• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bola, Identitas dan Industri

fusilat by fusilat
April 4, 2023
in Feature
0
Lima Laga Bola Harus Ditonton Akhir Pekan ini
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: H Rahmat Hidayat Pulungan

Jakarta – Federasi sepak bola dunia (FIFA) telah resmi mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah pada gelaran Piala Dunia U-20 tahun 2023. Keputusan FIFA tersebut jelas merupakan pil pahit bagi sepak bola Indonesia. Sebab, kesempatan besar bagi Tim Nasional (Timnas) U-20 untuk tampil dalam ajang level dunia menjadi sirna.
Padahal persaingan dalam perebutan sebagai tuan rumah yang berhasil dimenangkan Indonesia merupakan suatu prestasi luar biasa. Sebab, jika melihat ke belakang, perjuangan dan diplomasi Indonesia untuk memenangkan hati FIFA tidaklah mudah.

Indonesia mesti bersaing dengan sejumlah negara yang terkenal dalam dunia sepak bola macam Peru, Brasil, dan gabungan tuan rumah bersama (Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab). Keberadaan para pesaing raksasa dengan tradisi sepak bola jauh di atas Indonesia ini membuat banyak pihak pesimistis. Namun alih-alih tidak dipandang sebagai kandidat potensial, Indonesia justru berhasil ditunjuk sebagai tuan rumah.

Namun demikian, pencabutan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 ini juga harus dijadikan bahan untuk refleksi-diri bagi bangsa Indonesia. Ada beberapa catatan yang perlu dibenahi oleh Indonesia terkait kegiatan olahraga dunia ini.

Potensi Indonesia

FIFA melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi untuk berkembang dalam aspek-aspek menyeluruh terkait sepak bola. Unsur-unsur penting seperti dukungan kuat negara serta angka populasi warga Indonesia yang mencintai sepak bola juga begitu tinggi. Ini sebagaimana terlihat dari data yang dipublikasikan oleh perusahaan riset multinasional (Ipsos) tahun 2022 yang menempatkan Indonesia sebagai negara teratas dalam hal jumlah penggemar sepak bola, yakni sebanyak 69 persen dari total 270 juta populasi.

Besarnya jumlah penggemar serta dukungan dari negara merupakan suatu ekosistem yang menjanjikan bagi perkembangan sepak bola, baik dalam sudut pandang olahraga maupun industri. Sebagaimana kita tahu bahwa FIFA itu berada di antara negara dan pasar (industri). Sementara ekosistem bola itu adalah pemain, penonton dan pelaku. Indonesia merupakan bagian dari ekosistem bola yang menjanjikan bagi FIFA.

Sepak bola modern sudah bermetamorfosa menjadi dua entitas, yaitu klub (industri) dan negara (identitas). Batasannya pun sangat tipis. Seorang pemain sepak bola bisa menjadi simbol sebuah industri sekaligus negara.

Terkadang batasan antara dua entitas tadi menjadi kabur dan buram. Tapi pada prinsipnya orang modern menjadikan sepak bola sebagai sebuah pertunjukan hiburan (entertainment) dan kesenangan.

Penolakan Israel

Gerakan penolakan terhadap Timnas Israel yang menyebabkan dicabutnya status Indonesia sebagai tuan rumah adalah contoh betapa gamangnya kita dalam melihat realitas perkembangan dunia dewasa ini. Bukti-bukti kegamangan itu dapat dilihat dari masih kuatnya dua faktor klasik dan satu tambahan faktor baru yang melatarbelakangi penolakan Timnas Israel.

Penulis memahami mereka yang menolak Israel berpegang pada tiga alasan. Pertama alasan teologis. Diketahui bahwa umat Islam selama lebih dari tujuh dekade lamanya menolak penindasan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Fakta bahwa Israel sebagai negara yang dihuni mayoritas umat Yahudi dan Palestina yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam membuat persepsi konflik bersifat teologis begitu sulit untuk dihindari.

Bagi pihak yang mendasarkan pertimbangan teologis tentu butuh waktu panjang untuk menjernihkan segala urusan yang berkaitan dengan Israel. Karena mereka akan selalu mengacu pada kitab suci yang memang secara jelas membahas posisi dan status Yahudi. Dalam hal ini diperlukan kematangan politik serta transformasi pemikiran untuk bisa menerima Israel sebagai fakta sosial dengan segala perkembangan dan pengaruhnya dalam banyak bidang.

Kita seharusnya mengambil pelajaran dari banyak negara di Timur Tengah yang dulunya terlibat peperangan dengan Israel akhirnya mengubah persepsi konflik teologis yang melelahkan dengan jalan keterbukaan; untuk menerima dan berinteraksi dengan Israel.

