“Mencerdaskan kehidupan bangsa”, adalah legacy dari para founding fathers. Tetapi ada persoalan kemudian. Bagaimana mewujudkan hidayah kecerdasan ini menjadi berkah untuk seluruh anak bangsa. Apa itu? Bangsa ini harus diasuh oleh akal sehat. Ia adalah keseimbangan antara potensi rational dan emotional discourses. Peradaban manusia seutuhnya. Hampir semua negara maju hingga yang terbelakang, “pembangunan anak bangsanya” adalah prioritas utamanya. Bahkan Belanda-pun, tidak bisa melangsungkan kolonialismenya, bersama inlader yang dungu. Maka dibangunlah system Pendidikan, System Kesehatan dan penunjang-penunjangnya (infra structure).
Semiotika “mencerdaskan kehidupan bangsa”, yang tersurat dalam preambul konstitusi, belum melahirkan Indonesia sebagai konsekuensi logis, sehingga melahirkan system “mencerdaskan keidupan bangsa” secara khas teritegrasikan. Dimana leading sektornya; Pendidikan, Kesehatan dan Asupan Konsumsi. Catatan dibidang Kesehatan, bahan baku obat-obatan masih import. Pun bahan pokok pangan, seperti beras, pakan ternak masih tergantung pada pasokan impor.
System Pendidikan Indonesia, tidak termasuk dalam peringkat 100 negara terbaik di dunia. Sebagai referensi, mari kita lihat negara mana yang masuk pada peringkat 20 teratas dunia. Kemudian kita bandingkan tegak lurus dengan kesejahteraan rakyat dan bangsanya; Peringkat pertama Korea Selatan, Jepang, Singapore, Hongkong, Finlandia, Inggris Raya, Kanada, Belanda, Irlandia, Polandia, German, Rusia, USA, Australia, New Zealand, Israel, Republik Ceko dan peringkat ke 20 adalah Swiss.
Indonesia secara yuridis, menetapkan anggaran Pendidikan sebesar 20% dari total APBN. Seperti apa konfigurasnya? Ini dia ; Anggaran pendidikan Indonesia, menurut data dari laman resmi Sekretariat Negara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2018 telah mengalokasikan dana pendidikan sebesar Rp 444, 131 triliun. Kementerian Agama (Kemenag) memperoleh alokasi terbesar yaitu Rp 52,681 triliun, disusul oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebesar Rp 40,393 triliun, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebesar Rp40,092 triliun. Sisanya tersebar bagi 17 kementerian dan lembaga lain diantaranya Kemenkominfo (Rp 51,614 miliar), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Rp 52,800 miliar), KLH (Rp 99,297 miliar), Kementerian ESDM (Rp 109,756 miliar), serta Kementerian Koperasi dan UKM (Rp 115 miliar).
Angaka-angka tersebut, akan menjadi jelas, dimana posisi Indonesia, ketika kita konkordasikan dengan 10 negara dengan biaya pendidikan tertinggi di dunia, untuk setiap orangnya:
1. Luxemburg US$ 22.430/tahun (Rp 318,5 juta)
Luexemburg merupakan satu negara kecil di Eropa yang dikelilingi oleh Jerman, Belgia, dan Prancis, dimana biaya pendidikannya menjadi yang tertinggi di dunia. Negara ini menggunakan bahasa Jerman sebagai salah satu bahasa resmi. Adapun biaya pendidikan tinggi (universitas/diploma) di Luxeburg mencapai US$ 48.907 (Rp 694,4 juta).
2. Amerika Serikat US$ 16.518/tahun (Rp 234,5 juta)
Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini ternyata merupakan yang termahal ke-2 di dunia. Namun tidak sedikit juga orang-orang Indonesia yang mengenyam pendidikan di sini. Pada jenjang pendidikan tinggi, setiap siswa harus mengeluarkan biaya sebesar US$ 30.0003 (Rp 426 juta) per tahun.
3. Norwegia US$ 15.705/tahun (Rp 223 juta)
Salah satu negara di wilayah Skandinavia ini terkenal dengan iklimnya yang sangat dingin. Salah satu kampus terkenal di Norwegia adalah University of Oslo. Adapun biaya pendidikan tinggi di Negeri Viking ini mencapai US$ 20.973 (Rp 297,8 juta) per tahun.
4. Austria US$ 15.043/tahun (Rp 213,6 juta)
Seperti Jerman, Austria juga dikenal sebagai negara dengan industri otomotif yang maju. Salah satu merk otomotif asal Austria adalah KTM, yang terkenal dengan produk motor trail. Agar dapat mengenyam pendidikan tinggi di Austria, para siswa harus merogoh kocek sebesar US$ 17.555 (Rp 249,2 juta) per tahun.
