FusilatNews- Pergerakan digital di Indonesia dapat dikatakan terus mengalami perkembangan yang pesat, salah satunya bidang jasa keuangan dengan sentuhan teknologi modern, seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini didominasi oleh pengguna teknologi informasi tuntutan hidup yang serba cepat. Lahirlah FinTech, permasalahan dalam transaksi jual-beli dan pembayaran seperti tidak sempat mencari barang ke tempat perbelanjaan, ke bank/ATM untuk mentransfer dana, keengganan mengunjungi suatu tempat karena pelayanan yang kurang menyenangkan dapat diminimalkan. Dengan kata lain, FinTech membantu transaksi jual beli dan sistem pembayaran menjadi lebih efisien dan ekonomis namun tetap efektif.
Semakin efesien dalam transaksi tentu saja data menjadi hal yang krusial, Data merupakan aspek utama yang diperlukan perusahaan jasa teknologi digital atau financial technologi (Fintech). Tapi perlu diketahui, ternyata bukan KTP yang menjadi icaran para perusahaan tersebut.
Perusahaan fintech perlu untuk memiliki data terlengkap dan akurat sebagai jaminan keamanan demi kelancaran pembayaran dari para debitur. Hal itu bukan hanya sebagai kunci keberhasilan bisnis, namun juga tuntutan dari regulator sektor keuangan.
Business Development Director Advance.ai Ronald Molenaar menjelaskan, fintech menggunakan data dalam proses know-your-customer secara digital. Perusahaan didorong menggunakan metode serta data alternatif untuk memastikan identitas calon pengguna.
Fintech menggunakan metode jarak jauh untuk melakukan verifikasi, kartu identitas yang diterbitkan negara seperti KTP, SIM, atau Paspor, dengan meminta pengguna menunjukkannya pada kamera ponsel.
Namun data KTP tidak begitu bisa diandalkan. Khususnya alamat, padahal perusahaan sangat membutuhkannya misalnya untuk penagihan lewat surat atau secara langsung.
Oleh sebab itu, dia menjelaskan fintech diharuskan memiliki data alamat seakurat mungkin. Salah satu alamat paling akurat yang ada dimiliki oleh perusahaan e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee.
Data alamat di KTP biasanya tidak bisa jadi acuan untuk domisili pemiliknya. Sementara itu, untuk alamat yang diberikan pada e-commerce biasanya lebih akurat untuk tujuan pengiriman barang.
“Karena itu, sekarang Toko Score, data mereka paling dicari,” kata Molenaar beberapa waktu lalu.
Namun sebagai catatan fintech tidak bisa mengakses data yang dimiliki e-commerce. Hanya dapat melakukan verifikasi yang diserahkan pengguna ke mereka dengan data yang dimiliki entitas lain.


























