Jakarta, Fusilatnews – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika meramalkan akan terjadi hujan dengan intensitas ekstrem hari Rabu besok. sesuai dengan peringatan yang dirilis pada rabu 21 Desember pekan lalu. karena saat itu terdeteksi minimal ada empat fenomena di atmosfer,, atau fenomena yang menunjukkan sinyal ke ekstrem yang terjadi bersamaan dan saling menguatkan
Empat fenomena atmosfer itu adalah aktivitas Monsun Asia, seruakan dingin Asia, pembentukan pusat tekanan rendah di wilayah perairan selatan Indonesia, termasuk Madden Julian Oscillation (MJO). Dari keempat fenomena tersebut, ditambah satu fenomena lagi yaitu kemunculan bibit siklon tropis 95W yang berada di Samudera Pasifik sebelah utara Papua barat, tepatnya di 8,8 derajat LU – 130,9 BT dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan terendah 1.008 milibar.
Menurut BMKG kondisi hujan ekstrem ini bukan termasuk kategori badai menurut Kepala BMKG Dwikora Karnawati hujan ekstrem tidak harus badai.
“Hujan ekstrem nggak harus berupa badai, dan hujan ekstrem itu diprediksi itu dimulai, jadi trennya udah terlihat ya sejak 21 Desember dan trennya ini semakin meningkat di 29 Desember, jadi itu hujan lebat, bukan pusaran, istilah badai kan pusaran, pusaran angin ya, dan disertai hujan lebat,” ujar Dwikorita dalam konferensi persnya secara daring, Selasa 27/12/2022
Menurut BMKG terminologi badai merupakan siklon, yakni pusaran angin kencang yang juga mengakibatkan hujan yang ekstrem. Namun, kondisi itu dideteksi akan terjadi di wilayah sebelah utara Papua dan makin rendah saat menuju wilayah selatan dan barat Indonesia.
Untuk Jabodetabek, pada 28 Desember masih kategori hijau yang intensitasnya hujannya ringan sampai sedang. Hujan ekstrem di wilayah Jabodetabek menurut BMKG diperkirakan meninggkat mulai tanggal 29 Desember.
“Jabar atau Jabodetabek itu 28 Desember itu masih hijau, insyallah, jadi hijau itu ringan sampai sedang, masih relatif aman hanya mulai 29 Desember itu mulai diwaspadai menurut prediksi kami,” papar Kepala BMKG
Mengenai potensi cuaca ekstrem, BMKG bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan teknologi modifikasi cuaca. Ini bertujuan agar awan-awan yang berpotensi membuat hujan lebat atau ekstrem turun di perairan atau luar pemukiman.
“Agar itu dapat dipaksa turun di laut Jawa atau di wilayah luar pemukiman misal di danau atau di waduk, itu sedang berkerjasama dengan BRIN untuk modifikasi cuaca,” katanya..
Sesuai modeling yang dipakai BMKG, hujan ekstrem Jabodetabek pada 28 Desember belum masif dan mulai masif pada 29-30 Desember.
“Jakarta di sini tanggal 28 ini Jakarta memang dia akan terjadi, namun masih belum masif. Masifnya itu ada terjadi pada tanggal 30 tanggal 29 terjadi itu masih di laut,” kata Deputi Meteorologi BMKG Guswanto dalam paparannya pada konpres daring itu.
Definisi hujan ektrem menurut Guswanto Hujan ekstrem ini yakni hujan dengan volume di atas 150 milimeter (mm) dalam sehari. “BMKG menyampaikan nanti tanggal 30 prakiraan kita dasar kita adalah modeling menyampaikan tanggal 30 kemungkinan akan cuaca buruk melanda di wilayah Jawa Barat, Jabodetabek hujan ekstrem di atas 150 mm,” katanya.






















