• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Anies: Panggil Aku Pak Yo!

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
December 31, 2022
in Feature
0
Panitia Beberkan Anies Baswedan Tak Diundang di Reuni 212

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (foto: Okezone)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media

Jakarta – Dengan senang hati, Anies Baswedan menerima pemberian nama Yohanes dari seorang pendeta bernama Robert saat berkunjung ke Sentani, Jayapura, Papua, medio Desember lalu. Kini, nama mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjadi Yohanes Anies Baswedan. Yohanes memang padu-padan dengan Anies, sehingga terdengar ritmis.

Yohanes! Nama ini biasanya dipakai sebagai nama baptis ketika seseorang menjadi Nasrani. Maklum, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai tokoh yang berseru-seru di padang gurun, “Luruskan jalan bagi Tuhan”, sehingga namanya pun paling banyak dijadikan sebagai nama baptis. Juga, kalau tidak salah, nama salah satu surat di dalam Injil, kitab suci umat Nasrani.

Pertanyannya, mengapa nama Yohanes dilekatkan dengan Anies Baswedan yang seorang Muslim, dan penerimanya pun senang-senang saja? Ini politik Bung. Pertama, Anies adalah calon presiden 2024 dari Partai Nasdem. Sebagai capres, ia ingin mendapat dukungan dari komponen masyarakat mana pun, termasuk kalangan Kristiani.

Kedua, citra Anies selama ini lekat dengan politik identitas. Bahkan saat Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies berselancar di atas gelombang para pendukungnya yang memanfaatkan identitas agama (Islam) sebagai materi kampanye.

Dengan menyandang nama Yohanes, citra kelam itu ia harapkan bersangsur pulih dan kemudian kembali bersinar terang dan akhirnya dicitrakan sebagai tokoh pluralis. Ia bukan semata-mata milik kaum Muslim, melainkan juga milik kaum Nasrani.

Dengan itu, usai menerima nama Yohanes, barangkali sambil berkeliling menyalami para pendukungnya di Papua, Anies dalam hati berkata, “Panggil aku Pak Yo!”

Hal yang sama mungkin akan ia lakukan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Kristiani seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara. Kita tunggu saja tanggal mainnya!

Antara Pluralisme dan Pluralitas

Entah apa yang berkecamuk dalam benak Anies Baswedan saat menerima pemberian nama itu. Mungkin ia senyum-senyum kecut atau tertawa geli. Sebab, mustahil dia tak paham makna toleransi beserta batas-batasnya, yakni Surat Al Kafirun ayat (6) yang berbunyi, “lakum dinukum waliyadin”, yang artinya, “untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Atau mungkin Anies mau mencampuradukkan ajaran agama, atau dalam terminologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebut “pluralisme agama”? Apa itu pluralisme agama?

Mengutip Keputusan Fatwa MUI Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama, “pluralisme agama” adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

“Pluralisme agama” juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Sedangkan “pluralitas agama” adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

Kini, Anies berada di antara pluralisme agama dan pluralitas agama. Anies mungkin sebatas bergerak di wilayah “pluralitas agama”, bukan di wilayah “pluralisme agama”, meskipun definisi ala MUI ini tidak lazim. Secara ilmiah, “pluralisme” didefinisikan sebagai keberagaman, toleransi, dialog dan komitmen.

Dalam definisi umum, pluralisme adalah keberagaman atau majemuk dengan ikatan aktif kepada kemajemukan tersebut, toleransi dengan usaha aktif untuk memahami orang lain, dan pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Pluralisme adalah sebuah ikatan.

Anies juga mungkin paham apa yang dikatakan William Shakespeare (1564-1616), pujangga terbesar Inggris, yakni, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” kata yang artinya kurang lebih, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

Sebab itu, sekali lagi, saat berada di Papua dan menyapa masyarakat setempat, barangkali Anies dalam hati berkata, “Panggil aku Pak Yo! Hal itu tidak akan mengubah aku menjadi Nasrani!”

Ya, sebagai kandidat capres, mungkin Anies sekadar menerapkan asas manfaat, dengan harapan mendapat dukungan suara dari masyarakat Papua yang mayoritas Nasrani. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata pepatah.

Bagaimana Jika Lawan Politik?

Pertanyaannya, bagaimana jika kandidat capres lainnya, katakanlah Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto, diberi nama serupa yang bernuansa Nasrani, baik oleh komunitas warga di Papua, Maluku, NTT, Sulut, atau Sumut di mana mayoritas pemeluk Nasrani tinggal di sana, apakah para pendukung fanatik Anies Baswedan tidak akan “mencak-mencak” dan kemudian beramai-ramai mengeluarkan “fatwa haram” untuk memilih Ganjar atau Prabowo?

Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, seorang pendukung fanatik Anies, Novel Bamukmin, sudah melancarkan pembelaan bagi Anies. Menurut dia, meskipun Yohanes adalah nama baptis, namun Anies ia sebut tidak meyakini hal itu, sehingga tidak ada masalah.

Kalau sudah begini, akhirnya semua menjadi relatif, absurd, nisbi. Itu semua terjadi karena sudah ada muatan politik. Alhasil, pertentangan di ranah publik yang selama ini terjadi di antara para pendukung Anies dan anti-Anies, sesungguhnya bukan soal agama, melainkan soal politik. Itulah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi Resmi Cabut PPKM

Next Post

Politik Ulat Keket

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Ragam Wajah Politik Identitas

Politik Ulat Keket

PBB  Minta pendapat hukum Mahkamah Internasional tentang Pendudukan Israel atas wilayah Palestina

PBB  Minta pendapat hukum Mahkamah Internasional tentang Pendudukan Israel atas wilayah Palestina

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist