Beberapa Mall yang berjejer mengadu nasib di sepajang Jalan Margonda Depok, seperti Depok Town Square, ITC Depok, adalah Mall yang paling parah, karena hampir tidak ada pengunjung. Bahkan di DeTos (Depok Town Square) di lantai II, tak ada pedagang. Tutup semua. Disitu lantai untuk kios Pakaian dan Salon. Sementara di lantai III masih ada beberapa yang survive, yaitu konter-konter yang pada umumnya membuka jasa perbaikan HP dan Laptop.
Begitu juga di Mall International Trade Center (ITC) Depok, senasib dengan DeToS, yang masih tetap bertahan adalah jasa perbaikan HP dan LapTop. Sementara D’ Mall, walau ada konter-konter yang tutup, tetap masih ada pengunjung, karena swalayan dan banyak resto. Di Mago City Mall, walau tidak seramai dahulu, tetapi pengunjung masih cukup banyak, terutama week-end. Tetapi pengunjung lebih banyak menikmati makakan di food court dan restoran-restoran. Transmart di Jalan Dewi Sartika dan Pesona Square di Jalan Ir. Juanda, nampaknya juga sepi pengunjung.
Catatan, khusus. Pasar traditional Jalan Nusantara dan Pasar Pucung di GDC, karena umumnya menjual kebutuhan pokok sehari-hari, masih tetap ramai, tetapi tidak seramai sebelum covid 19. Ini dijelaskan oleh Pak Sarkam, 50 tahun, pengemudi angkutan Becak, yang mendapatanya menurun dratsis karena sepi penumpang.
Di Jakarta;
Satu per satu mall di Jakarta juga, kini mulai bertumbangan lantaran sepi pengunjung. Sejumlah kios tampak sepi bahkan banyak yang ditutup. Lokasi yang strategis seakan tak mampu membantu mal-mal itu hidup. Sebut saja Mal Blok M, mal yang menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta di era tahun 1990-an hingga 2000-an. Mal itu kini tampak sepi.
Kini yang terlihat hanyalah wajah kosong mal. Tak tampak kios yang buka. Hanya tiga kios yang masih bertahan di sana. Toko itu menjual pakaian pria dan wanita, mulai dari celana pendek dan panjang hingga baju dengan harga mulai dari Rp 35.000. Toko tersebut tampak terang dan mencolok di antara kios-kios lain yang tutup.
Di sana masih ada dua toko yang juga berjualan pakaian. Adapun pakaian yang mereka jual didominasi pakaian bekas yang merupakan barang impor. Pakaian-pakaian itu dijual seharga mulai dari Rp 35.000 saja. Pada kesempatan melihat, nampak beberapa orang yang lewat dan memandang ke arah toko pakaian, sekadar untuk melihat-lihat.
Hal yang sama dialami Ratu Plaza, mal yang dibuka pada 1974. Pada Rabu (23/11/2022), sejumlah kios yang tutup alias gulung tikar di mal tersebut, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan yang masih beroperasi. Semakin Terpuruk Saat LotteMart Tutup Bahkan, suasana di lantai 3 dan 5 mal tampak kosong melompong. Tak ada satu pun toko yang beroperasi. Pengunjung mal itu pun sangat sedikit, bahkan bisa dihitung jari. Jumlah pengunjung yang mendatangi mal itu bisa dihitung jari. Sejumlah tenant masih cukup ramai beroperasi di lantai dasar. Sedikitnya ada sekitar 5 toko elektronik dan 3 restoran yang masih bertahan di lantai dasar.
Beberapa kios lainnya tampak kosong dan ditutupi oleh kertas karton putih dari dalam. Di lantai dasar, jumlah kios yang tutup hampir seimbang dengan jumlah kios yang masih buka. Namun, pengunjung yang berlalu lalang jumlahnya sangat sedikit. Di lantai dua, jumlah kios yang buka semakin sedikit dibandingkan kios yang sudah tutup. Setidaknya ada tiga toko yang masih bertahan di sana.
Kondisi lengang itu semakin terasa saat naik ke lantai tiga. Di sana, tidak terlihat satu pun kios yang masih buka. Semua toko yang ada di lantai 3 dibalut dengan kertas karton berwarna putih dari dalam kios. Para penjual di sana mengaku masih bertahan lantaran sudah memiliki pelanggan tetap. Akan tetapi, mereka mengalami kesulitan untuk mencari pelanggan baru karena sepinya pengunjung.
Seorang karyawan kios ponsel dan aksesori ponsel berinisial E (42) mengatakan, Mal Ratu Plaza mulai sepi sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020. Dia mengatakan, semakin lama, makin banyak tenant yang gulung tikar karena tak mampu bayar sewa dan menggaji karyawan. “Sepi kayak gini sejak pandemi. Sekarang tuh lebih parah lagi, dua bulan belakangan lebih sepi lagi,” ujar E
Sementara itu, kios yang dijaga oleh E tetap bertahan lantaran sudah memiliki pelanggan tetap. “Salah satu alasan bertahan (karena) sudah punya langganan dari Kemendikbud (lokasi kantornya sebelah kanan mal),” kata E.
Plaza Semanggi kini juga sepi Plaza Semanggi yang terletak di lokasi yang sangat strategis itu pun kini juga sepi. Pusat perbelanjaan itu tampak sepi. Dulu Adalah Rumah Dari Beragam Outlet Merk Dunia. Jumlah pengunjung yang datang dapat dihitung dengan jari. Antrean pengunjung yang menunggu lift terbuka juga tidak terlihat. Lorong-lorong di lantai GF dan UG Plaza Semanggi terlihat lowong karena banyaknya kios yang tutup. Hanya terlihat beberapa toko kecil, sebuah restoran dan tempat kopi dengan merek ternama masih buka di lantai tersebut. Saking sepinya, pemilik salah satu toko di lantai GF bahkan menjual perlengkapan dagangnya.
Di kaca toko terlihat selembar kertas bertulisan “DIJUAL Rak Stainless” lengkap dengan nomor ponsel, menandakan bahwa pemilik toko tak akan berjualan lagi di Plaza Semanggi. Padahal, pusat perbelanjaan ini dulu terkenal ramai didatangi oleh mahasiswa dari Universitas Katolik Indonesia Atmajaya dan pegawai kantoran. Meski kemarin merupakan hari kerja, tak terlihat mahasiswa ataupun pegawai kantoran berseliweran di mal tersebut.
Menyikapi fenomena itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ada pergeseran kebiasaan orang yang ingin datang ke mal. Menurut dia, belanja bukan lagi jadi prioritas pengunjung. “Mal lebih ramai dijadikan sebagai sentra kuliner dibandingkan pembelian barang-barang mewah atau branded,” kata Bhima. Menurut Bhima, saat ini alternatif berbelanja semakin banyak, misalnya lewat e-commerce dan media sosial. Hal ini membuat masyarakat tak lagi memprioritaskan berbelanja barang mewah saat datang ke mal. Sejumlah mal pun semakin ditinggalkan pengunjung meskipun pernah menjadi destinasi favorit bagi masyarakat di sekitar Jabodetabek. Menurut Bhima, kejayaan mal tersebut akan semakin sulit diraih apabila tidak ada pembaruan konsep dari pengelola meskipun pandemi Covid-19 berakhir. Pasalnya, saat ini tak sedikit mal yang sudah mulai pulih. “Mereka sulit capai kejayaannya lagi, kecuali melakukan perombakan konsep menjadi sentra kuliner. Mungkin masih bisa menjaga pendapatan dari sewa tenant,” kata Bhima.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News





















