Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Komisioner Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)
Jakarta – Tak tanggung-tanggung, dua menteri memimpin PSSI: Menteri BUMN Erick Thohir dan Menpora Zainudin Amali. Keduanya terpilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Jakarta, Kamis (16/2/2023). Erick ketua umum, Amali wakil ketua umum. Amali didampingi Ratu Thisa Destria sebagai wakil ketua umum juga.
Ihwal menteri menjadi Ketua Umum PSSI bukanlah hal baru. Sebelumnya, Azwar Anas (1991-1999) dan Agum Gumelar (1999-2003) juga terpilih menjadi Ketua Umum PSSI secara berurutan ketika keduanya menjabat Menteri Perhubungan. Kali ini yang baru adalah dua menteri sekaligus, Erick Thohir dan Zainudin Amali, terpilih menjadi Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI.
Selain mereka, 12 orang terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif atau Executive Committee (Exco) periode 2023-2027. Mereka adalah Eko Setiawan, Endri Erawan, Juni A Rahman, Muhammad, Rudi Yulianto, Sumardji, Vivin Cahyani, Pieter Tanuri, Arya Mahendra Sinulingga, Khairul Anwar, Ahmad Riyadh, dan Hasnuryadi Sulaiman.
Dari 12 nama itu, separuhnya adalah muka-muka lama, yakni Endri Erawan, Juni A Rahman, Vivin Cahyani, Hasnuryadi Sulaiman, Pieter Tanuri, dan Ahmad Riyadh. Mereka adalah anggota “kabinet” Ketua Umum PSSI 2019-2023 Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. Bahkan 2 di antara 6 muka lama itu sudah menjabat sebelum era Iwan Bule, atau era Edy Rahmayadi, yakni Pieter Tanuri dan Juni A Rahman.
Tidak itu saja. Ratu Tisha juga muka lama di PSSI yang sebelumnya menjabat sekretaris jenderal, namun terpental di era Iwan Bule, digantikan Yunus Nusi yang pada KLB kemarin membuat drama dengan mundur dari posisi wakil ketua umum terpilih sehingga digantikan Zainudin Amali, peraih jumlah suara di bawahnya. Maka selamatlah muka Menpora, tidak jadi “hilang”.
Kalau Yunus Nusi tak mundur, Amali benar-benar akan kehilangan muka. Bagaimana bisa seorang menteri berebut kursi wakil ketua umum PSSI saja kalah? Apa kata dunia? Yunus Nusi disinyalir bakal mendapat kompensasi kursi sekjen.
Kini, ketika muka-muka lama bercokol di PSSI, lalu apa yang bisa diharapkan dari mereka untuk kemajuan sepakbola Indonesia?
Saat kasus “match fixing” atau pengaturan skor pertandingan mencuat, muka-nuka lama itu ada di PSSI. Bahkan Ratu Tisha sebagai sekjen beberapa kali diperiksa Satgas Anti-Mafia Bola Polri. Klimaksnya adalah penahanan Joko Driyono, wakil ketua umum yang kemudian menjadi Plt Ketua Umum PSSI setelah mundurnya Edy Rahmayadi.
Ratu Tisha dan lain-lain tetap melenggang bebas. Bahkan Ratu Tisha berlanjut sebagai sekjen di era Iwan Bule sampai kemudian dilengserkan. Kini, Ratu Tisha telah “come back” ke PSSI.
Sebelum terpilih, Erick Thohir menebar janji akan melakukan 5 hal jika berhasil merebut kursi PSSI-1, yakni melanjutkan putaran Liga 2 dan Liga 3, mengejar ketertinggalan sepakbola Indonesia dari negara-negara lain, membenahi kualitas wasit, menerapkan VAR (video assistant referee), dan membangun “tranining center” untuk Timnas Indonesia. Yang spektakuler dari janji Erick adalah membangun “training center”.
Janji spektakuler Erick Thohir itu, yakni membangun “training center” juga dijanjikan Iwan Bule menjelang KLB PSSI 2019. Jika terpilih, polisi dengan bintang tiga di pundak itu akan membangun “soccer camp” dan kantor PSSI. Sampai akhirnya lengser, apakah 2 janji spektakuler Iwan Bule itu terwujud? Ternyata tidak!
Kabinet Erick Thohir pun diprediksi tidak akan lebih baik daripada kabinet Iwan Bule. Pasalnya, muka-muka lama masih bercokol di PSSI. Status quo pun terjadi. Apalagi menjelang Pemilu 2024, Erick dan Amali akan lebih sibuk mengurus politik.





