5. Inggris US$ 13.355/tahun (Rp 189,6 juta)
Sudah bukan rahasia lagi bahwa industri pendidikan di Inggris merupakan salah satu yang paling populer. Bahkan sebuah lembaga penyedia jasa pendidikan, Pearson, mengungkapkan bahwa industri pendidikan di Negeri Ratu Elizabeth merupakan yang paling menguntungkan di dunia. Biaya pendidikan tinggi di Inggris mencapai US$ 26.320 (Rp 373,7 juta) per tahun.
6. Swedia US$ 13.289/tahun (Rp 188,7 juta)
Negara ini terkenal dengan produk-produk furnitur yang telah mendunia. Salah satu merk furnitur yang paling berjaya adalah IKEA, yang mana juga telah masuk ke Indonesia. Biaya pendidikan tinggi di Swedia mencapai US$ 24.417 (Rp 346,7 juta) per tahun.
7. Belgia US$ 12.900/tahun (Rp 183,1 juta)
Belgia merupakan negeri di Eropa yang terkenal akan produk-produk coklat. Dari mulai permen hingga campuran eskrim coklat asal Belgia telah sukses dipasarkan di seluruh dunia. Padahal tidak ada tanaman kakao yang tumbuh di sini. Biaya pendidikan tinggi di Belgia mencapai US$ 17.320 (Rp 245,9 juta) per tahun.
8. Australia US$ 12.829/tahun (Rp 182,1 juta)
Negeri Kanguru merupakan negara yang memiliki kekuatan di pasar komoditas hasil pertambangan, seperti batu bara dan bijih besi. Selain itu Australia juga terkenal akan produk pertanian, seperti gandum, yang biasa diimpor oleh Indonesia. Biaya pendidikan tinggi di sini mencapai US$ 20.344 (Rp 288,8 juta) per tahun.
9. Belanda US$ 12.730/tahun (Rp 180,7 juta)
Kerajaan Belanda merupakan salah satu tujuan favorit orang Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri. Salah satu yang paling favorit adalah Utrecht University yang terletak di kota Utrecht, berjarak 43 kilometer dari Ibukota Amsterdam. Biaya pendidikan tinggi di Belanda dalah US$ 19.286 (Rp 273 juta) per tahun.
10.Jerman US$ 12.139/tahun (Rp 172,3 juta)
Jerman merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, dan sekaligus keempat di dunia. Industri otomotif menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Negeri Panzer. Tak heran raksasa otomotif dunia, Volkswagen (VW) lahir di Jerman. Biaya pendidikan tinggi di Jerman mencapai US$ 17.036 (Rp 241,9 juta) per tahun.
Mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak berdiri sendiri. Ia harus, mutlak, sinergi dengan aspek lain; Kesehatan, lingkungan sosial dan lingkungan hidupnya.
Masalah kesehatan di Indonesia seakan masih panjang dan belum menemukan ‘titik terang’ penyelesainnya. Sebagai contoh, pada kasus kematian ibu saat melahirkan. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2015 menyebutkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia berada di angka 305 untuk setiap 100 ribu kelahiran.
Kondisi yang jauh berbeda terjadi pada Negara-negara yang tergolong maju. Data dari WHO, tercatat rata-rata angka kematian ibu (AKI) di Negara-negara maju berada di angka 12-14 kasus per 100 ribu kelahiran. Bahkan, Negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, dan Jepang hanya mencatatkan rata-rata 6-7 kasus kematian ibu per 100 ribu kelahiran.
Gizi Buruk.
Malnutrisi atau gizi buruk. Ia adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang sangat umum. Kondisi ini rentan dialami oleh mereka yang masih berusia anak-anak. Gizi yang buruk berakibat pada sejumlah komplikasi kesehatan serius pada anak yang mengalaminya.
Salah satu akibat malnutrisi atau gizi buruk tersebut adalah stunting. Stunting adalah kondisi malnutrisi kronis di mana penderitanya mengalami gangguan pertumbuhan, dalam hal ini, tinggi badan. Ya, seorang anak dikatakan mengidap stunting ketika ia memiliki tinggi badan lebih pendek dari tinggi badan ideal untuk ukuran anak seusianya (merujuk standar baku WHO-MGRS).
Masalahnya, masih banyak masyarakat yang percaya bahwa stunting ini erat kaitannya dengan faktor genetik. Kendati hal tersebut benar, namun para orangtua juga harus paham bahwa stunting juga bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti: Pola makan yang salah.
Kurangnya asupan nutrisi yang seimbang. Cara mengasuh anak tidak benar. Higienitas lingkungan tempat tinggal dan Finansial.
