Oleh: Entang Sastraatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
“Keren!” Begitulah ekspresi spontan yang biasa kita ucapkan saat menyaksikan sebuah pencapaian luar biasa. Kata ini bukan sekadar pujian, tapi pernyataan penuh kekaguman terhadap suatu prestasi yang tak lazim. Dalam konteks ketahanan pangan nasional, kata “keren” patut kita sematkan kepada Perum Bulog.
Dalam beberapa pekan terakhir, Bulog menjadi sorotan karena berhasil mencetak sejarah baru: menyerap 2 juta ton beras petani lokal hingga awal Mei 2025. Angka ini bukan main-main—ini adalah rekor tertinggi sejak Bulog berdiri 57 tahun silam. Dampaknya, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kini menembus angka 3,6 juta ton.
Pujian pun datang dari berbagai penjuru. Menteri BUMN Erick Thohir termasuk yang mengapresiasi pencapaian tersebut. Penyerapan besar-besaran ini dilakukan melalui berbagai strategi jitu, seperti pembelian langsung dari petani dan kelompok tani, serta kerja sama dengan penggilingan padi di seluruh Indonesia.
Menurut laporan detikFinance, hingga awal Mei 2025 Bulog telah menyerap 2.000.524 ton beras. Direktur Pengadaan Bulog, Prihasto Setyanto, menyebut capaian ini sebagai titik tertinggi sepanjang sejarah lembaga tersebut berdiri. Artinya, Bulog kini memikul beban besar: bukan hanya menjaga harga gabah di tingkat petani, tapi juga memastikan pasokan beras nasional tetap aman.
Tentu keberhasilan ini tak lepas dari pembenahan internal yang dilakukan sebelumnya. Pemerintah secara radikal merombak jajaran direksi dan dewan pengawas Bulog. Direktur Utama diganti. Dewan Pengawas direset. Bahkan, jabatan Dirut dipercayakan kepada seorang perwira aktif: Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito. Penunjukan ini sempat menimbulkan perdebatan, terutama menyangkut payung hukum penugasan militer aktif di BUMN.
Namun, lima bulan setelah penunjukannya, hasilnya mulai terlihat. Kepemimpinan militer yang kuat dan tegas, didukung Ketua Dewas yang energik, terbukti mempercepat manuver Bulog. Dengan sokongan Menteri Pertanian, Bulog seperti mendapat angin besar untuk berlayar lebih jauh.
Lalu apa kunci suksesnya? Setidaknya lima hal patut dicatat:
- Harga kompetitif, membuat petani lebih memilih menjual ke Bulog.
- Jaringan distribusi luas, menjangkau pelosok-pelosok desa.
- Kemitraan strategis, membangun relasi yang sehat dengan petani.
- Sistem pengadaan efektif, mempercepat proses serapan.
- Dukungan politik dan birokrasi, memperkuat daya dorong Bulog.
Namun capaian ini baru separuh jalan. Pertanyaannya sekarang: siapkah Bulog mengelola gudang penyimpanan sebanyak itu? Di sinilah tantangan baru dimulai.
Permasalahan penyimpanan sempat menjadi diskusi nasional. Kapasitas gudang terbatas, infrastruktur belum merata, dan tenaga lapangan belum tentu mencukupi. Sebagai solusi jangka menengah, Presiden terpilih Prabowo Subianto mewacanakan pembangunan 25 ribu gudang alternatif di berbagai daerah.
Namun membangun gudang itu satu hal, mengelolanya secara efisien adalah cerita lain. Bila sukses penyerapan tidak diimbangi sukses penyimpanan, maka hasil panen hanya akan berakhir sebagai angka statistik, bukan cadangan strategis.
Akhirnya, mari kita sambut capaian ini sebagai kabar baik—sekaligus ujian konsistensi. Semoga Bulog tak hanya sukses menyerap, tetapi juga mampu menjaga, menyimpan, dan menyalurkan beras dengan bijak demi keberkahan negeri.

Oleh: Entang Sastraatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat





















