Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
Jakarta – Anomali. Itulah fenomena di Indonesia. Tak ada standar. Termasuk standar moral. Bahkan koruptor pun dielu-elukan bak pahlawan. Ataukah mereka memang benar-benar pahlawan, paling tidak bagi sebagian orang?
Lihat saja Anas Urbaningrum. Menjelang kebebasannya dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, bulan April ini, mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang menjadi narapidana korupsi proyek Hambalang ini hendak disambut 1.000-2.000 pendukungnya di depan penjara begitu ia melangkahkan kaki keluar. Acara buka bersama pun sudah dipersiapkan.
Anas tak seorang diri. Sebelumnya, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin, yang terjerat kasus yang sama dengan Anas, juga dielu-elukan para pendukungnya, bahkan sejak yang bersangkutan menjadi tersangka.
Mantan Bupati Batang, Jawa Tengah, Bambang Bintoro juga mengalami hal yang sama. Saat keluar dari penjara, politikus PDI Perjuangan itu disambut para pendukungnya dengan musik rebana.
Aat Syafaat (kini mendiang) pun demikian. Begitu keluar dari penjara, politikus Partai Golkar yang juga mantan Walikota Cilegon, Banten, ini disambut oleh walikota penggantinya yang tak lain anaknya sendiri, Iman Ariyadi, dan Ketua DPRD Kota Cilegon Ifaqih Usman, serta para pendukungnya yang menumpang 51 bus. Iman Ariyadi kemudian menyusul menjadi tersangka korupsi.
Masih banyak yang lain yang akan terlalu panjang untuk ditulis di sini. Intinya, para koruptor itu dielu-elukan bak seorang pahlawan.
Di sinilah batas antara pecundang dan pahlawan bias. Apakah mereka seorang pecundang? Bagi publik yang masih memegang teguh moralitas, ya! Tapi bagi mereka yang pragmatis dan merasa diuntungkan, mungkin para koruptor itu adalah pahlawan.
Mereka dikurung di penjara karena perjuangannya, bukan karena kesalahannya. Mungkin demikian persepsi mereka.
Atau mungkin pula mereka dianggap sudah menebus kesalahan atau “dosa” selama menjalani “pertapaan” di lapas, sehingga ketika keluar dianggap laiknya bayi yang baru lahir atau reinkarnasi.
Tak heran jika kemudian banyak koruptor yang sekeluarnya dari penjara tetap eksis di ruang publik. Mereka tak canggung-canggung tampil di muka umum. Sebut saja mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy, dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alfian Mallarangeng yang aktif berbicara di depan wartawan tentang politik dengan muka “innocent”. Mungkin mereka merasa sudah menebus kesalahannya dengan “bertapa” di penjara.
Anas Pahlawan?
Kembali ke Anas Urbaningrum, benarkah Anas seorang pahlawan, bukan pecundang, sehingga dielu-elukan? Mungkin benar. Tapi itu bagi sebagian orang atau pendukungnya. Apalagi masih terngiang di telinga kita akan ucapan mantan komisiner Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu yang heroik. Katanya, jika terima uang dari proyek Hambalang serupiah saja, dirinya siap digantung di Monas!
Simak saja pernyataan loyalis Anas, Gede Pasek Suardika. Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), partai yang kelahirannya ikut dibidani Anas, itu yakin kisah Anwar Ibrahim akan terulang pada Anas. Mantan anggota DPR dari Partai Hanura itu juga akan memberikan jabatan strategis bagi Anas. Bahkan, Anas akan dilibatkan dalam menentukan arah PKN ke depan.
Anwar Ibrahim dimaksud adalah Perdana Menteri Malaysia (PM) saat ini. Sebelum menjadi PM, Anwar adalah Wakil PM yang dipenjarakan oleh Mahathir Mohammad, PM Malaysia saat itu, dengan tuduhan korupsi dan kejahatan seksual. Setelah bebas, Anwar Ibrahim terpilih menjadi PM!
Memang, bagi Anas dan para pendukungnya, mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR itu masuk penjara karena dizalimi dan dikriminalisasi, laiknya Anwar Ibrahim. Entah oleh siapa. Sebab itu, secara tersamar Anas tak sekali-dua menebarkan semacam “ancaman” untuk membuka kotak Pandora di mana orang-orang yang menzaliminya diduga ada di dalamnya.
Menjelang bebas, Anas juga menulis surat yang menyinggung soal kezaliman dan kriminalisasi. Dia juga meminta sahabatnya untuk tetap tenang dan menjaga kondusivitas. Berikut isi surat tulisan tangan Anas yang beredar di media:
“Ada saatnya pergi, ada waktunya pulang. Insyaallah beberapa waktu tersisa menjalani pengasingan akan tunai dengan baik. Saya paham para sahabat marah terhadap kezaliman dan kriminalisasi.
Tetap tenang, sabar, dan menjaga suasana kondusif adalah hal yang baik untuk dilakukan.
Kita akan terus berjuang bersama untuk keadilan dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab.”
Tidak itu saja. Beberapa waktu lalu ada papan iklan raksasa di sisi jalan tol arah dari Jakarta ke Jatikarya, Bekasi, Jawa Barat, yang sempat membuat heboh publik. Sebab, baliho yang memuat foto Anas Urbaningrum itu berdiri tak jauh dari kediaman Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Bogor.
Diketahui, Anas memiliki hubungan yang panas dengan SBY dan Partai Demokrat sejak kasus Hambalang mencuat ke publik. Baliho itu memuat tulisan singkat ‘Tunggu Beta Bale’ yang berarti “tunggu aku kembali”.
Apakah sekeluar dari penjara nanti Anas Urbaningrum akan benar-benar menjadi pahlawan dengan membuka kotak Pandora di mana tokoh-tokoh tertentu ada di dalamnya?
Kita tidak tahu. Yang jelas, Anas sudah terlanjur dianggap sebagai pahlawan oleh para pendukungnya.
Di sinilah terkadang kita merasa sedih. Sebab, bangsa ini seakan sudah tidak punya standar moral lagi. Semua nisbi. Relatif. Anomali. Batas antara pecundang dan pahlawan bahkan lebih tipis dari kulit ari. Tergantung dari sudut mana kita memandang. Koruptor pun tetap eksis di ruang publik.





















