Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
JAKARTA – “Strategi adalah senjata utama dalam perang,” kata Sun Tzu (544-496 SM), jenderal, filsuf dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno.
“Jangan pernah meremehkan kata-kata,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat berbicara di acara Milenial Fest 2019 di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Sabtu (14/12/2019).
Untuk melantangkan kata-kata diperlukan mikrofon dan pengeras suara seperti salon.
Lalu, apa hubungannya antara strategi, kata-kata dan mikrofon? Bertanyalah kepada Anies Baswedan. Dialah mungkin yang paling tahu akan korelasi antara strategi, kata-kata dan mikrofon itu.
Anies menjadikan kata-kata sebagai bagian dari strategi politiknya. Strategi adalah senjata utama dalam perang, termasuk perang memperebutkan suara dalam pemilu.
Anies adalah salah satu kandidat calon presiden yang elektabilitasnya tinggi, hanya terkalahkan oleh Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo menurut survei berbagai lembaga. Ada pula partai politik yang sudah terang-terangan mengusung Anies sebagai capres dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 bersama Ganjar Pranowo.
Anies berseru, kata-kata tidak boleh diremehkan, karena kata-kata akan menjadi jembatan antara gagasan dan aksi. Tanpa kata-kata, gagasan tidak akan bisa diwujudkan dalam karya.
Sebab itulah Anies selalu mengandalkan kata-kata sebagai strategi politiknya. Ketika kata “gusur” menjadi momok warga yang tinggal di bantaran sungai, misalnya, dia ganti menjadi “geser”. Ketika kata-kata “normalisasi sungai” identik dengan gubernur yang digantikannya, ia ganti dengan “naturalisasi sungai”.
Begitu pun nama “rumah sakit” yang ia ganti menjadi “rumah sehat”, dan sebagainya.
Ketika banyak yang menstigma dirinya sebagai gubernur yang ahli tata kata, bukan tata kota, Anies pun langsung menyanggah, “Jangan pernah meremehkan kata-kata”.
Sedemikian identiknya Anies dengan politik kata-kata, sampai-sampai ada yang mem-branding mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu melalui buku berjudul, “Jangan Remehkan Kata-kata: Kutipan Pemikiran Anies Baswedan”.
Pendek kata, kata-kata dijadikan Anies sebagai strategi politiknya, dan strategi adalah senjata utama dalam perang.
Untuk melancarkan kata-kata sebagai strategi politiknya, diperlukan mikrofon dan pelantang suara seperti salon. Sebab itu, ke mana-mana pihak Anies menenteng mikrofon dan salon. Termasuk ketika diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan korupsi Formula E Jakarta 2022, Rabu (7/9/2022) lalu.
Saat datang ke KPK di pagi hari, pihak Anies sudah membawa mikrofon dan salon serta memasangnya di lobi utama gedung KPK. Namun, saat itu mikrofon tidak sempat digunakan karena Anies langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
Barulah pada malam harinya setelah diperiksa penyidik KPK selama 11 jam, Anies menggunakan mikrofon bawaannya itu untuk berbicara kepada media.
Atas pemandangan yang tak lazim itu, Juru Bicara KPK Ali Fikri langsung mengklarifikasi bahwa KPK tidak pernah menyediakan mikrofon bagi pihak-pihak yang diperiksa, apakah sebagai saksi, terperiksa, atau tersangka. Akhirnya terbukti Anies membawa mikrofon sendiri ke KPK. Nah, lho!
Bukan kali ini saja Anies membawa mikorofon ke KPK. Setahun sebelumnya, tepatnya pada 21 September 2021, saat diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan di Munjul, Kelurahan Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Anies juga membawa mikrofon dan salon.
Lalu, untuk apa Anies repot-repot membawa mikrofon dan salon sendiri? Usut punya usut, ternyata hal tersebut patut diduga sebagai bagian dari strategi politik Anies dalam menghadapi media.
Dengan berbicara di depan mikrofon, maka ada jarak antara Anies dan media. Anies pun bisa bermonolog di depan media, tanpa dialog yang bisa membuatnya terpojok.
“Door stop” yang lazimnya dilakukan media pun dapat dihindarkan. Anies lolos dari berondongan pertanyaan media yang biasanya sangat kritis dan memojokkan. Apalagi ini tentang korupsi.
Saat dikejar awak media untuk wawancara usai Anies bermonolog di lobi gedung KPK, para relawan pengawalnya mencoba menghalang-halangi. Akhirnya kericuhan antara relawan Anies dan awak media tak terelakkan. Ricuh tak masalah. Bagi mereka, yang penting Anies bisa lolos dari kejaran wartawan.
Saat bermonolog, kata-kata Anies sudah dikemas sedemikian rupa, sehingga mampu menyihir dan membuat terkesima siapa pun yang mendengarnya. Apa kata dia? “Saya ke sini untuk membantu KPK membuat terang-benderang perkara,” katanya.
Padahal, ia diperiksa untuk suatu kasus dugaan korupsi yang ia ketahui dan tidak tertutup kemungkinan melibatkan dirinya. Anies memang jago menata kata.
Alhasil, strategi Anies Baswedan membawa mikrofon dan pelantang suara untuk melancarkan politik kata-kata terbukti nyata hasilnya.Akhirnya, seperti Mbah Surip memperlakukan gitar kesayangannya, Anies pun demikian terhadap mikrofonnya, “dak gendong ke mana-mana”. Itulah!


























