Paranoia Symptoms itu orang yang mudah tersinggung. Sulit mempercayai orang lain.Tidak mampu mengatasi segala jenis kritik. Memberikan arti berbahaya pada ucapan orang lain. Bersikap defensif. Bersikap bermusuhan, agresif dan argumentatif. Tidak mau berkompromi.
Bila Agama yang menjadi dasar anda memilih dari tiga orang Islam Capres 24 ini; Prabowo, Ganjar dan Anies, maka yang tersolehlah yang akan anda pilih, bukan? Tetapi bila Prestasi dan Kinerja masa lalu, yang menjadi pertimbangan anda memilih, tentu saja siapa diantara mereka yang paling berprestasi, ya kan? Aspek lain, soal Korupsi, umpamanya. Pilihan anda jatuh pada sosok yang paling bersih, betul? Kemudian, hal lain. Bila ketiga Capres 24 itu dianggap, buruk semua. Maka masih ada pertimbangan lain untuk dapat memilih diantara mereka yang dari yang terburuk itu, yaitu “yang terbaik diantara yang terburuk (the best among the worst)”.
Logika waras tersebut, menjadi suatu kehawatiran alias paranoid, sehingga jawaban itu jatuh kepada Anies. Dan itu tidak sesuai dengan harapan mereka yang sedang berkuasa. Terutama Jokowi, ia masih tetap pamrih dengan suksesi kepemimpinan mendatang.
Dibuatlah design survey untuk serbuan opini publik. Capres hasil akal waras itu, ditempatkan pada posisi urutan ketiga. Masih belum cukup itu, Presiden bahkan mengumpulkan Ketum-Ketum Parpol, yang menjadi lawan Anies Baswedan. Alasan apapun yang paling masuk akal adalah, undangan Jokowi itu adalah siasah “siaga menggempur Anies Baswedan?”.
Ikhtiar lain menjegal Anies Baswedan adalah “silaturahmi ke Cikeas”. Pertama kali Golkar, disusul oleh Cak Imim, dan selanjutnya Prabowo. Bacaannya adalah menguktip pernyataan jujur dari Cak Imin; “ AHY itu kuat imannya – tidak tergoda oleh bujukan PKB”
Pertanyaannya, kalau memang elektabilitas Anies berada di posisi ketiga, mengapa banyak pihak merasa terancam oleh keberadaan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini sehingga perlu menjegalnya? Bahkan enam ketua parpol koalisi pendukung pemerintah sampai “taktis meeting” di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/5/2023), minus Surya Paloh, padahal Nasdem merupakan parpol anggota koalisi.
Mengutip dari tulisan Dr Anwar Budiman SH MH, Praktisi Hukum dan Pemerhati Politik “Kalau memang Anies menjadi ancaman terkait kesinambungan program pembangunan, bukankah itu normatif saja? Biasa terjadi. Jangankan ganti presiden, ganti menteri ganti kebijakan saja sudah biasa?”
Selanjutnya…Sebenarnya tidak perlu ada yang paranoid, karena jika suatu program pembangunan itu bagus, maka niscaya akan Anies lanjutkan. Lihat saja “track records” atau rekam jejak Anies saat memimpin Jakarta. Program pendahulunya yang baik dilanjutkan, bahkan ditingkatkan, sementara program yang kurang baik akan dievaluasi atau bahkan dihentikan, dan itu normatif saja sebenarnya.
Atau ada pihak-pihak yang memang ketakutan akan ada masalah di kemudian hari jika Anies berkuasa karena mantan Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, ini dikenal tegas dan bersih?
Dari semua gerak langkah melawan Anies Baswedan, dalil ghaib yang disampaikan Malaikat dari langit adalah; “Hasil survey nomer urut 3, digempur oleh kekuatan yang dahsyat dari segala jurusan, adalah karena Anies Baswedan unggul dalam kalkulasi mereka”. Lalu malaikat langit itu-pun berbisik lagi; “suara dan kehendak rakyat tidak akan pernah terkalahkan oleh balatentara fir’aun sekalipun”.
Sebenarnya malaikat itu quoted ayat qur’an ini ; “ja’al haq wa jahaqal bathila – innal bathila kana jahuqqo”, QS Al-Isra 81. Artinya “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap”.























