• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Antitesa Kepemimpinan

fusilat by fusilat
October 21, 2022
in Feature
0
Antitesa Kepemimpinan

Zulfan Lindan. (FOTO/nasdem.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Zulfan Lindan

Jakarta – Saya dituding memancing kegaduhan politik usai mengatakan bahwa Anies Baswedan adalah antitesis Presiden Jokowi pada sebuah diskusi di forum dialog Total Politik-detikcom. Pernyataan saya berujung pada teguran dari NasDem, partai yang saya ikut melahirkan. Saya tak pernah diundang untuk memberikan penjelasan. Juga tak pernah diberi ruang untuk membela diri. Tiba-tiba surat peringatan untuk saya dari kepengurusan beredar di media sosial.
Surat ini baru saya terima setelah ramai di linimasa dan grup-grup WA. Ini mengesankan elite partai dimana selama ini saya mengabdi, bukan ingin ‘mengingatkan’ namun mempermalukan. Tak sekedar menonaktifkan saya dari kepengurusan yang sebenarnya saya tidak duduk lagi sebagai pengurus DPP Nasdem sejak saya ditetapkan sebagai komisaris Jasa Marga tahun 2020. Surat peringatan yang dikirimkan ke media sosial itu juga mempertontonkan arogansi dan kekuasaan. Karena alih-alih mengajak saya berbicara, mereka lebih memilih menyebar surat itu kemana-mana.

Tapi sudahlah. Hal ini menunjukkan di dalam tubuh partai ini tanda-tanda otoritarianisme semakin menampakkan diri sebagai tesis. Sebagaimana teori dialektika yang dikembangkan oleh GW Friedrich Hegel, di dalam tesis selalu terkandung antitesis. Ironi dari peristiwa yang saya hadapi justru ketika saya sedang berbicara perkara pentingnya memperhatikan antitesis kepemimpinan sebagai kebutuhan perubahan, partai saya sendiri terkesan panik dan ketakutan.

Sebagaimana ‘manusia merdeka’ lainnya, saya siap menghadapi risiko dan konsekuensi dari apa yang saya lakukan. Karena, persoalan bangsa jauh lebih besar ketimbang mengurusi kasus ini. Urusan saya dengan partai saya terlalu kecil. Dan saya akan memberikan pelajaran kepada partai saya tentang substansi demokrasi dan kemerdekaan berpendapat.

Saya justru ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan maksud dari antitesis yang saya sampaikan. Sesuatu yang lebih mengutamakan gagasan mengapa menurut saya Anies Baswedan adalah sebuah antitesis.

Saya ulangi sekali lagi dengan gamblang apa yang saya sampaikan. Antitesis itu saya alamatkan kepada sosok Anies Baswedan. Sementara tesisnya adalah Presiden Jokowi. Tanpa pretensi menjadi deterministik, keduanya menurut saya adalah kebutuhan dan bagian dari perjalanan bangsa ini. Presiden Jokowi telah memerankan dirinya berdasarkan laku dan praxis yang telah dipilih dan memberi warisan kepada negeri ini. Setelahnya menurut pembacaan saya, Indonesia memerlukan perbedaan dan kebaruan dan bukan kemiripan dan kemapanan.

Anies Baswedan menurut saya menyediakan hal itu dibanding calon-calon presiden lainnya. Dan lebih penting lagi tugas politik saya adalah mengingatkan Anies Baswedan untuk menyiapkan diri dan memiliki visi. Menjadikan dirinya sebagai antitesis dari era sebelumnya. Bukan hanya karena cara itu yang akan membuat Anies memenangkan Pilpres melainkan karena itulah jalan sejarah yang dibutuhkan demi kemajuan Indonesia. Saat saya menyampaikan pentingnya antithesis, saya berbicara di dalam konteks teori dialektika yang saya pahami. Saya tidak sedang berbicara politik dukung-mendukung semata. Apalagi ‘mempertentangkan’ Presiden Jokowi dengan Anies Baswedan secara hitam putih.

Jika dulu saya mendukung Jokowi dan kini mendukung Anies Baswedan itu bukan karena ketidaksukaan pribadi atau politik, melainkan melihat keduanya sebagai proses dan kontinuum yang dialektis. Sikap saya terhadap siapa yang tepat menggantikan Presiden Jokowi tidak ditentukan atau menunggu siapa gerangan sosok yang diinginkan Presiden Jokowi dan koalisinya, namun oleh pembacaan saya pribadi terhadap kebutuhan bangsa ini. Tentu saja penilaian saya bisa salah saat menilai Anies Baswedan akan menjadi antitesis Presiden Jokowi. Sebab itulah diskusi gagasan di ruang publik menjadi penting guna menguji argumentasi.