Kondisi malnutrisi tidak hanya berdampak pada terhambatnya pertumbuhan. Lebih dari itu, masalah kesehatan di Indonesia ini menyebabkan penurunan kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga dapat mengancam daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia.
Tuberkulosis (TBC) adalah masalah kesehatan selanjutnya yang marak terjadi di Indonesia. Data dari WHO menyebutkan bahwa Indonesia menjadi Negara dengan penderita TBC terbesar kedua di dunia.
Melansir situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) yakni depkes.go.id, berdasarkan Rakekesnas 2018, jumlah penderita TBC di Indonesia mencapai 759 per 100 ribu penduduk berusia 15 tahun ke atas. Pria menjadi kelompok yang lebih banyak mengidap penyakit ini, sementara wilayah perkotaan menjadi titik TBC terbanyak.
Penyakit menular juga menjadi penyumbang terbesar masalah kesehatan di Indonesia. DBD, malaria, leptospirosis, flu babi, hingga HIV/AIDS adalah contoh penyakit menular yang sudah ‘akrab’ dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sejumlah langkah pun telah dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi pelbagai masalah kesehatan tersebut. Khusus HIV/AIDS, Pemerintah terus memperbaiki segala elemen yang berkaitan dengan pengobatan penyakit ini, mulai dari tenaga medis, fasilitas kesehatan, tata laksana penanganan, hingga laboratorium.
Selain itu, sebuah sistem bernama Early Warning and Responds System (EWARS) adalah cara lainnya yang dilakukan Negara guna mencegah penyebaran penyakit menular.
Penyakit Tidak Menular
Indonesia juga menghadapi ‘serangan’ penyakit tidak menular. Sebut saja komplikasi paru-paru dan sistem pernapasan secara keseluruhan, yang mana hal ini berkaitan dengan kualitas udara yang buruk, terutama di daerah perkotaan. Diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan tak ketinggalan, kanker, adalah penyakit tidak menular lainnya yang sampai saat ini masih terus menghantui rakyat Indonesia.
Gangguan Jiwa
Dihimpun dari berbagai sumber, Indonesia memiliki kuantitas pengidap gangguan jiwa yang cukup banyak, yakni sekitar 14 juta jiwa. Bahkan, 400 ribu di antaranya disebut mengidap gangguan jiwa parah. Hal ini menjadikan gangguan jiwa menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang memerlukan perhatian khusus guna menekan peningkatan jumlahnya. Pasalnya, hal ini turut memengaruhi kualitas dan produktivitas masyarakat Indonesia, yang lantas juga berdampak terhadap daya saing bangsa Indonesia di dunia.
Komsumsi
Sesederhana bagaimana Sri Lanka, dapat mencetak banyak intelektual dan professors muda, produk dari kebijakan pembagian susu gratis untuk bayi-bayi yang lahir. Angka konsumsi protein yang tinggi, taruh saja di kalangan negara-negara ASEAN, identik dengan kemajuan bangsanya. Say Singapore.
Protein hewani (daging) adalah sumber pangan yang sangat baik untuk masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Kandungan asam aminonya yang lengkap. Tatapi bangsa ini, tingkat konsumsi protein hewani, terutama daging sapi, jauh tertinggal di bawah rata-rata dunia bahkan dinegara-negara ASEAN.
Kekurangan protein hewani menyebabkan lambatnya laju pertumbuhan badan serta tingkat kecerdasan terutama pada anak-anak. Mereka adalah potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Masalah ini akan menimbulkan efek jangka Panjang, yaitu kualitas SDM kita pada masa yang akan datang. Sementara logistic tersedianya daging sapi, ayam, tahu dan tempe, masih sangat tergantung kepada import.
Daging sapi masuk sebagai salah satu komoditas strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2010 hingga 2014 lalu, hingga akhirnya pada tahun 2014 pemerintah mencanangkan swasembada daging sapi. Data BPS menunjukkan bahwa tren konsumsi daging sapi di Indonesia sempat meningkat pada tahun 2017 hingga 2019. Namun pada tahun 2020, rata-rata konsumsi daging sapi di Indonesia kembali menurun hingga tahun 2021.
Penurunan rata-rata konsumsi daging sapi di Indonesia pada Maret 2021 terhadap Maret 2020 ialah sebesar 2,6 persen. Menurunnya tingkat konsumsi daging sapi pada masyarakat Indonesia disebabkan oleh adanya kenaikan harga, utamanya akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia sempat terpuruk sehingga daya beli masyarakat menurun.

























