Fusiltanews – Ada yang roboh di negeri ini, Saudara-saudara. Bukan cuma tiang listrik yang dihantam truk kontainer, bukan pula atap stadion yang ambruk karena anggaran dipotong demi membangun ibu kota fatamorgana. Yang ambruk kini lebih dalam: singgasana integritas, pilar keilmuan, bahkan sebutir ijazah yang tadinya dibingkai kaca di dinding Istana—ternyata, konon katanya, bisa dicetak di Pasar Pramuka.
Astaga!
Pasar Pramuka itu bukan Balai Pustaka. Bukan pula percetakan Universitas Gadjah Mada. Pasar itu, kalau kita berjalan-jalan ke sana, akan lebih banyak menjual alat suntik, vitamin ayam, bahkan ramuan tak jelas dengan label “penambah stamina suami” daripada menjual kejujuran akademik. Tapi begitulah: dari pasar inilah kini muncul secarik kertas sakti bertuliskan “Sarjana Ekonomi..eh Pertanian—Ir. Joko Widodo”. Entah siapa yang pertama kali membuka kedoknya, tapi berita ini—bak cambuk bagi akal sehat—membuat kita tercekat: benarkah seorang Presiden RI menyandang ijazah dari kios pinggir jalan?
Jika ini hanya kabar burung, kita bisa usir dengan ketapel logika. Tapi sayang, burung ini bukan sembarangan. Ia kini bersarang di kepala publik, karena sang rektor universitas ternama justru tampil dengan wajah tenang, senyum akademik, dan berkata: “Ijazahnya asli, Saudara!”
Asli dari mana, Bu Rektor? Dari almamater atau dari alat master?
Rektor UGM, yang seharusnya berdiri tegak sebagai penjaga benteng keilmuan, kini seperti anak remaja yang baru dibohongi pacarnya. Bingung, tapi tetap berlagak percaya. Seolah-olah kertas ijazah bisa bicara sendiri dan berkata, “Aku otentik, walau dicetak dua hari lalu.”
Mari kita tarik napas panjang. Bangsa ini sedang belajar demokrasi, tapi jangan ajarkan bahwa kejujuran bisa dipalsukan. Kalau ijazah Presiden saja bisa dibeli di pasar, maka gelar profesor pun tak lebih dari label botol kecap.
Meminta Presiden menunjukkan ijazah adalah wajar. Di Amerika, presiden diperiksa pajaknya, di Prancis disorot disertasinya, di Jepang ditelusuri silsilah sekolahnya. Tapi di negeri ini, ketika rakyat bertanya, “Pak, ini ijazahnya gimana ya?”—yang dijawab justru dengan kemarahan, laporan polisi, dan stempel pencemaran nama baik.
Lantas rektor pun ikut berjoget dalam absurditas. Bukannya bersikap akademik, ia malah seperti tukang stempel di kantor kelurahan. Lantas publik pun bertanya: “Siapa yang harus dipercaya: kampus atau kios percetakan?”
Jika benar ijazah dicetak ulang di Pasar Pramuka, dan kampus diam seribu bahasa, maka kita tidak sedang membicarakan keaslian ijazah. Kita sedang menyaksikan runtuhnya kewarasan kolektif. Maka tak ada cara lain: pecat Rektor UGM dan tuntut secara hukum. Bukan semata karena ia membela, tapi karena ia abai terhadap esensi: bahwa ijazah bukan sekadar kertas, melainkan simbol kejujuran, kerja keras, dan legitimasi ilmu.
Saudara-saudara, bangsa yang besar bukan bangsa yang gedung istananya menjulang, tapi yang nilai-nilai moralnya tak mudah tumbang. Kalau rektor bisa berkata “asli” tanpa audit, kalau percetakan bisa meniru segel universitas, maka benarlah kata orang tua dulu: negeri ini sudah lama lulus dari akal sehat.
Ijazah Pasar Burung Pramuka bukan cuma sindiran, tapi tugu nisan untuk akuntabilitas.


