Anies Baswedan Antitesis Jokowi

Tanpa berpretensi menjadi filosofis, saat saya mengatakan hubungan Anies Baswedan dan Presiden Jokowi sebagai hubungan tesis dan antitesis adalah dalam kerangka teori dialektika. Dalam pemahaman saya, dialektika itu melihat relasi tesis-antitesis-sintesis sebagai relasi internal yang saling terhubung untuk menjelaskan sekaligus menyelesaikan kontradiksi inheren di dalam relasi itu sendiri. Karena menurut Hegel, seluruh sejarah dunia adalah sejarah pergumulan kontradiksi dan dialektika.

Setiap tesis selalu menyediakan kontradiksi di dalam dirinya, siapapun itu dan sehebat apapun itu, yang kemudian melahirkan antitesis. Kontradiksi itu di dalam dialektika Hegelian tidak muncul dari luar tesis, melainkan justru dari dalam dirinya. Unsur antitesis selalu terkandung di dalam tesis begitu juga sintesis selalu terkandung di dalam tesis dan antitesis karena hubungan relasional di internal.

Dialektika Hegel ingin mengajarkan kepada kita untuk melihat realitas sebagai suatu proses. Proses tersebut melewati tahap-tahap tertentu yang penuh logika negasi terhadap negasi. Namun negasi itu sebenarnya merupakan antitesis yang nantinya akan melampaui tesis dan antitesis sebelumnya.

Dalam konteks Pilpres 2024, pengertian negasi itu bukan berarti membuat Anies Baswedan jika terpilih menjadi presiden, mengabaikan hal-hal yang bisa bahkan harus dilanjutkan dari kepemimpinan sebelumnya, namun keperluan untuk melihat dirinya sebagai antitesis demi menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi sebelumnya dan demi tersedianya sintesis atau perubahan terus-menerus yang senantiasa selalu dibutuhkan bangsa ini.

Presiden Jokowi sudah berkiprah dan akan meninggalkan warisan penting bagi bangsa ini terutama penyediaan infrastruktur yang berorientasi publik kuat. Tanpa keraguan saya memuji dan mengapresiasi capaian ini. Namun mengikuti dialektika Hegelian, di dalam diri Jokowi sebagai presiden, secara objektif ia juga meninggalkan kontradiksi-kontradiksi kepemimpinan yang tak terelakkan. Persis pada titik itulah saya ingin mengemukakan pendapat saya bahwa dari calon-calon presiden lain, Anies Baswedan adalah antitesis yang paling tersedia dan meyakinkan guna menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini. Pembacaan saya ini bisa diuji dan diperdebatkan, tentunya dengan kacamata dialektika.

Mengapa saya merasa harus menjelaskan hal itu karena pelbagai pihak bertanya soal dasar pikiran mengapa partai saya mendukung Anies Baswedan menjadi bakal calon presiden. Saya bertanggung jawab terhadap pilihan partai saya mendukung Anies Baswedan karena itu saya berbicara.

Jika saja kita menghargai kebebasan asal yang kita miliki, diskusi publik tentang perlunya Anies Baswedan atau siapa saja calon kuat lainnya menjadi antitesis dari era sebelumnya mungkin lebih banyak manfaatnya bagi bangsa ini daripada upaya pembungkaman dengan beragam alasan.

Koalisi di mana partai saya ada di dalamnya akan berjalan hingga 2024 dan itu komitmen politik yang kami pegang teguh bersama Presiden Jokowi. Namun setelah 2024 Indonesia harus berjalan terus. Dan soal siapa yang akan menggantikan Presiden Jokowi adalah soal gagasan yang harus didiskusikan. Partai saya sudah memilih untuk memulai diskusi ini dengan menetapkan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden. Menurut saya pilihan itu tak terelakkan dan harus dijelaskan secara transparan. Menurut saya ini jauh lebih penting daripada menindas kebebasan berekspresi dan berusaha membungkam kader sendiri dengan alasan kepentingan disiplin koalisi.

Dikutip Detik.com, Kamis 20 Oktober 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gejolak Politik Inggris Semakin Dalam, PM Liz Truss Mundur

Next Post

Hoaks! Viral Daftar Obat Sirup Penyebab Gagal Ginjal Akut

fusilat

fusilat

Related Posts

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai
Economy

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026
Economy

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Next Post
Hoaks! Viral Daftar Obat Sirup Penyebab Gagal Ginjal Akut

Hoaks! Viral Daftar Obat Sirup Penyebab Gagal Ginjal Akut

Haris Azhar: Negara Sibuk Pidanakan Saya Ketika Papua Semakin Memburuk

Nah, KontraS Kritik 3 Tahun Jokowi-Ma'ruf: Demokrasi Ambruk!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist