Fusilatnews – Di negeri ini, masalah bukan sekadar sesuatu yang harus diselesaikan. Ia adalah industri. Sebuah ekosistem yang tumbuh subur, lengkap dengan rantai pasok, logistik, dan tenaga kerja terampil: para buzzer dan relawan politik yang menggantungkan hidup pada turbulensi opini publik.
Sebab bagi sebagian orang, masalah adalah musibah.
Tapi bagi buzzer dan relawan Jokowi—masalah adalah rezeki halal tanpa label halal.
Masalah: Sumber Penghasilan Paling Stabil
Sejak awal, mereka sudah tahu satu prinsip sederhana:
Semakin banyak masalah, semakin besar peluang kerja.
Setiap rumor, kegaduhan, kritik, atau suara tidak puas adalah notifikasi pekerjaan baru. Mereka tidak butuh KPIs, tidak butuh SOP, apalagi audit. Cukup tunggu satu komentar miring tentang pemerintahan, maka rekening siap menerima vitamin.
Ekonomi digital?
Ekonomi kreatif?
Salah besar.
Yang jauh lebih menjanjikan adalah ekonomi konflik.
Setiap masalah bisa dikonversi langsung menjadi engagement, thread, dan tentunya—invoice.
Jika Tak Ada Masalah? Ya Bikinlah.
Buzzer yang baik tidak menunggu masalah datang.
Ia menciptakan masalah — demi kelangsungan ekosistem.
Ketika publik mulai tenang dan fokus pada hidup masing-masing, mereka merasa terancam. Sunyi berarti tak ada kerja. Tenang berarti tidak ada permintaan produksi narasi. Maka terciptalah masalah-masalah baru yang tidak diminta:
- Statistik manipulatif,
- Tuduhan serampangan,
- Narasi “kita diserang,”
- Dan yang paling favorit: menyalahkan lawan politik yang bahkan belum buka mulut.
Masalah diciptakan bukan untuk dipikirkan, tapi untuk dikapitalisasi.
Masalah Membuat Mereka Penting
Tanpa masalah, buzzer dan relawan hanyalah barisan akun tanpa fungsi.
Tapi dengan masalah?
Mereka menjadi “PASUKAN.”
Pasukan yang konon menjaga kehormatan pemimpin—meski kenyataannya mereka menjaga arus rezeki yang mengalir dari setiap friksi sosial.
Masalah memberi mereka identitas.
Masalah memberi mereka raison d’être.
Masalah memberi mereka kesempatan untuk merasa berjasa walau sekadar mengetik lirih dari bilik kamar.
Semakin Masif Masalahnya, Semakin Megah Rezekinya
Saat ekonomi gonjang-ganjing, pengangguran naik, harga pangan meroket — para buzzer justru menikmati panen raya. Karena di atas tanah yang retak, narasi tumbuh lebih cepat daripada padi di era krisis.
Pemerintahan rapuh?
Itu ladang basah.
Setiap kegagalan pemerintah bukan dipandang sebagai PR, tetapi sebagai kebutuhan operasional. Semakin besar kekecewaan rakyat, semakin banyak bahan bakar untuk menembak balik. Dan setiap tembakan adalah rupiah.
Bagi mereka, masalah bukan “halangan pembangunan,” melainkan proyek pembangunan personal.
Karena Itulah Masalah Tak Pernah Selesai
Masalah dibiarkan tumbuh, disiram, dipupuk.
Karena menyelesaikan masalah adalah tindakan yang justru mematikan ekosistem mereka sendiri.
Apa jadinya para buzzer jika negara tiba-tiba transparan?
Atau pejabat tidak lagi nepotis?
Atau hukum ditegakkan tanpa pandang bulu?
Itu bukan perubahan—itu ancaman profesi.
Dan di negeri ini, hanya satu pekerjaan yang tidak boleh terancam: pekerjaan menciptakan dan memanfaatkan masalah.
Di Akhir Hari, Kita Bisa Menyimpulkan Satu Prinsip Besar
Jika bagi rakyat masalah adalah beban,
bagi pejabat masalah adalah pencitraan,
maka bagi buzzer dan relawan Jokowi, masalah adalah rezeki yang tidak pernah habis masa panennya.
Karena selama masalah masih ada — atau bisa dibuat seolah ada — makanan di meja mereka tidak akan pernah kosong.






















