Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media

Jakarta – “Saya bilang ini pembreidelan,” kata perupa senior Yos Suprapto (72) seperti dilansir sebuah media, Jumat (20/12/2024).
Breidel, dari pembreidelan, adalah istilah dalam bahasa Belanda yang berarti pemberangusan, pelarangan, atau pembatasan terhadap media massa atau produk pers, yang biasanya mengacu pada barang cetakan, seperti surat kabar dan buku.
Yos, yang sedianya menggelar pameran tunggal bertajuk, “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional, Jakarta, 20 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025, terpaksa harus gulung tikar. Yos dibreidel.
Pasalnya, beberapa menit menjelang pameran dibuka oleh budayawan Erros Djarot, Kamis (19/12/2024) malam, tiba-tiba Galeri Nasional membatalkan acara pameran tunggal tersebut.
Pintu kaca Gedung A Galeri Nasional tempat pameran akan dihelat digembok. Lampu-lampu dimatikan. Padahal sudah banyak pengunjung yang datang untuk menyaksikan pameran, termasuk dari luar negeri yang difasilitasi oleh Yos sendiri.
Musababnya, Yos pecah kongsi dengan sang kurator pameran: Suwarno Wisetrotomo!
Mulanya, Suwarno meminta dua lukisan Yos berjudul “Konoha I” dan “Konoha II” diturunkan dari dinding galeri. Yos keberatan. Setelah negosiasi, akhirnya disepakati dua lukisan itu ditutup kain hitam. Yos ikhlas.
Tapi, sang kurator “ngelunjak”. Suwarno minta tiga lukisan Yos lainnya juga ditutup kain hitam. Yos menolak. Mendingan tidak pameran sekalian daripada lima dari 30 lukisan yang dipamerkan itu harus ditutup kain hitam, kata Yos.
Kongsi pun benar-benar pecah. Suwarno, yang dutunjuk Galeri Nasional sebagai kurator pameran, mengundurkan diri. Yos benar-benar gulung tikar. Yos dibreidel.
Suwarno berdalih, lima dari 30 lukisan Yos yang ia minta ditutup kain hitam itu terlalu vulgar dan menyinggung kekuasaan, sehingga melenceng dari tema pameran yang lebih mengedepankan metafora.
Diketahui, salah satu lukisan yang mulanya diminta diturunkan itu menggambarkan sosok diduga Joko Widodo, Presiden ke-7 RI, mengenakan kostum raja sedang duduk di singgasana kekuasaan sambil kedua kakinya menginjak dua sosok manusia.
Saat menyampaikan sambutan darurat di luar ruang pameran, Erros Djarot menyatakan apa yang dilakukan Suwarno Wisetrotomo itu merupakan ekspresi ketakutan yang berlebihan dari sang kurator.
Erros memang pernah mengalami betapa sakitnya dibreidel saat tabloid mingguannya, “Detik”, dibreidel pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1994. Bersama Majalah “Tempo” dan “Editor” yang saat itu juga dibreidel, “Detik” mengkritisi pembelian 39 unit kapal bekas dari Jerman Timur oleh BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi saat itu.
Yos, pelukis kelahiran Surabaya, Jawa Timur, tahun 1952 lalu yang pernah 25 tahun tinggal di Australia dan kini menetap di Yogyakarta itu sedari awal debutnya sebagai perupa tahun 1970-an memang dikenal kritis terhadap pemerintah. Tak terkecuali di rezim Orde Baru dulu, dan kini di rezim Presiden Prabowo Subianto yang adalah bekas menantu Soeharto, mendiang penguasa Orde Baru.
Pemerintahan Prabowo adalah kelanjutan dari pemerintahan Jokowi, sehingga masuk akal jika ada “invisible hands” atau tangan-tangan tak kelihatan yang mencoba membreidel pameran lukisan Yos Suprapto yang menyinggung penguasa dan bekas penguasa.
Ini bukan pertama kali Yos unjuk gigi (pameran) di Galeri Nasional. Namun, pasca-pembreidelan ini, Yos mengaku tak mau lagi berurusan dengan Galeri Nasional dan Menteri Kebudayaan.
Menteri Kebudayaan saat ini adalah Fadli Zon, orang dekat Prabowo.
Apakah enggannya Yos berurusan dengan Menteri Kebudayaan itu lantaran ia merasa ada campur tangan dari penguasa sehingga pameran tunggalnya dibreidel? Kita tidak tahu pasti.
Yang pasti, jika Fadli Zon campur tangan dan berujung pada pembreidelan itu, jelas ironis. Sebab, Fadli Zon sendiri bisa disebut sebagai pelaku budaya. Politikus Partai Gerindra itu merupakan kolektor Keris, senjata tradisional etnis Jawa yang merupakan warisan budaya leluhur bangsa.
Ironis pula, karena di era demokrasi ini masih saja terjadi pembreidelan, seperti sering terjadi di era Soeharto.
Dan juga di Uni Sovyet, kini Rusia, era Joseph Stalin dulu. Dan juga di Jerman era Adolf Hitler dulu.
Jika memang pembreidelan pameran lukisan Yos Suprapto itu atas cawe-cawe, intervensi, atau campur tangan kekuasaan, lalu ada apa dengan Prabowo Subianto?
Apakah cara-cara militeristik akan diterapkan dalam pemerintahan Anda?
Di era Prabowo ini, bahkan sejak era Jokowi, bangkitnya gaya-gaya militeristik memang mulai kelihatan. Banyak pos-pos jabatan sipil yang diduduki polisi atau tentara, baik yang masih aktif atau pun yang sudah purna.
Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, yang berlatar belakang militer seperti Prabowo, juga mulai menggunakan gaya-gaya non-sipil dalam menghadapi media massa.
Apakah pembreidelan Yos Suprapto akan berlanjut ke perupa-perupa lainnya, bahkan ke media massa? Kita tunggu saja tanggal mainnya!
























