereka. “Jika mata airnya kering, otomatis alumninya pun akan habis,” ujar DR Sofyan A. Djalil dalam Diskusi Muktamar 7 dan Reuni Akbar Keluarga Besar PII (KB PII), 15-17 September 2024 di Hotel Sahid, Jakarta.
PII dan HMI, menurut Sofyan, cenderung memiliki watak politik yang dominan, namun kurang dalam melahirkan kader pengusaha yang bisa memengaruhi banyak orang. “Hal ini membuat banyak kader HMI tersebar di berbagai partai politik, sementara kader ideologis PII kini tak lagi hanya berada di partai-partai pinggiran,” tambahnya.
Sofyan juga mengkritik kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang menurutnya masih lemah dalam hal keterampilan dan sikap (attitude) ketika bekerja sebagai pegawai, politisi, atau pengusaha. Ia menggambarkan tantangan yang dihadapi Indonesia dengan perbandingan industri lama dan baru: “Bagaimana menghadapi situasi di pabrik gula yang baru dengan teknologi modern yang lebih efisien, dibanding pabrik gula lama yang padat pekerja?”
Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Sutrisno Bachir, DR Burhanudin Abdullah, Prof Muhadjir Effendy, Bahlil Lahadalia, dan Prof Arif Satria, Sofyan menyampaikan bahwa Indonesia harus mengambil pelajaran dari jatuhnya para pemimpin negara-negara Arab Spring, yang dipicu oleh tingginya pengangguran di kalangan kaum intelektual di kota-kota besar. “Kita harus menghindari kekacauan seperti di Venezuela, di mana jutaan orang terpaksa mengungsi akibat krisis politik dan ekonomi,” tegasnya.
Dalam Muktamar 7 KB PII ini, Nasrulah Larada terpilih kembali sebagai Ketua Umum untuk periode ketiga berturut-turut (2024-2029), hasil persidangan yang dipimpin Ahmad Suka Atmaja. “Semoga KB PII terus melahirkan kader-kader pemimpin reformasi di masa depan,” tutup Sofyan.
Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting, termasuk mantan Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla, Hidayat Nur Wahid, Fuad Bawazier, Ahmad Muzani, dan Abdul Karim Nakib.
Sponsor
Acara ini didukung oleh berbagai sponsor, termasuk Gizidat, Pertamina, BPJS, dan PLN.





















