Oleh: Achsin El-Qudsy
Kemunculan nama Profesor Dr. Paiman, MM, M.Si dalam pusaran kontroversi dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), semakin menyita perhatian publik. Nama Paiman disebut oleh Beathor Suryadi, politikus senior PDIP yang dikenal vokal mengkritisi isu tersebut. Menurut Beathor, nama Paiman “tiba-tiba muncul” di layar ponsel milik Roy Suryo saat keduanya sedang melakukan investigasi.
Beathor mengungkap bahwa keterlibatan Paiman dalam isu ini tidak datang secara kebetulan. Ia disebut sebagai salah satu pemilik kios di Pasar Pojok Pramuka — lokasi yang diduga menjadi tempat percetakan ijazah palsu. “Awalnya saya mendapat informasi dari kawan aktivis, meski datanya masih minim. Saya sempat menyebut bahwa gelar sarjana Paiman palsu, dan beliau langsung memprotes keras, menuding saya memfitnah,” ujar Beathor kepada wartawan, Jumat (11/7/2025).
Untuk meredam ketegangan, seorang rekan menginisiasi pertemuan antara Beathor dan Paiman. Dalam pertemuan itu, Beathor menyatakan permintaan maaf atas pernyataan sebelumnya yang disampaikan saat data belum lengkap. Namun langkah rekonsiliasi itu justru menimbulkan kontroversi baru.
Tak lama setelah pertemuan, pihak Paiman menyebarkan video dengan narasi “Beathor Minta Maaf,” yang segera viral di media sosial. Namun, situasi berubah cepat. Sore harinya, muncul video pernyataan dari pihak yayasan dan alumni Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) — kampus tempat Paiman mengklaim memperoleh gelarnya — yang menyebut bahwa proses akademik Paiman berlangsung hanya dalam dua bulan. Praktik semacam ini dinilai sangat tidak lazim dalam dunia akademik.
Merespons isu tersebut, pihak yayasan kampus dikabarkan tengah melakukan investigasi internal. Bahkan, mereka telah melaporkan temuan awal ini ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) guna memastikan legalitas akademik yang bersangkutan.
Dengan perkembangan terbaru ini, Beathor menegaskan kembali posisinya. Ia mengaku bahwa permintaan maaf sebelumnya disampaikan sebagai bentuk itikad baik, tetapi kini justru muncul bukti-bukti yang menguatkan dugaan awal.
“Permintaan maaf saya secara pribadi telah dijawab langsung oleh pihak universitas. Maka saya kembali pada posisi semula: ijazah Joko Widodo patut diduga kuat dicetak di kios Pasar Pojok Pramuka milik Paiman, yang gelar profesornya kini pun diragukan keabsahannya,” tegas Beathor.
Kasus ini tak lagi semata menyentuh dugaan pemalsuan ijazah tokoh nasional, tetapi juga membuka tabir suram soal praktik instan perolehan gelar akademik. Dunia pendidikan Indonesia pun kembali tercoreng. Publik kini menanti hasil investigasi resmi dari Ditjen Dikti dan aparat penegak hukum.























