• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Politik

Penolakan Timnas Israel akan Jadi Bumerang Bagi Politikus dan Parpol

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
April 4, 2023
in Politik, Sport
0
10 Risiko Mengerikan bagi Indonesia Jika Tolak Timnas U-20 Israel

Timnas Israel berhasil lolos ke Piala Dunia U-20 yang digelar di Indonesia. (AFP/VLADIMIR SIMICEK)

Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Fusilatnews.com – Para politisi dan partai politik yang menyuarakan narasi pertama sebagai alasan menolak Timnas Israel dalam Piala Dunia U-20 2003 yang sedianya digelar di Indonesia sebetulnya perlu waspada.

“Narasi ini berpotensi menjadi bumerang bagi mereka. Justru karena sepak bola tidak bisa dilepaskan dari politik, maka gerakan perlawanan politik pendukung bola dalam negeri menjadi mungkin mengarah kepada penyusutan suara elektoral mereka,” tulis Dodik Harnadi, dosen di STAI Attaqwa Bondowoso yang juga doktor ilmu sosial dari Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, di kolom detik.com, Senin (3/4/2023), seperti dikutip media ini.

Kekuatan pendukung bola

Saat ini, kata Dodik, sekitar 3 miliar penduduk dunia menyukai sepak bola. Mereka mengidentifikasi diri sebagai bagian dari kesebelasan sepak bola tertentu. Tidak penting seberapa dekat secara fisik dengan tim yang didukung, mereka memegang loyalitas tinggi untuk tetap mendukungnya.

“Pendukung sepak bola bukan sebatas faktor komplementer dari sepak bola. Mereka adalah bagian inti dari sepak bola itu sendiri. Tanpa dukungan pendukung, sepak bola berpotensi mengalami kelesuan,” jelasnya.

Saat pertandingan tidak bisa disaksikan oleh mereka, kata Dodik, pengaruhnya cukup melambatkan denyut nadi sepak bola. “Sepak bola memiliki dunia sendiri dengan otoritas dan teritorialnya yang bahkan bisa memaksa negara-negara di dunia tunduk mematuhi aturan mainnya (rule of the games). Intervensi negara terhadap ekosistem sepak bola merupakan tindakan yang paling dihindari otoritas sepak bola dunia,” paparnya.

Indonesia, kata Dodik, pernah mengalami langsung dampak intervensi pemerintah dalam kisruh sepak bola nasional 2015 yang menyebabkan FIFA mengeluarkan sanksi pembekuan kepada otoritas sepak bola nasional PSSI.

“Meski sepak bola memiliki mekanismenya sendiri, namun kapitalisasi bola dan fans sepak bola dalam gerakan politik kenyataannya pernah terjadi. Sepak bola terkadang juga menjadi simbol perlawanan politik, tribalisme, dan propaganda militer. Hal demikian menunjukkan dinamika politik dalam sepak bola (the politics of football) tidak bisa diabaikan. Hal ini terjadi karena sepak bola memiliki kekuatan dalam menggerakkan khalayak. Terutama mereka yang mengidentifiksi diri sebagai pendukung sepak bola,” terangnya.

Di Italia, kata Dodik, saat terjadi kasus kematian pendukung Lazio Gabriele Sandri tahun 2007, para tifosi garis keras melakukan ekstensi perannya dengan menjadi simbol perlawanan terhadap aparat Italia yang dianggap represif. Dengan demikian, terjadi transfigurasi gerakan pendukung bola menjadi gerakan sosial yang berhadap-hadapan langsung dengan represi negara.

“Konsolidasi gerakan pendukung sepak bola sebetulnya merupakan bentuk pembalasan saat eksistensi mereka terganggu. Dengan kemampuan mobilisasi yang dimiliki, gerakan tersebut tidak sulit dilakukan. Apalagi, organisasi pendukung sepak bola telah tertata sedemikian modern sehingga secara sistemis setiap gerakan yang muncul dari satu elemen berdampak kepada elemen lainnya,” cetusnya.

Setelah Indonesia gagal jadi tuan rumah

Pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U 20, kata Dodik, bisa menjadi momentum kemunculan dua hal sekaligus. Pertama, gerakan politik sepak bola nasional. Kedua, gerakan pembalasan melalui medan politik tersebut.

“Munculnya dua gerakan ini adalah kalkulasi rasional melihat suara kencang penolakan tehadap kedatangan Israel datang dari beberapa politisi dan partai politik di Indonesia. Pembalasan politik pendukung sepak bola nasional patut diwaspadai dalam kontestasi Pemilu 2024 yang akan datang,” tegasnya.

Setidaknya, lanjut Dodik, dua hal yang menjadikan potensi gerakan tersebut tidak bisa disepelekan. Pertama, loyalitas dan militansi para pendukung bola tidak bisa disepelekan. Dalam banyak fenomena, loyalitas dan militansi ini dibungkus dalam kemasan fanatisme yang dalam beberapa sisi sering kali berlebihan.

“Solidaritas yang terbentuk tidak hanya melahirkan ekspresi yang positif. Tidak jarang, solidaritas ke dalam (in-group) yang kokoh melahirkan ekspresi permusuhan dan kebencian terhadap siapa pun yang diangggap kontra identitas (out-group). Dalam konteks politik, kondisi tersebut rentan dimanfaatkan,” urainya.

Di beberapa negara, bahkan di Indonesia, masih kata Dodik, para politisi menyadari bahwa keberpihakan mereka sangat menguntungkan secara elektoral. Karena itulah, mendekatnya para politisi untuk meraup simpati kelompok ini adalah kalkulasi rasional.

“Kedua, Statista Research Department pada tahun 2022 merilis data riset yang menunjukkan distribusi usia pendukung sepak bola pada Piala Dunia 2018. Sebanyak 29 persen adalah remaja berusia 16-24. Sebanyak 30 persen adalah mereka yang berusia 25-30 tahun. Artinya, sekitar 49 persen dari pendukung sepak bola ini adalah generasi milenial yang lahir setelah tahun 1980,” tukasnya.

Menurut Dodik, situasi yang tidak berbeda jauh tentunya juga terlihat di Indonesia. Generasi produktif ini faktanya adalah calon pemilih terbesar pada pemilu tahun 2024. Seperti disampaikan oleh anggota KPU August Mellaz, 60 persen pemilih pada pemilu mendatang adalah pemilih yang berusia 17-40 tahun.

“Sebagian besar calon pemilih ini tidak lain adalah pendukung sepak bola. Untuk itulah, para politisi yang sebelumnya berlomba-lomba meraih simpati segmen ini berpotensi menemui kebuntuan. Bahkan, solidaritas kelompok ini bisa menjadi gerakan perlawanan politik untuk menyasar pihak-pihak yang dianggap telah berkontribusi mengganggu agenda sepak bola nasional,” tandasnya. (F-2)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Koalisi Antikorupsi Minta KPK Cegah dan Desak Presiden Copot Wamenkumham!

Next Post

Bola, Identitas dan Industri

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Birokrasi

Menyoal Paradoks Regulasi di Sektor Multinasional

May 1, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Lima Laga Bola Harus Ditonton Akhir Pekan ini

Bola, Identitas dan Industri

Rafael Alun Trisambodo Hadir di KPK Untuk Diperiksa Sebagai Tersangka

Rafael Alun Akhirnya Harus Mendekam di Tahanan KPK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist