Ali Mochtar Ngabalin adalah politikus Partai Golkar yang berkarier di istana. Presiden Jokowi merekrutnya sebagai tenaga ahli utama KSP sejak 23 Mei 2018.
Jakarta – Fusilatnews – Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), yang mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Golkar di daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Tenggara, hanya memperoleh 7.001 suara dalam Pemilu 2024. Namun, sayangnya, ia gagal melenggang ke Senayan.
Partai Golkar, melalui perhitungan Sainte Lague, hanya mendapat satu kursi dari enam yang tersedia di Sulawesi Tenggara. Kursi tersebut menjadi hak caleg petahana Ridwan Bae yang berhasil meraih 84.440 suara.
Sementara itu, lima kursi lainnya jatuh ke tangan caleg dari berbagai partai, yaitu PKB, Gerindra, PDIP, NasDem, dan PAN. Caleg PKB Jaelani memperoleh 116.426 suara, caleg Gerindra Bahtra 85.596 suara, caleg PDIP Ahmad Safei 58.466 suara, caleg NasDem Tina Nur Alam 68.863 suara, dan caleg PAN Abdurrahman Shaleh 63.325 suara.
Pada Pemilu Serentak 2024, Ali Mochtar Ngabalin mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI melalui Partai Golkar dan mengajukan cuti dari KSP selama masa kampanye.
Meskipun Ngabalin tidak berhasil meraih kursi di DPR RI, tiga dari enam kursi di dapil Sulawesi Tenggara berhasil dipertahankan oleh caleg petahana, termasuk Ridwan Bae dari Golkar, Tina Nur Alam dari NasDem, dan Bahtra dari Gerindra.
Ali Mochtar Ngabalin merupakan politikus Partai Golkar yang memiliki karier di lingkungan istana. Ia diangkat sebagai tenaga ahli utama KSP oleh Presiden Jokowi sejak 23 Mei 2018.
Sebelumnya, Ngabalin dikenal sebagai sosok yang kerap mengkritik pemerintahan Jokowi. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Politik Tim pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 dan terlibat dalam aksi-aksi seperti 212 dan 411 yang menentang pemerintahan Jokowi.
Setelah bergabung dengan pemerintahan, Ngabalin menjadi pembela setia Jokowi dan menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak. Meski demikian, ia menyatakan kesiapannya untuk mengabdikan diri demi kepentingan umat, bangsa, dan negara.


























