Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
Jakarta – Dengan senang hati, Anies Baswedan menerima pemberian nama Yohanes dari seorang pendeta bernama Robert saat berkunjung ke Sentani, Jayapura, Papua, medio Desember lalu. Kini, nama mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjadi Yohanes Anies Baswedan. Yohanes memang padu-padan dengan Anies, sehingga terdengar ritmis.
Yohanes! Nama ini biasanya dipakai sebagai nama baptis ketika seseorang menjadi Nasrani. Maklum, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai tokoh yang berseru-seru di padang gurun, “Luruskan jalan bagi Tuhan”, sehingga namanya pun paling banyak dijadikan sebagai nama baptis. Juga, kalau tidak salah, nama salah satu surat di dalam Injil, kitab suci umat Nasrani.
Pertanyannya, mengapa nama Yohanes dilekatkan dengan Anies Baswedan yang seorang Muslim, dan penerimanya pun senang-senang saja? Ini politik Bung. Pertama, Anies adalah calon presiden 2024 dari Partai Nasdem. Sebagai capres, ia ingin mendapat dukungan dari komponen masyarakat mana pun, termasuk kalangan Kristiani.
Kedua, citra Anies selama ini lekat dengan politik identitas. Bahkan saat Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies berselancar di atas gelombang para pendukungnya yang memanfaatkan identitas agama (Islam) sebagai materi kampanye.
Dengan menyandang nama Yohanes, citra kelam itu ia harapkan bersangsur pulih dan kemudian kembali bersinar terang dan akhirnya dicitrakan sebagai tokoh pluralis. Ia bukan semata-mata milik kaum Muslim, melainkan juga milik kaum Nasrani.
Dengan itu, usai menerima nama Yohanes, barangkali sambil berkeliling menyalami para pendukungnya di Papua, Anies dalam hati berkata, “Panggil aku Pak Yo!”
Hal yang sama mungkin akan ia lakukan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Kristiani seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara. Kita tunggu saja tanggal mainnya!
Antara Pluralisme dan Pluralitas
Entah apa yang berkecamuk dalam benak Anies Baswedan saat menerima pemberian nama itu. Mungkin ia senyum-senyum kecut atau tertawa geli. Sebab, mustahil dia tak paham makna toleransi beserta batas-batasnya, yakni Surat Al Kafirun ayat (6) yang berbunyi, “lakum dinukum waliyadin”, yang artinya, “untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.
Atau mungkin Anies mau mencampuradukkan ajaran agama, atau dalam terminologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebut “pluralisme agama”? Apa itu pluralisme agama?
Mengutip Keputusan Fatwa MUI Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama, “pluralisme agama” adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.
“Pluralisme agama” juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
Sedangkan “pluralitas agama” adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
Kini, Anies berada di antara pluralisme agama dan pluralitas agama. Anies mungkin sebatas bergerak di wilayah “pluralitas agama”, bukan di wilayah “pluralisme agama”, meskipun definisi ala MUI ini tidak lazim. Secara ilmiah, “pluralisme” didefinisikan sebagai keberagaman, toleransi, dialog dan komitmen.
Dalam definisi umum, pluralisme adalah keberagaman atau majemuk dengan ikatan aktif kepada kemajemukan tersebut, toleransi dengan usaha aktif untuk memahami orang lain, dan pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Pluralisme adalah sebuah ikatan.
Anies juga mungkin paham apa yang dikatakan William Shakespeare (1564-1616), pujangga terbesar Inggris, yakni, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” kata yang artinya kurang lebih, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”
Sebab itu, sekali lagi, saat berada di Papua dan menyapa masyarakat setempat, barangkali Anies dalam hati berkata, “Panggil aku Pak Yo! Hal itu tidak akan mengubah aku menjadi Nasrani!”
Ya, sebagai kandidat capres, mungkin Anies sekadar menerapkan asas manfaat, dengan harapan mendapat dukungan suara dari masyarakat Papua yang mayoritas Nasrani. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata pepatah.
Bagaimana Jika Lawan Politik?
Pertanyaannya, bagaimana jika kandidat capres lainnya, katakanlah Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto, diberi nama serupa yang bernuansa Nasrani, baik oleh komunitas warga di Papua, Maluku, NTT, Sulut, atau Sumut di mana mayoritas pemeluk Nasrani tinggal di sana, apakah para pendukung fanatik Anies Baswedan tidak akan “mencak-mencak” dan kemudian beramai-ramai mengeluarkan “fatwa haram” untuk memilih Ganjar atau Prabowo?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, seorang pendukung fanatik Anies, Novel Bamukmin, sudah melancarkan pembelaan bagi Anies. Menurut dia, meskipun Yohanes adalah nama baptis, namun Anies ia sebut tidak meyakini hal itu, sehingga tidak ada masalah.
Kalau sudah begini, akhirnya semua menjadi relatif, absurd, nisbi. Itu semua terjadi karena sudah ada muatan politik. Alhasil, pertentangan di ranah publik yang selama ini terjadi di antara para pendukung Anies dan anti-Anies, sesungguhnya bukan soal agama, melainkan soal politik. Itulah!
























