FusilatNews – Di tengah semarak Idul Adha, ketika bilah-bilah pisau diasah dan tali-temali diikat erat di leher sapi dan kambing, muncul satu pertanyaan yang, bagi sebagian orang, terdengar begitu tololnya hingga pantas dicap sesat bin pandir: bolehkah berkurban dengan sayur-mayur?
Pertanyaan ini, dalam hitungan detik, mungkin langsung ditolak mentah-mentah oleh para penjaga gawang akidah—dituding tidak nyunah, tidak sesuai contoh, bid’ah, bahkan sesat menyesatkan. Seolah-olah Tuhan hanya menghargai darah dan daging, dan menutup rapat pintu ampunan dan ridha bagi seikat bayam atau sekeranjang tomat yang diserahkan dengan niat paling suci.
Namun benarkah Tuhan begitu? Bukankah dalam kitab suci—yang oleh para ustaz diglorifikasi setiap khutbah—Tuhan sendiri sudah menyatakan bahwa yang Dia terima dari kurban bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan dan keikhlasannya?
Lalu kenapa kita begitu mudah mengkafani makna dengan bungkus formalitas? Mengapa contoh (hewan ternak) disulap menjadi satu-satunya syarat sah, bukan sekadar simbol? Apakah ini karena manusia lebih suka aturan yang kaku, yang bisa diukur dan dihitung, ketimbang makna yang cair, yang menuntut renungan dan keikhlasan batin?
Tentu, tak ada yang menyangkal bahwa Idul Adha punya sejarah dan teladan—kisah Ismail dan Ibrahim, ujian pengorbanan yang begitu besar hingga Allah menggantikan nyawa anak dengan domba. Tapi apakah kita, manusia era plastik dan algoritma ini, masih memaknainya sebagai pengorbanan, atau sekadar rutinitas sosial tahunan yang disertai unggahan foto dan stiker bertuliskan “Sapi Kurban Keluarga Besar…”?
Pertanyaan soal sayur-mayur bukan soal kelakar, apalagi kebodohan. Ia adalah tamparan: bagaimana jika yang punya niat tulus tak punya cukup uang untuk membeli kambing? Bagaimana jika pengorbanan seseorang justru adalah menyerahkan seluruh hasil kebunnya kepada fakir miskin, demi memenuhi hak sosial yang Tuhan amanahkan lewat ibadah ini?
Apakah kurban harus selalu berdarah-darah untuk sah? Ataukah kita yang terlalu beku dalam memaknai agama, sehingga tak mampu membedakan mana simbol, mana esensi?
Tentu, agama bukan sekadar logika. Tapi menanggalkan akal atas nama dogma juga bukan bentuk takwa. Kita terlalu sering memvonis orang yang berpikir dengan istilah sesat dan bid’ah, seakan jalan menuju Tuhan cuma satu lorong sempit yang sudah dikunci oleh para pemilik kebenaran.
Maka, bolehlah kita tetap berkurban dengan kambing dan sapi, sebagaimana contoh dari Rasul. Tapi janganlah kita menertawakan, apalagi merendahkan mereka yang berani bertanya: bolehkah berkurban dengan sayur-mayur?
Sebab boleh jadi, di mata Tuhan, seikat bayam yang diserahkan dengan air mata dan niat paling tulus, jauh lebih harum dari seratus kilo daging sapi yang dibeli dengan niat pamer.






















