Nama Birutė Galdikas dikenal luas sebagai ilmuwan yang mengabdikan hidupnya untuk orangutan di hutan Kalimantan. Ia adalah bagian dari lingkaran kecil ilmuwan yang mengubah cara dunia memandang primata. Namun, bagi saya, Galdikas bukan hanya sosok ilmuwan besar. Ia pernah menjadi teman diskusi—dan dari interaksi sederhana dengannya, saya justru melihat sisi lain yang lebih manusiawi: cara ia membaca perilaku orang Indonesia.
Saya masih mengingat pertemuan itu dengan cukup jelas. Tidak hanya percakapannya yang membekas, tetapi juga gestur kecil yang penuh makna. Dalam kesempatan tersebut, ia menghadiahkan kepada saya sebuah buku tentang dirinya—sebuah kisah hidup yang mencerminkan dedikasinya yang panjang di hutan Kalimantan. Bersamaan dengan itu, ia juga memberikan sebuah patung kayu orangutan, terbuat dari kayu ulin yang keras dan tahan lama—sejenis kayu khas Kalimantan yang seolah merepresentasikan keteguhan dan ketahanan, seperti juga karakter dirinya.
Hadiah itu bukan sekadar benda. Ia seperti simbol dari dunia yang ia hidupi: hutan, penelitian, dan kedekatannya dengan orangutan. Ada kesan bahwa ia tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga membagikan sebagian dari hidupnya.
Suatu hari, dalam percakapan yang santai, ia bercerita:
“Petugas perbaikan telepon itu, saat ditanya mengapa tidak kemarin datangnya, jawabnya karena kemarin hujan.”
Ia berhenti sejenak, seolah memastikan saya menangkap maksudnya. Lalu ia menambahkan bahwa jawaban semacam itu adalah sesuatu yang tidak lazim di negara-negara maju.
Bagi saya, itu bukan sekadar cerita tentang teknisi yang menunda pekerjaan. Itu adalah cara Galdikas menjelaskan sebuah pola pikir. Sebagai ilmuwan yang terbiasa mengamati perilaku—bahkan hingga ke detail paling kecil—ia melihat manusia dengan ketelitian yang sama seperti saat ia mengamati orangutan.
Yang menarik, ia tidak mengatakannya dengan nada menghakimi. Tidak ada kesan merendahkan. Yang ada justru keheranan yang jujur, seperti seorang peneliti yang menemukan fenomena sosial yang berbeda dari kerangka referensinya.
Dalam pandangannya, di banyak negara maju, hujan bukan alasan untuk menunda pekerjaan. Sistem kerja sudah dibangun untuk mengantisipasi kondisi semacam itu. Tetapi di Indonesia, realitas sering kali lebih lentur. Alam, keadaan, bahkan kenyamanan pribadi bisa ikut menentukan ritme kerja.
Percakapan singkat itu meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi saya. Ia menunjukkan bahwa meskipun seseorang telah lama hidup di Indonesia, memahami negeri ini sepenuhnya bukanlah perkara sederhana. Selalu ada jarak—jarak cara berpikir, jarak ekspektasi, dan jarak budaya.
Namun justru dari jarak itulah muncul pengamatan yang tajam.
Dan mungkin, hadiah yang ia berikan—buku tentang dirinya dan patung orangutan dari kayu ulin—menjadi metafora yang paling jujur tentang dirinya: seorang ilmuwan yang berakar kuat pada alam, tetapi tetap mencoba memahami manusia dengan segala kompleksitasnya.
Galdikas, dalam cara yang sangat khas, tidak memberi penilaian akhir. Ia hanya memperlihatkan sebuah gejala—dan membiarkan kita sendiri yang merenungkannya.
Bagi saya, di situlah letak kekuatan interaksi dengannya:
ia tidak menggurui, tetapi membuat kita melihat diri sendiri dari sudut pandang yang berbeda.
Dan mungkin, itu adalah pelajaran paling berharga dari seorang ilmuwan yang terbiasa membaca perilaku—baik di hutan, maupun di tengah kehidupan manusia.






















