Jakarta Selatan-Fusilatnews — Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat loyalis pendukung Capres Prof. Dr. H. Anies Rasyid Baswedan menggelar Pengajian Bulan Enam yang dipimpin Prof. Dr. Awalil Rizky. Kegiatan tersebut berlangsung di Markas Besar Jalan Brawijaya XI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu malam, 15 Februari 2026.
Pengajian diawali dengan pembukaan oleh protokol Bintang yang kemudian mempersilakan penceramah, Ustaz M. Isnaeni dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, untuk menyampaikan tausiyah. Dalam ceramahnya, Isnaeni mengungkapkan keprihatinan atas belum samanya penetapan awal puasa Ramadan 1447 H di Indonesia, meski dunia Islam telah menyepakati penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Faktanya, untuk awal puasa Ramadan 2026 ini, umat Islam belum bisa memulai puasa secara bersamaan,” ujar Isnaeni.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah yang dikenal sebagai pionir dalam pendekatan akademik dan hisab hilal telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah masih menghadapi kendala penentuan hisab dan rukyat, terutama karena faktor cuaca musim hujan, yang berpotensi menetapkan awal puasa pada 19 Februari 2026.
Isnaeni menyatakan sependapat dengan Prof. Tono Saksono, pakar penginderaan jauh sekaligus pendiri Indonesian Space Research Network (ISRN), yang mengkritisi metode visibilitas hilal melalui rukyat saat magrib dan mendorong pendekatan saintifik berbasis fase bulan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan metode hisab dan rukyat tetap harus disikapi sebagai rahmat dalam ibadah.
Dalam tausiyahnya, Isnaeni yang juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah mengingatkan makna Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter pribadi unggul. Ia mengutip ayat “Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush shiyam” yang selalu relevan setiap menjelang Ramadan.
Ia juga menyampaikan kisah yang dinisbatkan pada riwayat Ibnu Sina tentang dua ekor domba yang diberi perlakuan berbeda di hadapan seekor serigala. Satu domba ditutup matanya dan tetap sehat, sementara domba yang melihat serigala mengalami trauma hingga sakit. “Ibrohnya, kita harus berani menggunakan rasio dalam menghadapi realitas yang tidak pasti, serta tidak terjebak pada ketakutan yang berlebihan,” ujarnya.
Menurut Isnaeni, takwa adalah kesadaran sebagai hamba Allah SWT untuk loyal pada aturan-Nya dan menjauhi larangan-Nya, khususnya di bulan Ramadan. “Ramadan harus menguatkan akhlak, kepekaan sosial, kepedulian personal, serta menghadirkan senyum, sapa, dan keramahan sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Dalam konteks kebangsaan, Isnaeni juga menyinggung perjalanan bangsa Indonesia. Ia menilai koreksi terhadap Orde Baru selama 32 tahun melalui gerakan Reformasi 1998 belum sepenuhnya berhasil mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, karena Pancasila kerap hanya menjadi jargon dan lip service.
Sementara itu, Koordinator Pengajian Mabes XI, Laode Basyir (KAHMI Dipo), yang disebut sebagai sahabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam sambutannya mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum introspeksi dan saling memaafkan. “Kita khawatir akan ancaman akhirat, maka Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri,” ujarnya.
Laode juga menyampaikan salam dari Anies Baswedan, sekaligus rencana refleksi satu tahun kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta. Ia menyebut Anies sebagai sosok yang “berani karena benar dan takut karena salah.” Selain itu, ia berharap pelayanan di Markas Besar Brawijaya XI semakin ramah dan humanis.
Baik Anies Baswedan maupun Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut.
(Mahdi)
Almanak Islam Singkat
Perkiraan Awal Ramadan 1447 H (2026):
- Muhammadiyah: Rabu, 18 Februari 2026
- NU/Pemerintah (potensi): Kamis, 19 Februari 2026
Catatan: Perbedaan penetapan awal puasa merupakan bagian dari khazanah fiqh dan tetap berada dalam semangat ukhuwah Islamiyah.




















