Pada sambutan pertamanya di hadapan kader Golkar setelah dikukuhkan sebagai Ketua Umum, Bahlil Lahadalia melontarkan pernyataan yang mengejutkan: “Hati-hati dengan Raja Jawa.” Pernyataan ini, yang tampaknya dirancang sebagai bagian dari strategi membangun opini publik melalui apa yang disebut “fear off arousing,” justru berbalik menjadi bumerang yang merugikan dirinya dan partainya.
Strategi Publik Opini dan Dampaknya
Dalam teori komunikasi, membangun opini publik sering melibatkan penciptaan narasi yang mempengaruhi persepsi masyarakat. Salah satu metode yang digunakan adalah “fear off arousing,” yaitu menciptakan ketakutan untuk membangkitkan kewaspadaan atau kecemasan terhadap sesuatu atau seseorang. Tujuannya adalah untuk memperkuat posisi atau legitimasi pihak tertentu dengan cara membuat pihak lain tampak sebagai ancaman.
Bahlil, dalam konteks ini, tampaknya ingin menggunakan strategi ini untuk memperkuat posisinya dengan cara mengarahkan perhatian publik pada sosok yang dianggap sebagai ancaman. Meskipun Bahlil tidak menyebutkan nama secara langsung, ungkapan “Raja Jawa” telah secara luas diterjemahkan oleh publik sebagai merujuk mengerucut kepada Presiden Jokowi. Dengan menggunakan istilah tersebut, Bahlil mencoba memframing sosok yang dianggap memiliki kekuatan dan pengaruh besar, menciptakan narasi bahwa ada kekuatan besar yang perlu diwaspadai.
Baca : https://fusilatnews.com/raja-jawa-itu-bernama-jokowi/
Namun, ada beberapa masalah mendasar dengan pendekatan ini:
- Pengalihan Fokus: Dengan mengaitkan istilah “Raja Jawa” dengan seseorang yang dianggap memiliki kekuatan besar, Bahlil tidak hanya merusak citra figur yang dipersepsikan sebagai ancaman tetapi juga mengalihkan perhatian dari isu-isu penting yang seharusnya menjadi perhatian utama. Alih-alih membahas visi dan misi Golkar di bawah kepemimpinannya, Bahlil malah terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang dianggap sebagai ancaman.
Resonansi Negatif: Istilah “Raja Jawa” mengandung konotasi historis dan budaya yang kuat dalam konteks politik Indonesia. Meskipun Bahlil tidak menyebutkan Jokowi secara langsung, masyarakat luas mengasosiasikan istilah tersebut dengan presiden yang berkuasa. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya untuk merendahkan atau mencemarkan nama baik Jokowi. Ini bukan hanya berisiko memicu reaksi negatif dari pendukung Jokowi, tetapi juga bisa memperburuk hubungan politik antara Golkar dan pihak-pihak yang berkoalisi atau berhubungan dengan Jokowi.
Respons Publik dan Kontroversi: Pernyataan Bahlil memicu respons sinis dari beberapa tokoh politik dan publik. Misalnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X menganggap ungkapan tersebut sebagai sesuatu yang tidak pantas dan tidak produktif. Reaksi ini menunjukkan bahwa tidak semua tokoh politik atau publik menerima framing Bahlil dengan cara yang sama. Alih-alih membangun opini positif, pernyataan ini malah menambah kontroversi dan memperburuk citra Bahlil di mata publik.
Dampak terhadap Masyarakat dan Politik
Dampak dari pernyataan ini terhadap masyarakat sangat signifikan. Dalam konteks politik, ketidakmampuan untuk mengelola opini publik dengan hati-hati dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap sebuah partai atau individu. Dalam hal ini, meskipun Bahlil tidak menyebut Jokowi secara langsung, pernyataannya telah memicu persepsi bahwa Jokowi adalah sosok yang perlu diwaspadai. Ini bisa memperburuk hubungan politik dan memperkuat posisi Jokowi di mata pendukungnya.
Pernyataan tersebut juga bisa mengarah pada pembentukan aliansi politik baru atau memperburuk ketegangan yang sudah ada. Dengan memframing seseorang sebagai ancaman besar, Bahlil mungkin secara tidak langsung memicu solidaritas di antara pendukung figur yang dianggap sebagai ancaman dan pihak-pihak yang merasa terancam oleh strategi politiknya.
Kesimpulan
Dalam politik, strategi komunikasi dan publik opini harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bahlil Lahadalia, dengan pernyataannya tentang “Raja Jawa,” tampaknya telah melakukan kesalahan strategis yang serius. Meskipun tidak menyebut Jokowi secara langsung, pernyataan tersebut telah menciptakan ketidakpastian dan ketegangan yang tidak perlu. Alih-alih memperkuat posisinya atau memajukan agenda Golkar, pernyataan tersebut malah menambah kontroversi dan berpotensi merusak hubungan politik yang penting. Dalam jangka panjang, blunder ini bisa menjadi penghalang bagi efektivitas kepemimpinan Bahlil dan keberhasilan Golkar dalam kancah politik nasional.
























