Jakarta, Fusilatnews, 21 November 2024 – Calon Presiden Prof. Dr. H. Anies Rasyid Baswedan menjadi pembicara utama dalam acara peluncuran buku “Anies Baswedan: Buku, Kopi, Film, Bola, dan Cerita Lainnya” karya Yayat R. Cipasang dan Yusuf Blegur. Acara yang berlangsung di Pusat Dokumentasi HB Yasin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, turut menghadirkan panelis seperti Romadhon Pohan (anggota DPR), Refly Harun (pakar hukum), dan Ayat Ruhiyat (wartawan).
Dalam pidatonya, Anies mengapresiasi perkembangan Pusat Dokumentasi HB Yasin, yang awalnya dikelola dengan keterbatasan. Ia menceritakan bahwa Ayib Rosyidi, pimpinan pusat dokumentasi tersebut, semula meragukan langkah untuk memperbaiki fasilitas tersebut. Namun, Anies meyakinkan bahwa kolaborasi yang baik dapat mewujudkan kemegahan seperti yang terlihat saat ini.
“Alhamdulillah, hasil kerja bersama membuat tempat ini menjadi megah seperti sekarang. Pengelolaan dokumentasi dan sejarah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan diserahkan secara sembarangan,” ujar Anies.
Narasi Kebangsaan dan Kepemimpinan
Anies juga membahas pentingnya narasi dan gagasan dalam membangun bangsa. Ia menyinggung Piagam Jakarta sebagai muqaddimah jihad kemerdekaan yang menjadi fondasi pembentukan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, kepemimpinan yang baik mampu menghasilkan pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas melalui narasi yang jelas dan solutif.
Ia mengkritik ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya, seperti pembangunan rest area di berbagai daerah. “Pembangunan rest area seharusnya menjadi hak koperasi masyarakat setempat, bukan dimonopoli oleh pihak pusat. Ini adalah bagian dari implementasi sila kelima Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Anies.
Buku dan Diskusi Bulanan
Buku “Anies Baswedan: Buku, Kopi, Film, Bola, dan Cerita Lainnya” yang diluncurkan dalam acara tersebut menjadi salah satu karya yang mengangkat berbagai kisah inspiratif dan pemikiran Anies. Diskusi buku ini dimoderatori oleh Yusuf Blegur, dengan rencana untuk menjadikannya bagian dari diskusi bulanan oleh komunitas Bronies.
Anies menutup pidatonya dengan pesan tentang semangat perjuangan yang harus terus diperbarui. “Gerakan kemerdekaan harus disesuaikan dengan tantangan zaman, melalui musyawarah dan kolaborasi rakyat serta pemerintah. Kemerdekaan bukan hanya soal selesai, tapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran literasi dan kebudayaan sebagai bagian dari perjuangan mencapai Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.(Mahdi)





















