Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Baru 15 bulan bekerja, para politisi di Kabinet Merah Putih sudah sibuk dengan aksi dukung-mendukung kandidat untuk Pemilihan Presiden 2029.
Mereka “nggege mongso” (mendahului musim). Tak peduli rakyat sedang menderita. Menderita karena bencana, dan menderita karena ekonomi tak kunjung pulih akibat ketidakmampuan pemerintah dalam bekerja.
Mereka pun tak segan menjilat. Memuji setinggi langit Prabowo Subianto, petahana Presiden yang akan mereka calonkan lagi di Pilpres 2029.
Yang paling getol mendukung Prabowo justru Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pun, Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN). Padahal, kedua partai politik itu punya basis massa Islam, mayoritas pemeluk agama di negeri ini. Mengapa harus takut?
Belanda masih jauh, Min. Pun, Zulhas. Kini saatnya kalian bekerja untuk rakyat.
Rakyat butuh kerja kalian. Agar tak ada lagi kemiskinan. Tak ada lagi siswa SD bunuh diri gara-gara tak mampu beli buku dan pena. Seperti yang terjadi di NTT. Sementara hidup kalian selalu perlente. Kemiskinan yang memicu aksi bunuh diri itu kalian anggap sepele.
Dukungan bagi Prabowo itu mereka suarakan di tengah menguatnya isu resafel kabinet. Mereka menerapkan teori politik patron-klien. Take and give. Mereka memberi dukungan supaya kursi di kabinet tetap aman. Mereka ketakutan. Takut terlempar dari kekuasaan.
Akhirnya, mereka selalu menempel ke penguasa. Mereka seolah berkata, siapa pun presidennya, sayalah menterinya.
Di Pilpres 2014 dan 2019, misalnya. PAN mendukung Prabowo. Tapi giliran Joko Widodo yang menang, PAN tetap masuk ke kabinet Jokowi.
Begitu pun PKB. Di Pilpres 2024, PKB mengusung Anies Baswedan dan Cak Imin sebagai capres-cawapres. Namun giliran Prabowo-Gibran Rakabuming Raka yang menang, Cak Imin langsung masuk Kabinet Merah Putih sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.
Tak ada rasa malu. Apalagi beban moral. Yang penting kue kekuasaan. Toh tujuan berpolitik adalah meraih kekuasaan. Tanpa kekuasaan di genggaman, bagaimana mau membesarkan parpol? Konon begitulah logika politik. Kekuasaan untuk membesarkan parpol, parpol untuk meraih kekuasaan. Terjadi lingkaran setan.
Selain PKB dan PAN, Partai Golkar juga sudah menyatakan dukungannya kepada Prabowo untuk maju lagi di 2029. Lebih-lebih Partai Gerindra yang ketua umumnya adalah Prabowo.
Mereka semua “nggege mongso”. Tak peduli rakyat sedang “nelongso”. Para pemimpin “ora ngrumongso” (tidak punya perasaan).

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















