Jakarta – Fusilatnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat ini sedang fokus memasang alat deteksi mega thrust di Selat Sunda, sebuah area yang diketahui memiliki potensi gempa besar. Isu mengenai potensi gempa besar di zona mega thrust Selat Sunda telah menarik perhatian masyarakat, menimbulkan kekhawatiran dan mendorong langkah mitigasi yang lebih intensif.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI pada Selasa (27/8/2024), anggota DPR RI Tubagus Haerul Jaman, yang berasal dari Banten, mengemukakan keprihatinan mengenai jumlah alat deteksi dini gempa dan tsunami di wilayah tersebut. Tubagus mengungkapkan bahwa di sepanjang pantai Banten, yang meliputi Tangerang, Anyer, Pandeglang, hingga Lebak, hanya terdapat lima alat deteksi. Ia meminta BMKG untuk meningkatkan jumlah alat deteksi, khususnya di daerah yang masih kekurangan, seperti Lebak dan Cilegon, guna memperkuat sistem peringatan dini.
Menanggapi hal ini, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, BMKG telah fokus pada pemasangan alat-alat mitigasi di zona mega thrust Selat Sunda. Ia menyatakan, “Zona mega thrust Selat Sunda, terutama di Banten, merupakan prioritas utama kami dalam menghadapi potensi gempa besar. Kami sangat serius dalam menyiapkan mitigasi gempa di wilayah ini.”
Dwikorita menjelaskan bahwa BMKG telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, industri, dan masyarakat setempat, sejak 2018. Upaya mitigasi meliputi pemasangan 39 unit seismograf, 20 unit akselerograf, dan 22 unit automatic water level (tsunami gate) di Banten. Selain itu, BMKG juga telah menambah jumlah sirine evakuasi menjadi 15 unit dan memasang 81 Warning Receiver System (WRS) di berbagai lokasi penting seperti BPBD, hotel, dan industri.
“Pemasangan alat ini sangat penting karena wilayah Banten, dengan kepadatan penduduk dan banyaknya industri, memerlukan sistem mitigasi yang kuat. Kami juga melakukan sekolah lapang gempa di tujuh lokasi untuk memberdayakan pemerintah daerah dan masyarakat agar lebih siap dalam menghadapi potensi bencana,” tambah Dwikorita.
BMKG mencatat bahwa zona mega thrust Selat Sunda, dengan panjang 280 km dan lebar 200 km, terakhir kali mengalami gempa besar pada tahun 1757, menjadikannya sebagai salah satu zona seismic gap di Indonesia. Zona seismic gap adalah area yang memiliki potensi gempa besar namun belum mengalami aktivitas seismik signifikan dalam waktu lama. Selain Selat Sunda, zona mega thrust Mentawai-Siberut juga mendapat perhatian serius karena kondisi seismic gap yang serupa, dengan gempa besar terakhir terjadi pada tahun 1797.
Dengan langkah-langkah mitigasi yang sedang dilakukan, BMKG berharap dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan meminimalisir dampak bencana jika terjadi gempa besar di masa depan.
























