Oleh: Jaya Suprana Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
BERBAGAI pihak positif menyambut keputusan majelis hakim untuk menghukum Roy Suryo atas unggahan foto patung Buddha di Candi Borobudur dengan wajah diedit mirip wajah Presiden Jokowi. Alasan mendukung vonis hakim adalah bahwa suara minoritas perlu didengar dan diperhatikan. Selama menyampaikan pendapat masih belum dilarang di Tanah Air Udara tercinta, dengan penuh kerendahan hati saya mohon izin untuk memberanikan diri menyampaikan pendapat. Sebagai warga yang kebetulan tergolong minoritas, saya berpendapat bahwa setelah tiba Orde Reformasi maka di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada lagi diskriminasi ras seperti yang saya alami di masa Orde Baru.
Bukti untuk membenarkan alasan saya tersedia cukup berlimpah. Alasan utama adalah Gus Dur telah resmi menobatkan Imlek yang pada masa Orba dilarang dirayakan sebagai Hari Raya Nasional. Fakta lain membuktikan bahwa Mari Elka Pangestu diangkat menjadi Menteri Perdagangan, Amir Syamsuddin Menteri Hukum dan HAM, Ignasius Jonan Menteri Perhubungan, Kwik Kian Gie yang beragama Buddha menjabat Menteri Koordinator Ekonomi. Menko Investasi dan Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo adalah umat Nasrani. Mayoritas warga Indonesia yang masuk daftar 100 orang terkaya di Indonesia adalah warga keturunan serta non-Muslim.
Para Menteri Agama masa Orde Reformasi senantiasa siap siaga menangani serta membereskan kemelut konflik antar umat beragama di berbagai daerah sehingga Indonesia dianggap oleh seluruh dunia termasuk PBB sebagai suri teladan kerukunan antara umat beragama bagi seluruh dunia terutama Afghanistan dan Palestina. Memang akibat manusia mustahil sempurna maka jika dicari apalagi dicari-cari pasti ditemukan ketidak-sempurnaan pada perjuangan bangsa, negara dan rakyat Indonesia dalam upaya membasmi angkara murka diskriminasi SARA secara sempurna dari persada Nusantara masa kini.
Namun secara keseluruhan terbukti secara tak terbantahkan bahwa segenap kemilau keindahan Bhinneka Tunggal Ika yang menghias negeri gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta rahardja ini merupakan maha karya keberhasilan secara berkelanjutan yang diperjuangkan oleh para presiden Republik Indonesia seperti Gus Dur, Megawati Soekarno, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widowo. Sebenarnya di masa kini, suara minoritas sudah cukup didengar dan diperhatikan di bumi Indonesia tercinta ini.
Maka saya pribadi merasa perlu menegaskan bahwa saya merasa bangga dan bahagia menjadi warga Indonesia selaras lirik lagu Indonesia Pusaka maha karya Ismail Marzuki: Di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda Tempat berlindung di hari tua Tempat akhir menutup mata
MERDEKA!
Dikutip Kompas.com, Minggu 12 Februari 2023























