Masih dalam ingatan kita, saat PM Abe, ditembak oleh Tetsuya Yamagami. Belakangan diketahui ada kelalaian polisi. Kepala Polisi, Itaru Nakamura, langsung menyatakan mengundurkan diri. Ia mengumumkan pengunduran dirinya usai penyelidikan, menemukan kelalaian dalam pengamanan mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe.
Lalu, dunia pernah dihebohkan oleh sebuah berita, juga dari jepang, yaitu Permohonan maaf dari Tsukuba Express. Ia adalah perusaan Kereta Api swasta yang berangkat 20 detik lebih awal dari jadwal semula. Kereta Tsukuba Express seharusnya meninggalkan Stasiun Minami Nagareyama pukul 9:44:40, tetapi malah melaju lebih awal pada pukul 9:44:20.
“Kami meminta maaf sedalam-dalamnya karena menyebabkan gangguan yang luar biasa pada pelanggan,” kata perusahaan Tsukuba Express, dikutip dari berbagai media online. Keberangkatan yang lebih awal dan tidak menyebabkan seorang pun ketinggalan kereta. Meski tidak ada laporan keluhan dari pelanggan mengenai kejadian tersebut, perusahaan merasa perlu meminta maaf karena layanan KA Jepang terkenal menjaga komitmen pelayanan.
Mari kita, bandingkan, apa sikap pemerintah, saat perwakilan Aremamania, melayanglan somasi, antara lain kepada presiden, untuk meminta ma’af.
“Saya rasa langkah-langkah yang telah diambil Presiden dalam hal ini jauh lebih konkret dan bermakna dibanding sekadar menyampaikan permintaan maaf. Dan karenanya langkah yang telah diambil Presiden dalam hal ini patut kita apresiasi alih-alih diberikan somasi,” tutur Dini Purnomo, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo (Jokowi.
Ia mengatakan masih menunggu surat somasi terkait untuk dibaca dan dipelajari. Menurut Dini presiden sudah menyampaikan duka cita yang mendalam atas tragedi sepak bola di Kanjuruhan.
Aremania mengajukan somasi kepada sejumlah pihak, Salah satunya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait Tragedi Kanjuruhan di Malang. Insiden yang terjadi usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022). Tragedi Kanjuruhan, Tragedi paling hitam dalam sejarah sepak bola dunia terjadi di Indonesia. Ada hampir 200 nyawa anak manusia hilang dari usia balita, dewasa, sampai orang tua.
Bagaimana dengan PSSI? Proses evaluasi akan dilaporkan langsung ke Jokowi secara berkala. “Saya sekuat tenaga akan bekerja ekstra keras bersama jajaran dalam proses evaluasi supaya tidak ada celah lagi (sebabkan hal yang tak diinginkan). Saya akan melaporkan proses evaluasi tersebut, demikian diberitakan Kompas.
Setiap perkembangan yang ada, akan saya laporkan kepada Presiden. Usai malam kejadian sampai nanti selesai, saya akan terus di Malang,” tambahnya. Iriawan mengatakan, selain evaluasi, Presiden juga meminta Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk secepatnya merampungkan investigasi tragedi itu.
Apa yang akan tersisa dari perisitiwa “Kanjuruhan” itu? Pertama, dalam benak ini, terbesit akan hilangnya rasa keadilan, terutama dalam penegakan hukum. Membaca dari pengalaman. Dan kedua, hilangnya pesan moral; rasa bersalah dan budaya kemanusiaan (permohonan ma’af).
Dunia mencatat, seperti dibentangkan dalam spanduk Bayern München, 100 people killed by the police
Ini edukasi buruk yang tergores dalam relief sejarah bangsa.


