Alasan lain penolakan terhadap Israel adalah karena sejarah. Ekspansi Israel di tanah Palestina sejak pertengahan tahun 1940-an masih terpatri dalam benak dunia Islam, tidak terkecuali Indonesia. Secara khusus, penolakan terhadap kepesertaan Israel dalam perhelatan dunia olahraga yang diselenggarakan di Tanah Air telah terjadi sejak era Pemerintahan Presiden Soekarno.

Penolakan yang dilakukan Sang Proklamator itu kemudian menjadi salah satu rujukan sikap bagi pihak-pihak yang hari ini menyuarakan penolakan terhadap Timnas Israel. Pihak-pihak yang mendasarkan penolakan pada pertimbangan historis perlu merenungi dengan pandangan yang lebih jernih. Karena problem terkait peristiwa di masa lalu bisa diletakkan sebagai pelajaran dan konsensus untuk menata masa depan yang lebih baik sehingga tidak diwariskan sebagai beban pada generasi sekarang.

Sementara faktor ketiga lebih disebabkan oleh aspek traumatis dari pihak-pihak yang menyimpan kekhawatirkan kehadiran Israel yang berpotensi dijadikan alat propaganda politik bernuansa agama. Dalam benak pihak yang diliputi suasana traumatis ini, keberadaan Israel dalam pentas Piala Dunia U-20 begitu rentan dimanipulasi dengan narasi anti-Islam. Seorang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dalam Pilkada DKI saja bisa dijadikan sasaran empuk politisasi agama, apalagi Israel.

Belajar dari Qatar

Kita harus belajar dari Qatar saat negara di jazirah Arab itu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Negara ini memiliki agenda nasional jelas dengan kalkulasi politik dan ekonomi yang matang.

Qatar memanfaatkan hajat Piala Dunia untuk mendongkrak pendapatan dari berbagai sektor, terutama pariwisata. Qatar rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk perhelatan akbar Piala Dunia. Namun imbal balik dari investasi ini pun besar dan bersifat jangka panjang.

Berdasarkan riset PwC, hasil Piala Dunia ini menjanjikan pertumbuhan ekonomi Qatar sebesar 8,7 persen dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Sementara dari sisi pariwisata sendiri, berdasarkan riset Newlines Institute di Amerika Serikat, keuntungan langsung yang didapat Qatar dari sektor ini diperkirakan sebesar Rp 266,9 triliun.

Secara politik, Qatar menjadikan Piala Dunia sebagai ajang menujukkan diri pada dunia bahwa negara ini terbuka di tengah tudingan sebagai negara konservatif dan tertutup (eksklusif). Dari Piala Dunia ini, Qatar bahkan bisa menjadi negara yang mampu menjembatani dunia Arab dengan Barat.

Kita harus jujur bahwa Indonesia memang tidak siap untuk menggelar perhelatan olahraga akbar ini. Kita tidak berhasil mengonsolidasikan apa yang menjadi agenda nasional untuk menyelenggarakan event ini. Terlalu banyak catatan yang dapat dilihat dengan jelas. Misalnya, tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang. Lalu penggunaan stadion Gelora Bung Karno untuk konser Blackpink menjelang proses audit oleh FIFA, serta hal lain yang tak menunjukkan kesiapan kita untuk Piala Dunia U-20.

Kegagalan ini juga memberikan pesan evaluatif untuk kita semua bahwa ekosistem sepak bola kita belum bisa menjadi identitas dan industri secara baik, serta menjadi tontonan yang menyenangkan.

Siapa pun presiden dan ketua umum PSSI-nya akan mengalami dilema yang sama jika dihadapkan pada masalah ini.

H Rahmat Hidayat Pulungan, Wasekjen PBNU.

Dikutip dari detik.com, Sabtu 1 April 202

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Penolakan Timnas Israel akan Jadi Bumerang Bagi Politikus dan Parpol

Next Post

Rafael Alun Akhirnya Harus Mendekam di Tahanan KPK

fusilat

fusilat

Related Posts

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah
Feature

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026
Feature

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Next Post
Rafael Alun Trisambodo Hadir di KPK Untuk Diperiksa Sebagai Tersangka

Rafael Alun Akhirnya Harus Mendekam di Tahanan KPK

Uang Pajak Ditilep, APBN ‘Bocor’ Utang Lagi, Jokowi berpotensi Wariskan Utang Rp 8000 T

Uang Pajak Ditilep, APBN 'Bocor' Utang Lagi, Jokowi berpotensi Wariskan Utang Rp 8000 T

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist