• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Ketika Seragam Cokelat Mulai Mengisi Koridor Kekuasaan

Ali Syarief by Ali Syarief
December 13, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Ketika Seragam Cokelat Mulai Mengisi Koridor Kekuasaan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di balik sorot lampu kamera yang memantul pada ornamen emas megah di belakangnya, sang pemimpin kepolisian berdiri tegak. Di dadanya, deretan lencana berhimpitan bak medali keberanian di medan tempur, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya justru menyingkap medan lain—medan politik birokrasi negara. Dalam sebuah aturan baru yang ditekennya, polisi kini diperbolehkan menduduki jabatan di 17 kementerian dan lembaga sekaligus.

Sebuah kebijakan yang terdengar sederhana bagi sebagian orang, tetapi menyimpan gelombang besar yang jarang disadari publik.

Analisis: Ketika Fungsi Meluas Hingga Kabur

Di atas kertas, dasar pemikiran aturan ini mungkin ingin memperkuat koordinasi, mempercepat respons, atau menambah “sentuhan keamanan” di sektor-sektor strategis. Tetapi di balik narasi itu, bayangannya lebih muram: tupoksi kepolisian semakin melebar hingga menembus batas logis negara demokrasi.

Polisi, yang seharusnya bertugas sebagai penjaga ketertiban dan penegak hukum, perlahan masuk ke ranah-ranah yang dulu steril dari aroma kewenangan bersenjata: kementerian, lembaga sipil, bahkan pos-pos strategis yang berkaitan langsung dengan kebijakan publik.

Di titik ini, batas antara otoritas sipil dan aparat mulai kabur. Dan ketika batas itu kabur, demokrasi ikut kabur.

Lebih jauh, pelebaran fungsi semacam ini bukan kali pertama terjadi. Kita pernah melihat polisi duduk di BUMN, memegang jabatan politik, atau mengisi kursi strategis dalam proyek-proyek nasional. Semuanya dilakukan atas nama “sinergi”, sebuah kata yang makin hari makin kehilangan makna.

Fenomena yang Lebih Dalam: Negara Makin “Berseragam”

Kekuasaan yang sehat menempatkan aparat sebagai alat negara, bukan sebagai pemain di meja pengambil keputusan. Tetapi ketika seragam itu masuk ke kementerian-kementerian sipil, maka lahirlah negara yang makin berseragam—baik secara simbolik maupun struktural.

Pertanyaannya sederhana:
Siapa yang akan mengontrol lembaga yang memiliki kekuatan hukum, senjata, struktur komando, dan kini juga akses penuh ke birokrasi sipil?

Pada negara demokrasi yang matang, jawabannya selalu sama: cek dan imbang. Namun Indonesia hari ini seolah berjalan menuju arah berlawanan: aparat masuk terlalu jauh ke ruang-ruang sipil, sementara ruang kritik terhadap aparat semakin menyempit.

Opini: Ketika Kekuasaan Tak Lagi Menjadi Cermin, Melainkan Bayangan

Kebijakan ini merefleksikan pola yang makin sering muncul di era politik kekuasaan yang didominasi kelompok tertentu: centralisasi kendali melalui penempatan figur-figur yang loyal, terstruktur, dan tak berada dalam orbit politik partai. Polisi menjadi pilihan ideal — disiplin, komando, dan bisa ditempatkan ke mana saja tanpa dinamika politik internal.

Namun apa konsekuensinya?
Konsekuensinya adalah hilangnya batas moral antara kekuasaan sipil dan aparat penegak hukum. Negara bisa berubah menjadi mesin besar yang berjalan tanpa rem, sebab rem-rem institusionalnya telah dirangkul, dirapatkan, dan diberi seragam yang sama.

Dalam jangka panjang, masyarakat akan menghadapi struktur kekuasaan yang sulit dikritik, apalagi digugat. Bila kritik dianggap gangguan keamanan, maka demokrasi tidak lagi tumbuh dari ruang publik, tetapi dari ruang komando.

Feature Penutup: Dari Seragam ke Kekuasaan

Di layar televisi, semuanya tampak wajar: seorang pejabat polisi memberi pernyataan di depan mikrofon. Namun bagi mereka yang membaca tanda-tanda zaman, gambar itu bukan lagi sekadar gambar. Itu adalah simbol dari gelombang baru kekuasaan, di mana seragam cokelat tak hanya menjaga negara, tetapi juga perlahan mengelilingi pusat-pusat kekuasaan sipil.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi “Mengapa polisi boleh masuk ke 17 kementerian?”, tetapi:

“Sampai di mana negara ini siap menyerahkan ruang-ruang sipil kepada kekuatan berseragam?”

Karena ketika seragam mulai mengisi koridor kekuasaan, maka demokrasi bukan sekadar terancam—tetapi sedang mengalami perubahan wujud.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perpol 10/2025: Aturan Ilegal yang Mengubah Polisi Menjadi ‘Penguasa Sipil

Next Post

Kisruh PBNU dan Surat Edaran yang Mengguncang Jam’iyyah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah
Feature

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026
Feature

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Next Post
Kisruh PBNU dan Surat Edaran yang Mengguncang Jam’iyyah

Kisruh PBNU dan Surat Edaran yang Mengguncang Jam’iyyah

BENCANA DI SUMATERA BUKAN SEKADAR BENCANA ALAM, MELAINKAN TRAGEDI KEMANUSIAAN

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist